Wawancara Dengan Dr. William P. Sabandar – (2)

Tuesday, December 4, 2007
By nias

Pelibatan Masyarakat Nias

Seberapa jauh pelibatan masyarakat di kepulauan Nias sejak strategi pendekatan diubah dalam tahun 2007 ini? Bagaimana dampaknya?

Pada tahun 2007 kita mulai menerapkan pendekatan baru dalam program bantuan pembangunan perumahan penduduk, yaitu melalui Community driven approach. Masyarakat diberikan kewenangan untuk membangun rumah mereka sendiri, yang dimulai dengan proses musyawarah desa untuk menentukan penerima manfaat hingga pembangunan fisik rumah.

Dalam proses pembangunan rumah dan pengorganisasian masyarakat, BRR membantu melalui tenaga fasilitator. Fasilitator terdiri dari fasilitator teknik dan fasilitator sosial. Fasilitator bersama kader desa senantiasa menemani keluarga yang mendapat bantuan pembangunan rumah, baik dari sisi teknis maupun pengorganisasian.

Ada empat tujuan utama yang hendak dicapai melalui pendekatan ini, yaitu: Pertama, tepat sasaran penerima bantuan perumahan. Kedua, peningkatan kualitas bangunan. Ketiga, menumbuhkan/memperkuat kelembagaan sosial. Keempat, membantu perekonomian desa, karena dana bantuan pembangunan rumah beredar secara maksimal di desa.

Dengan kata lain, melalui pendekatan ini, bukan hanya output fisik bangunan rumah yang baik yang dihasilkan, melainkan penguatan kelembagaan sosial serta membantu memulihkan perekonomian masyarakat.

Evaluasi terhadap beberapa program bantuan pembangunan rumah dengan community driven approach di beberapa desa di Kec. Gido, Teluk Dalam dan Lolowau, menunjukan hasil yang baik. Kualitas bangunan rumah mengalami peningkatan dan masyarakat/penerima manfaat puas dengan proses maupun hasil yang dicapai.

Selain perumahan, sektor lain juga melaksanakan pendekatan serupa, seperti pada beberapa program pembangunan irigasi dan pengairan. Pendekatan program berbasis masyarakat ini bahkan jauh sebelumnya telah diterapkan oleh mitra-mitra BRR, seperti lembaga-lemabaga PBB, Palang Merah dan NGO.

Kami sedang mengusahakan agar sektor infrastruktur sederhana lainnya, seperti pembangunan jalan dan jembatan di lingkungan desa dapat menerapkan pendekatan berbasis masyaraka, seperti pembangun jalan dan jembatan lingkungan perumahan penduduk.

William P. Sabandar sedang menjelaskan pembangunan kantor Bupati Nias
yang sedang berlangsung kepada seorang anggota DPR RI, Juni 2007

Banyak keluhan para pengusaha putra Daerah Nias bahwa mereka sangat sedikit dilibatkan dalam melaksanakan projek-projek BRR. Bahkan ada yang mensinyalir mereka ini “kalah bersaing secara tidak fair” ? Bagaimana menurut Pak Willy ?

Pada kenyataannya, dari komposisi rekanan yang terlibat dalam proyek-proyek RR secara dominan melibatkan rekanan lokal. Apakah itu melalui perusahaan yang beralamat lokal Nias atau beralamat di Medan atau Jakarta. Sangat sulit mengidentifikasi hal ini, karena banyak perusahaan luar yang dipinjam pake oleh orang lokal untuk memenuhi syarat formal memenangkan tender.

Pada tahun 2007 misalnya, dari 323 paket proyek terdapat setidaknya 121 penyedia jasa lokal dan sisanya adalah non lokal. Tetapi data seperti ini sulit menjawab pertanyaan Anda, karena hanya berdasarkan alamat perusahaan. Pada kenyataannya, terdapat banyak peruhaan yang beralamat dari luar tetapi dilaksanakan oleh orang lokal.

Rekanan lokal sejak semula mendapat perhatian. Prioritas justru diberikan kepada rekanan lokal. Kesulitan yang sering muncul adalah, kontraktor lokal tidak memiliki kapasitas untuk melaksanakan proyek-proyek besar, seperti proyek jalan propinsi atau pelabuhan.

