* Dalam kumpulan puisi “Kau Kupanggil Anak Manis

Sosoknya sederhana, seperti guru desa lainnya. Lahir dan besar di Nias, tepatnya Desa Sifahando Kecamatan Tuhemberua, 39 tahun yang lalu. Tempat yang jauh di sudut utara pulau Nias tersebut, tidak membuat sang guru kehilangan motifasi untuk berkarya. Tepatnya di pengingatan Hari Guru Nasional 22 November 2007, Guru alumni SPG Gunungsitoli tahun 1988 ini dipanggil ke Jakarta oleh Pusat Perbukuan Nasional Depdiknas untuk diuji dan dievaluasi hasil karyanya dan kemudian diterbitkan.

Karya luar biasa tersebut adalah sembilah puluhan judul/naskah puisi anak-anak, yang disusun dalam sebuah kumpulan puisi dengan judul “Kau Kupanggil Anak Manis”. Setelah mengikuti workshop dan tahapan evaluasi, sang Guru yang seharinya-harinya juga menjabat kepala sekolah SDN Sifahando ini mendapatkan peringkat terbaik dua nasional. Hasil karya sang Guru yang diketik rapih dengan mesin ketik manual tersebut diputuskan untuk diterbitkan sebagai salah satu buku pengayaan siswa sekolah dasar se-Indonesia.

Mengagumkan memang, dengan segala keterbatasan untuk berkarya, Guru Ahmad Tarzim Telaumbanua (ATT) ini menghasilkan karya sastra yang orisinil dan menyentuh tajam tema dasar pendidikan anak bangsa. Berikut wawancara santai Ilham Mendröfa dari Situs Yaahowu dengan beliau sesaat setelah menyelesaikan lomba di Jakarta.

Bagaimana cerita awal keikutsertaan Bapak dalam lomba ini?
Saya mendapat informasi di Dinas Pendidikan Kecamatan, kemudian saya pikir saya mencoba mengikuti lomba dan menyiapkan semuanya sesuai petunjuk brosur yang dikeluarkan panitia. Naskah saya kirim 15 Augustus 2007 setelah hampir satu bulan saya menyusun naskah sesuai tema yang diminta.

Kenapa bapak tertarik membuat naskah puisi?
Saya memilih puisi, karena temanya sangat tepat dengan keinginan saya untuk mendorong siswa berprestasi, berkualitas dan berakhlaq. Karena puisi pada dasarnya mempunyai daya sentuh yang sensitif dalam jiwa anak-anak. Puisi yang sudah dihayati sejak kecil bisa berpengaruh dalam perkembangn jiwa dan kepribadinnya sampai anak menjadi dewasa.

Puisi Bapak memiliki nilai sastra yang tinggi, dari mana inspirasi pembuatan puisi ini bisa muncul?
Pertama saya olah sesuai tema, dengan sedikit bakat menulis puisi dan terlatih sejak menjalani pendidikan SPG, maka tema tersebut dengan mudah terwujud dalam sajak-sajak puisi. Kedua, saya terbantu dengan tempat domisili penulis yang alamnya indah dan menjadi inspirasi tersendiri dalam menulis. Terakhir, tema puisi dari panitia sangat membantu untuk menyusun kerangka penulisan naskah.

Adakah makna tersembunyi dalam kata-kata “manis” seperti yang termuat dalam tema puisi bapak?
Kata-kata manis adalah kata-kata yang sangat saya suka. Menggambarkan harapan saya yang begitu besar, agar anak-anak bangsa bisa tumbuh menjadi pribadi beriman, berakhlaq mulia dan berkualitas. Karena ini modal dasar untuk membangun negreri dimasa depan.

Bagaimana kondisi pendidikan di Nias yang Bapak rasakan?
Kondisi pendidikan bisa dikatakan sedikit tertinggal dibanding daerah lain. Dari segi mutu pendidikan misalnya. Lembaga pendidikan kita sangat terbatas sarana dan prasarananya, kurangnya tenaga kependidikan khsusnya di daerah pelosok. Faktor lainnya adalah kesadaran masyarakat yang kurang mendukung kepentingan pendidikan misalnya pembinaan terhadap anak di luar jam sekolah. Orang tua lebih menyuakai anak-anak membantu mencari nafkah. Dan kurangnya perhatian atau bimbingan orang tua atas tugas-tugas sekolah. Kemudian kurangnya kualitas dan kuantitas tenaga kependidikan di sekolah-sekolah pelosok, tidak ada pemerataan tenaga pengajar. Contohnya disekolah SDN Sifahando tempat saya bekerja, guru kelasnya hanya 2(dua) orang dengan siswa didik 160 orang.

Apa hal-hal yang Bapak anggap penting untuk memacu kreatifitas putera/i didik disekolah dasar di Nias?
Kreatifitas anak didik tidak terlepas dari kreatifitas guru, sehingga kualitas guru yang baik sangat mutlak. Hendaknya guru-guru mampu merangsang aktifitas siswa dengan memberikan tugas belajar yang interaktif dan merangsang minat baca. Persoalannya adalah koleksi buku di perpustakaan sekolah dasar sangat terbatas. Kita berharap ada lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat yang peduli terhadap keterbatasan buku-buku bacaaan yang meningkatkan kreatifitas anak didik.

Apa harapan Bapak setelah mengikuti lomba penulisan kali ini?
Kita berharap agar naskah ini diterbitkan dan disebar di seluruh sekolah dasar se-Indonesia. Selanjutnya, penulis berharap generasi bangsa dapat mengambil pelajaran dari karya sastra ini. Saya ingin Pusat Perbukuan Nasional dapat memfasilitasi hasil karya penulis yang terlebih-lebih mengandung informasi tentang Nias seperti cerita rakyat Nias yang selama ini tidak terdapat di perpustakan sekolah dasar di Indonesia. Dan khususnya kepada Pemerintah Daerah Nias untuk membina guru-guru yang mempunyai bakat seni dan menulis agar mempunyai ruang untuk terus berkarya.

Ada pesan khusus untuk masyarakat pendidikan di Nias?
Kita berharap Bupati dan Pemerintahan Daerah memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan pendidikan guru, contohnya izin belajar kuliah sarjana di Universitas Terbuka yang kurang direspon dengan baik oleh Bupati. Dan harapan kita kepada seluruh masyarakat Nias yang mempunyai kepentingan terhadap pendidikan Nias agar bisa bekerjasama dengan pihak sekolah dalam mensukseskan peningkatan kualitas pendidikan di Nias, seperti tidak mengahalangi anak didik untuk belajar disekolah setiap hari.

Setelah meminta izin sang Guru, kami menuliskan satu judul puisi yang kami anggap mewakili naskah ini, dengan judul A L A R M.

ALARM
Karya Ahmad Tarzim Telaumbanua (Nias, September 2007)

Aku si kecil calon teknologiwan
Akan kurancang satu alarm
Yang dipasang di dada kita
Akan bunyi menggelegar
Bila kita berbuat dosa

Aku si kecil calon teknologiwan
Akan kurancang satu alarm
Yang dipasang di jidat kita
Akan bunyi membahana
Bila kita mengundang bencana

Redaksi Situs Yaahowu mengucapkan SELAMAT atas keberhasilan Guru Ahmad Tarzim Telaumbanua, semoga menjadi inspirasi untuk masyarakat Nias lainnya untuk terus berprestasi. (i.thx)

Facebook Comments