Gempa Berkekuatan 9 SR Bisa Terjadi di Mentawai

Tuesday, December 4, 2007
By nias

JAKARTA–MEDIA: Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Danny Hilman Natawijaya memperkirakan gempa berkekuatan 9 Skala Richter (SR), bisa terjadi di Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) setelah melihat siklusnya selama ini.

“Gempa kekuatan itu bisa dirasakan di Bengkulu dan Padang dengan kekuatan setara VIII MMI (Modified Mercalli Intensity) yang disusul dengan gelombang tsunami,” katanya pada Seminar Geoteknologi “Kontribusi Ilmu Kebumian dalam Pembangunan Berkelanjutan”, di Bandung, Senin.

Gelombang tsunami di Padang akan mencapai ketinggian empat meter dan pergerakannya sekitar 1,5 kilometer dari pantai, sedangkan untuk Bengkulu bisa lebih tinggi yang mencapai tujuh meter. Lebih dekatnya pergerakan di Padang itu, kata dia, terkait adanya sejumlah pulau yang berada di depannya, seperti, Kepulauan Mentawai.

Sumber gempa itu sendiri, diduga di bawah Pulau Mentawai dengan kedalaman antara 20-30 kilometer. Perkiraan itu, kata dia, terbukti dari saat gempa besar di kawasan Kepulauan Mentawai pada 12 September 2007 dengan kekuatan 8,4 SR, gempa itu terjadi setelah rentetan gempa besar di Aceh dan Nias pada 2004 dan 2005.

“Gempa berskala 8,4 SR itu, kemudian diikuti oleh banyak gempa susulan yang muncul sambung-menyambung di wilayah sekitar lempeng yang pecah. Yang mengagetkan, sekitar 12 jam kemudian, sebuah gempa besar lagi dengan skala magnitudo 7,8 SR kembali,” katanya.

Gempa inilah yang banyak menimbulkan kerusakan bangunan di Kota Padang karena meskipun lebih kecil tapi letak episentrumnya di sekitar Pulau Pagai Selatan yang lebih dekat dengan Padang.

Gempa ini sukar untuk diklasifikasikan sebagai gempa susulan karena skalanya terlalu besar. Pada umumnya gempa susulan paling besar adalah satu skala di bawah gempa utamanya, yakni 7,4 SR, bahkan lebih umum cenderung dua skala atau lebih di bawah skala gempa utama,” katanya.

“Yang menjadi pertanyaan apakah ancaman dari rentetan gempa-gempa ini sudah berakhir? Kita semua berharap demikian, tapi data dan praduga ilmiah menunjukkan sebaliknya. Gempa raksasa yang “bertapa” sejak terakhir bangun di tahun 1797 dan 1833 ternyata belum sepenuhnya terusik,” katanya.

Hal ini terlihat dar hasil plotting dari gempa-gempa yang sudah terjadi, dan tampaknya baru melepaskan akumulasi energi yang terkumpul di bagian pinggirannya saja.

Gempa yang bermula dari kakinya di ujung selatan, sekarang ini terlihat menyebar dan mengepung bagian badan dan kepala “sang raksasa”, yakni di bawah Pulau Siberut, Sipora dan Pagai.

“Bidang sumber gempa di Mentawai itu 12-15 derajat yang setiap tahunnya terjadi pergeseran lima centimeter, untuk gempa antara 1797-1833 telah terjadi pergeseran 10 meter. Setiap dihajar gempa maka pergeseran itu akan turun,” katanya. (Ant/OL-1)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31