Keluhan mengenai proses tender tidak fair dan lain-lain, sebenarnya tidaklah berdasar. Justru sebaliknya, kesempatan telah diberikan, namun tanggungjawab untuk melaksanakan kepercayaan yang diberikan sangat mengkhawatirkan.

Hal ini dapat dinilai dari berbagai permasalahan yang muncul pada pembangunan perumahan pada TA 2005. Atau, baru-baru ini Unit Pengawasan Internal (UPI) BRR Perwakilan Nias menemukan lagi adanya 5 bangunan SD proyek tahun 2006 yang telah rusak karena dikerjaakan asal jadi oleh kontraktor-kontraktor lokal.

Tetapi hal ini sebenarnya masalah bagi dunia jasa kontruksi pada umumnya. Cukup banyak juga kontraktor non lokal yang tidak bertanggungjawab. Seperti proyek jalan kabupaten di Nias dan Nias Selatan yang kini progresnya sangat minim.

Menurut hemat kami, persoalan pokoknya bukan mengenai lokal atau non lokal. Juga bukan masalah fair atau tidak fair. Tetapi pada ketentuan hukum terkait tender dan pelaksanaan proyek. Aturan main formal yang ada justru membuka peluang bagi kontraktor yang dapat memenuhi syarat formal namun tidak memiliki kualitas dan tanggungjawab terhadap pekerjaan yang diberikan. Para rekanan memanfaatkan peluang ini dan BRR harus taat dengan ketentuan baku tersebut.

Pelibatan Pengusaha Jasa Konstruksi Lokal dalam
Nias Islands Stakeholder Meeting (NISM) II, Januari 2006

Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dan Pemerataan

Kehadiran program RR Nias merupakan kesempatan emas yang mungkin tak pernah lagi datang untuk masyarakt Nias. Rumah-rumah warga dibangun kembali … berbagai sarana dan prasarana umum dibangun.. Namun ada semacam keraguan, BRR Nias kurang memperhatikan segi pemerataan dalam merancang RR Nias. Misalnya saja, kriteria “rumah yang akan dibangun kembali oleh BRR Nias adalah rumah yang hancur akibat gempa”. Kalau ini yang menjadi patokan utama, maka bisa jadi banyak masyarakat miskin yang seharusnya mendapat kucuran dana BRR tidak akan pernah menikmati makna kehadiran BRR di Nias. Masyarakat dalam kelompok ini tidak memiliki rumah yang “bisa” hancur akibat gempa, karena rumah-rumah mereka sangat sederhana. Misalkan saja masyarakat yang miskin yang sebelum gempa tinggal di pondok-pondok (ose), demikian juga para nelayan yang tinggal di tepi-tepi pantai. Adakah program khusus bagi mereka ini ?

BRR adalah badan yang yang secara khusus dibentuk untuk menangani pembangunan kembali NAD dan Nias pasca bencana. Karena itu, sesuai fungsinya, badan ini dinamakan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Sedangkan hak masyarakat miskin yang disebutkan pada pertanyaan di atas merupakan tanggungjawab pembangunan oleh pemerintah.

Sebagaimana mandat yang diberikan dan rencana induk rehabilitasi dan rekonstruksi, maka hanya mereka yang rumahnya hancur yang akan dibangun. Untuk mendapatkan bantuan perumahan, masyarakat harus dapat menunjukan bukti-bukti yang memadai bahwa rumah mereka memang hancur/rusak karena bencana Tsunami 26 Desember 2004 dan Gempa Bumi 28 Maret 2005.

Pembangunan rumah yang layak kepada penduduk miskin sebagaimana dimaksudkan, mungkin lebih tepat merupakan tanggungjawab pemerintah yang tidak terkait dengan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

Apa dan bagaimana strategi BRR Nias untuk memberdayakan ekonomi masyarakat Nias yang sebagian besar adalah petani ? Apakah strategi BRR Nias ini didukung oleh studi ilmiah ?

Tanggungjawab utama BRR adalah membangun kembali infrastruktur ekonomi yang hancur/rusak karena bencana tsunami dan gempa lebih dua tahun silam.

