Oleh Pdt. Em. HADA ANDRIATA

Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia (I Yohanes 2 : 16)

Kita sering menyaksikan kehidupan sesama kita di tengah masyarakat yang terasa janggal dan sulit kita pahami. Sebagai contoh, orang yang berkelakuan jujur, benar, rendah hati, penuh kasih terhadap sesamanya, namun ia justru mengalami banyak kesulitan. Ia hidup dalam perekonomian yang morat-marit, tempat tinggalnya bermasalah, pendidikan anak-anaknya kacau, dan sulit mendapat pekerjaan.

Apa yang diperjuangkan dan dilakukannya tidak mendapat penghargaan orang lain, dicemoohkan, dan dilecehkan karena status sosial ekonominya rendah. Saat ia meninggal dunia, pelayatnya pun sedikit dan sebentar lagi namanya dilupakan oleh sesama warga kampung.

Berbeda dengan orang yang sombong, curang, licik, kejam, kehidupannya bergemerlapan dengan harta, justru ia mendapat dukungan dan dielu-elukan oleh banyak orang. Apa yang diusahakannya selalu mendapat respons dari banyak orang, entah orang-orang dekatnya, maupun orang-orang yang sebenarnya tak mengenalnya sekalipun. Begitulah keanehan yang kita jumpai di dunia ini. Oleh karena itu, sebenarnya di mana rahasianya?

Menanggapi kenyataan semacam itu, ada orang yang berpendapat bahwa hal itu merupakan kehendak Allah. Akibatnya, jika terjadi sesuatu yang buruk dalam kehidupan manusia, orang pun cenderung menyalahkan Allah. Ada sejumlah pernyataan yang dialamatkan kepada Allah, misalnya Allah tak adil, Ia melupakan orang benar, Ia mengabaikan orang yang jujur, Ia telah menjadikan manusia seperti wayang yang dipermainkan-Nya, dll.

Khusus yang terakhir sering dikomentari orang dengan ucapan, “Hirup mah darma wawayangan bae”. Sekiranya semua pernyataan itu benar, manusia tak lebih sebagai benda mati yang tak berdaya dan Allah bertindak sewenang-wenang terhadap manusia. Padahal sebagaimana kita baca pada kutipan ayat di atas, jelas semua keinginan dan sikap yang buruk pada diri manusia itu bukan berasal dari Bapa yakni Tuhan Allah. Terlebih jika kita mengacu kepada sifat Allah yang Mahasuci, mustahil yang buruk dan jahat itu berasal dari Dia.

Oleh sebab itu, asal-muasal semua keinginan yang ada pada manusia itu berasal dari ulah manusia sendiri. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia diciptakan Allah dengan kebebasannya untuk berkeinginan yang baik atau berkeinginan yang jahat. Didorong oleh keinginannya itu, manusia pun dapat melakukan tindakan yang baik atau jahat.

Ternyata manusia justru lebih sering dan lebih banyak mengembangkan keinginan yang jahat dan melakukan perbuatan jahatnya itu di dalam dunia ini. Manusia memiliki akal budi yang dikaruniakan Allah, namun manusia mengabaikan peran akal budi itu dan kendati tak masuk akal, manusia tetap menjalankan praktik kejahatannya dengan cara-cara yang sadis, entah terhadap anggota keluarganya sendiri, terlebih terhadap orang-orang lain.

Berikutnya, Allah mengaruniakan firman-Nya yang dapat dibaca dan dipelajari oleh manusia. Namun sering manusia tak menaati firman-Nya itu dan melanggarnya tanpa rasa bersalah.

Ya, keinginan daging (tubuh) dan keinginan mata lebih menarik hati dan pikiran manusia, ketimbang rambu-rambu yang disediakan Allah agar tidak dilanggar. Demikian pula dengan keangkuhan hidup lebih menguasai diri manusia sehingga merajalela semua tindakan yang merusak di tengah komunitas manusia dalam bentuk perselisihan, persengketaan, dan peperangan.

Mengapa terjadi perkara-perkara yang tak sesuai dengan maksud Allah pada awal penciptaan manusia itu? Jawabannya, manusia telah jatuh ke dalam dosa, lalu semua olah pikiran, ucapan, dan tindakan manusia pun dipengaruhi oleh dosa-dosa itu.

Di lingkungan tertentu, kita jumpai ulah orang-orang muda dengan geng motornya yang dilakukan oleh senior-senior terhadap para juniornya dan mengingatkan kita kepada kasus STPDN dan IPDN pada masa lalu. Juga upaya untuk memenuhi keinginan mata dalam pelbagai fenomena mulai dari video porno, film-film layar lebar yang vulgar, hingga semua tampilan seronok yang disajikan dalam pelbagai pertunjukan. Kemudian keangkuhan hidup dalam bentuk tindak kriminal, pembalakan liar, sikap sok kuasa, penghinaan terhadap sesama, dll.

Bahkan, terdengar kata-kata orang yang menantang, “Mana mungkin ada orang yang berani mencegah aku berbuat demikian!” Sungguh menyedihkan praktik kehidupan semacam itu sehingga orang pun bertanya, “Beginikah wajah kehidupan orang di negeri kita?”

Selaku orang beriman, kita terpanggil untuk melakukan langkah-langkah untuk mengurangi dan jika mungkin mencegah semua keinginan yang buruk dan jahat itu. Kita berharap terjadi perbaikan di sana sini sehingga suasana kehidupan di negeri kita semakin baik, aman, dan nyaman. Untuk sampai pada langkah-langkah tersebut, kita perlu menggunakan pedoman firman Allah sehingga benar-benar ada kewibawaan di atas kita yang kita junjung tinggi.

Bukankah kita adalah umat dan bangsa yang beragama? Ajaran agama berperan besar dalam kehidupan kita. Wajarlah jika kita melakukan semua itu atas dasar ajaran agama demi perbaikan hidup bangsa kita dewasa ini dan untuk bekal anak cucu kita pada masa mendatang. Kiranya kita dengan penuh rasa tanggung jawab segera mewujudkannya, mengingat kita tak mungkin menunda-nundanya pada tahun depan.

Memang kita cukup jelas menerima pencerahan yang didasarkan pada ayat di atas bahwa keinginan-keinginan dan sikap itu bukan berasal dari Allah, melainkan dari dunia ini. Oleh karena itu, menjadi tugas kita agar yang berasal dari Allah yakni yang baik, yang adil, yang benar, dan yang berkenan kepada Allah itu, dapat kita realisasikan dalam kenyataan hidup kita masing-masing.

Lantas secara berantai kita kembangkan ke seluruh lapisan bangsa kita sehingga terjadilah proses yang menuju ke arah perbaikan itu. Kendati hasilnya tak dapat kita petik dalam waktu singkat, namun setidaknya kita melihat masa depan yang berpengharapan itu. Sungguh, sebuah langkah yang baik dan mudah-mudahan kita ikhlas melakukannya karena untuk itulah kita hadir di tengah masyarakat, bukan untuk mengembangkan keburukan dan kejahatan, melainkan untuk mengembangkan kebaikan dan kebenaran.

Kehidupan yang semacam inilah yang sebenarnya amat kita harapkan ada di tengah masyarakat kita, khususnya dewasa ini dan kita masing-masing menjadi para pelaksana untuk memperbaikinya. Amin.***

Penulis pendeta emeritus Gereja Kristen Pasundan Jemaat Awiligar Bandung. (Pikiran Rakyat, 24 November 2007)

Facebook Comments