(Bagian I)

Oleh: Noniawati Telaumbanua

1.Pendahuluan
Fakta pemanasan global yang menuai berbagai perubahan ekstrim dalam ekosistem ternyata bukan lagi sesuatu yang biasa dan tidak akan berlalu dalam waktu cepat. Ketidakramahan alam ini jelas menimpa hampir sebagian besar warga masyarakat yang tidak tahu apa yang disebut dengan slogan berupa „save the world“ atau „global warming“, pun secara tidak kebetulan kelompok masyarakat ini menetap dan tinggal di wilayah atau di negara berkembang dan miskin. Pengaruh perubahan iklim tersebut di atas mengguncang dan sebagai ancaman serius kehidupan masyarakat yang secara khusus tinggal di pulau-pulau atau pantai lautan bebas (WAIBEL 2005).

Alam yang berubah drastis dan menghasilkan reaksi alamiah seperti bencana alam, ternyata dalam beberapa kasus, seperti pada kasus gempa yang semakin intensif sejak 2004 hingga kini, pada prinsipnya, tidak bisa diprediksikan, kapan akan terjadi dan apa pencapaian kerugian yang mungkin diakibatkan kelak. Tema ini menjadi semakin ramai diperbincangkan dan bahkan telah membuat negara-negara maju cemas, karena bencana alam tidak memberi perkecualian lagi (bandingkan bencana badai yang di alami sejumlah kota di benua Amerika, Eropa dan terakhir di Banglades dalam kurun waktu 2006-2007). Tarik-menarik antarkepentingan pemenuhan kebutuhan dan kelangsungan hidup keseharian melalui pemanfaatan sumber daya alam yang kini sangat terbatas, ternyata paling diributkan oleh para petinggi seluruh negara adidaya, karena nilai konsumsi tertinggi berada di negara-negara ini. Konsumsi yang dimaksudkan adalah seperti minyak bumi. Sebaliknya, emisi gas tertinggi juga dihasilkan oleh negara-negara maju tadi (GRESH dkk. 2007) Pada negara-negara berkembang, eksplorasi dan eksploitasi yang berlebihan tanpa memberikan ruang gerak untuk reboisasi dan perhatian pada keterbatasan sumber alam akibat faktor ekonomis, juga menjadi masalah terbesar di tempat ini.

Usaha untuk menekan pemanasan global dan tuntutan aksi nyata untuk menyelamatkan planet bumi ini, menjadi diskusi besar di dalam masyarakat yang menyadari situasi tadi dan juga sebagai sebuah agenda penting semua negara, yang juga akan dibahas secara intensif di Bali dalam waktu dekat ini. Pola konsumsi di negara maju seperti di Eropa juga mulai bergerak berusaha menyesuaikan diri seperti melalui pemakaian produk bercap “bio” atau ramah lingkungan, pemanfaatan tenaga surya, pemanfaatan alat-alat rumah tangga yang hemat energi, dll. Aksi yang dilakukan ini, dalam sebatas pengamatan penulis, belumlah bisa menjamin akan tercapainya usaha menekan kondisi perubahan ekstrim lingkungan hidup, karena ancaman khusus terhadap daerah yang berbatasan dengan lautan bebas sudah berjalan dan masih terus mengintai secara global pula.

Faktor perubahan ekstrim sebagaimana yang disebutkan di atas, juga bukanlah faktor satu-satunya yang berpotensi merubah dan merusak wilayah tertentu. Ada beberapa wilayah yang memang dikategorikan sebagai „lingkaran atau cincin api“ dalam ilmu bumi (bdk. PRESS dkk. 2007), namun memiliki sumber daya alam yang luar biasa penting bagi kelangsungan hidup seluruh bumi ini seperti hutan, atol, dll. Selain itu, secara khusus, beberapa wilayah yang rentan ini memiliki sejumlah situs eksotis dan didukung oleh panorama alamiah yang menjadi magnet bagi para pengunjung dan para peneliti.

Cakupan tulisan ini akan masuk dalam pembahasan mengenai wilayah di kepulauan Nias. Wilayah Nias memiliki beberapa faktor yang penting untuk diangkat dalam wacana tertulis ini, dimana salah satu yang terutama adalah sebagai pendekatan informasi bagi masyarakat awam. Tulisan ini dimaksudkan untuk menggedor pengetahuan dan kesadaran masyarakat awam Ono Niha untuk melihat secara realistis dan rasional akan situasi kepulauan Nias dan mau mengambil sikap untuk berusaha melindungi eksistensi kepulauan Nias dalam situasi bagaimana pun di kemudian hari. Kepulauan Nias dan penduduknya berada dalam posisi minoritas dari segi jumlah dan pengaruhnya dalam skala nasional mapun internasional. Gerbang utama dan pertama untuk melindungi eksistensi kepulauan Nias berada dalam tangan Ono Niha sendiri. Sisi minoritas ini perlu dilihat sebagai pendorong untuk tidak menjadikannya sebagai sebuah konflik dengan diperhadapkan akan kesiapan mental dengan perubahan situasi kepulauan Nias di masa mendatang. Hal lainnnya yang menjadi perhatian penulis adalah penyediaan dokumentasi informasi terkini mengenai wilayah kepulauan Nias.

Untuk kali ini, penulis membagi tulisan dalam beberapa bagian dan akan dimuat secara berkala dalam Situs Niasonline. Harapan penulis, semoga masyarakat Ono Niha melalui tulisan berikut bisa termotivasi untuk ikut mengambil langkah peduli akan kelangsungan eksistensi kepulauan Nias. Diskusi terbuka untuk semua khalayak melalui situs Niasonline .

Literatur:
Gresh, A.; Radvanyi, J., dkk. (2007): Le Monde diplomatique (Terbitan Bahasa Jerman: Atlas Globalisasi), Berlin: taz Verlags- und Vertriebs GmbH
Grotzinger, Press, Siever dkk. (2007): Understanding Earth 5th Ed., NY: W.H. Freeman and Co.
Waibel, M.;Thimm,T.; Kreisel,W. (2005): Fragile Inselwelten-Tourismus, Umwelt und indigene Kulturen (Dunia Kepulauan Yang Rentan-Pariwisata, Lingkungan Hidup dan Budaya Asli Setempat), Bad Honnef: Horlemann

Facebook Comments