Melalui pembangunan insfrastruktur ekonomi yang lebih baik diharapkan perekonomian masyarakat desa dan masyarakat Nias secara keseluruhan dapat terbantu.

BRR Perwakilan Nias menetapkan 4 pilar dan 10 program utama sebagai konsep rehabilitasi dan rekonstruksi Nias. Ke-4 pilar tersebut adalah, (1) Perumahan dan pemukiman yang sehat, (2) Infrastruktur ekonomi, (3) Pengembangan ekonom, (4) SDM dan kelembagaan.

Sedangkan ke-10 program utama adalah: (1) perumahan dan pemukiman, (2) Sanitasi dan lingkungan, (3) Transportasi, (4) Kelistrikan dan telekomunikasi, (5) Infrastruktur irigasi, (6) Pengamanan pantai/sungai dan bangunan umum, (7) Revitalisasi pendidikan, (8) Penguatan kelembagaan pemerintahan daerah, (9) Revitalisasi kebudayaan, (10) Revitalisasi RSU Gunungsitoli dan pengembangan kesehatan berenjang.

Pada tahun 2007, BRR Perwakilan Nias menetapkan 3 program prioritas yakni: transportasi, perumahan dan kesehatan. Tiga program prioritas ini merupakan satu kesatuan yang terintegrasi yang kami persiapkan untuk memberikan landasan pembangunan berkelanjutan di Nias.

Konsep RR Nias ini kami susun berdasarkan kepentingan praktis untuk memanfaatkan secara maksimal peluang pembangunan kembali pasca bencana yang tersedia, sambil mempersiapkan landasan untuk pembangunan berkelanjutan di Nias.

Sementara itu, studi-studi ilmiah telah kami sponsori untuk mengkaji secara lebih konprehensif konsep pembangunan di Nias pada masa mendatang. Seperti studi mengenai tata ruang atau studi mengenai pengembangan ekonomi wilayah Nias kerjasama dengan Universitas Indonesia. Studi-studi ilmiah tersebut bukan hanya di Nias daratan, tetapi juga menurut rencana akan kami laksanakan khusus untuk Kepulauan Tello (Kepulauan Batu – Red).

Berapa persen pagu dana RR Nias yang dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat?

Secara keseluruhan sesuai action plan RR Nias, maka pagu dana untuk pemberdayaan ekonomi rakyat secara langsung adalah sebesar 8,57 persen. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel action plan RR Nias 2005-2009 (Lihat Tabel 1).

Anggaran untuk pemberdayaan ekonomi rakyat memang kecil dari dana on budget yang memang telah ditetapkan sesuai rencana induk RR maupun action plan yang disusun oleh pemerintah RI.

Pembangunan ekonomi rakyat memang merupakan bidang yang berbeda, namun apa yang bisa dilakukan BRR saat ini adalah membangun infrastruktur ekonomi yang strategis, yang dapat memicu pertumbuhan perekonomian masyarakat di wilayah ini.

Pengembangan transportasi secara hirarkhis dengan pendekatan berbasis kepulauan kami kembangkan untuk memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat yang saling mengikat dan mendukung antara satu wilayah dengan wilayah yang lain, baik di dalam Nias maupun keterkaitan dengan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan ekonomi di luar Nias.

Sementara BRR lebih memprioritaskan pada pembangunan infrastruktur strategis, mitra BRR yang lain, justru secara signifikan memberikan perhatian pada sektor pengembangan ekonomi masyarakat, sebagaimana dapat dilihat pada diagram berikut:

Adakah alokasi dana yang khusus bagi pengembangan potensi kelautan Nias? Apa saja program BRR di bidang ini?

Tidak ada dana khusus yang dialokasikan untuk pengembangan potensi kelautan Nias. Apa yang dilakukan BRR adalah membangun infrastruktur yang mendukung pengembangan sektor ini, seperti pembangunan pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan dan program-program bidang ekonomi, yaitu pergantian perahu dan fasilitasnya dalam rangka rehabilitasi livelihood para nelayan.

(Bersambung)

One Response to “Wawancara Dengan Dr. William P. Sabandar – (2)”

  1. 1
    fransiskus adii Says:

    I am very glad wiht your activiti and when I will meet you

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31