Oleh Pdt. Em. Budhiadi Henoch

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28)

Kita semua mengetahui, bahwa Allah memelihara hidup kita dari detik ke detik, menit ke menit, dan hari ke hari. Apa buktinya? Udara yang kita hirup secara cuma-cuma jauh lebih murah daripada sebuah tabung udara yang disediakan pada saat kita dirawat di rumah sakit. Air yang kita minum tersedia dengan melimpah dalam alam ini kendati air ledeng sering tak ngocor ke rumah kita.

Sinar matahari dan hujan yang jatuh pada musimnya dapat kita manfaatkan untuk sawah, ladang, dan kebun kita. Siang dan malam disediakan bagi kita agar kita silih berganti dapat bekerja dan beristirahat dll.

Kesemuanya itu menunjukkan, betapa Allah memelihara hidup kita. Sayang sekali manusia telah mengacaukannya dengan kerakusan atau keteledorannya dalam mengelola isi dunia ini sehingga terjadi ketidakberesan ekologi di dunia ini. Salah satu akibat yang menghantui umat manusia pada dewasa ini adalah terjadinya pemanasan global yang berdampak terhadap permukaan air laut yang naik dan dapat mendatangkan air bah.

Tak hanya kenyataan itu, Allah juga memelihara kita lewat peristiwa kehidupan kita masing-masing. Seorang pasien kanker kendati telah divonis dokter, umurnya tinggal tiga bulan, ternyata dapat bertahan hingga tiga tahun setelah menjalani pengobatan herbal.

Seorang cucu yang gemar sekali makan jengkol, namun kemudian dinasihati oleh neneknya setelah membaca artikel di koran lama bahwa jengkol itu mempersempit saluran air kencing. Seorang pria menolong seorang anak balita yang tercebur ke sebuah sungai, ternyata anak balita itu adalah anak seterunya sehingga orang itu pun berdamai dengan orang tuanya.

Seorang gadis menderita kesedihan akibat hubungan cintanya diputus oleh sang pacar, namun selang beberapa tahun kemudian ia bersyukur setelah mendengar bahwa mantan pacarnya itu amat sadis terhadap istrinya. Seorang calon penumpang semula berang akibat batal naik pesawat sebab kursinya diduduki oleh seorang VIP, namun ia kemudian bersyukur atas pembatalan itu karena ternyata pesawat itu jatuh berkeping-keping.

Gara-gara seorang pemuda menderita sakit demam berdarah dan dirawat di rumah sakit, ia lolos dari ancaman geng motor yang mendatangi tempat pemondokannya. Dari contoh-contoh itu, orang sering menyebutnya sebagai peristiwa kebetulan padahal itulah cara Allah memelihara hidup manusia.

Ayat di atas juga mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Namun, manusia kerap menganggap peristiwa itu sebagai mujur atau sial belaka dan tidak menghubungkannya dengan tindakan Allah dan kebijakan pemeliharaan-Nya.

Oleh sebab itu, kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap Allah, lantas marah atau kecewa kepada-Nya ketika kita mengalami pengalaman yang pahit dalam kehidupan ini. Siapa tahu, peristiwa itu justru hendak menghindarkan kita dari bahaya maut atau hidup yang tidak bahagia.

Itulah sebabnya, Rasul Paulus menyatakan dengan kalimat “kita tahu sekarang” yakni setelah peristiwa pahit itu berada di belakang kita, ternyata Allah memberikan hal-hal yang jauh lebih baik dari perkiraan kita semula.

Tentu kita ingin mengalami pemeliharaan Allah dalam kenyataan hidup kita masing-masing, mengingat pada dasarnya kita tak tahu peristiwa apa yang akan kita alami pada hari ini, esok, atau lusa. Bagaimana caranya? Berdasarkan ayat di atas, kita diminta untuk mengasihi Allah, mengingat kebaikan semacam itu diberikan Allah kepada mereka—siapa saja—, yang mengasihi Dia. Itu berarti bahwa kita harus mengasihi Dia dengan segenap hati kita, lantas kita akan mengalami kenyataan pemeliharaan Allah itu dalam kehidupan kita masing-masing.

Bagaimana cara kita mengasihi Allah? Pertama, kita mengakui kehadiran-Nya dalam hidup kita. Ia ada dan berperan besar dalam diri kita, keluarga kita, masyarakat, dan bangsa kita, kendati kita sering mengabaikan-Nya. Berikutnya, kita menaati perintah dan hukum-Nya dengan tulus dan ikhlas, mengingat kesemuanya itu diberikan-Nya demi keselamatan diri kita.

Sayang, banyak orang menabrak dan memandang remeh perintah dan hukum-Nya dalam bentuk korupsi, menyalahgunakan kekuasaan atau bersikap sembrono terhadap kehidupan itu sendiri.

Selanjutnya, kita benar-benar menghormati-Nya lewat ibadah kita masing-masing sehingga kita senantiasa mengagungkan nama-Nya dan tidak membiarkan hidup kita dicemari oleh perbuatan-perbuatan maksiat. Begitulah cara kita mengasihi Allah yakni dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita (Matius 22:37).

Pemeliharaan Allah pada dasarnya berlaku bagi semua makhluk ciptaan-Nya. Ia memberikan sinar matahari dan hujan kepada setiap makhluk sehingga setiap makhluk dapat memenuhi kebutuhannya masing-masing. Sebagai makhluk yang berakal budi, manusia dituntut lebih banyak daripada makhluk-makhluk yang lain. Itulah tuntutan tanggung jawabnya sebagai makhluk yang bertugas untuk mengelola seluruh isi alam semesta ini.

Untuk maksud tersebut, manusia dapat berkomunikasi dengan Allah dalam doa ketika mengalami kesukaran dan ucapan syukur saat doanya terkabul. Oleh karena itu, hendaknya selaku manusia beriman, kita tahu bersyukur kepada Allah atas pemeliharaan-Nya sehingga kita memiliki tubuh yang sehat, keluarga yang manis, dan tanah air yang subur.

Jika kita meminta agar Allah memelihara hidup kita, teringatkah kita untuk memelihara tubuh agar tidak dirusak oleh narkoba? Teringatkah kita untuk memelihara keluarga tetap utuh dan tidak melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga)? Teringatkah kita untuk memelihara tanah air dari kerusakan lingkungan, pembalakan liar, ancaman disintegrasi bangsa, dan rongrongan bangsa-bangsa lain, baik lewat penjajahan ekonomi, politik, maupun budaya?

Sampai di sini, kita diingatkan tentang tanggung jawab sehingga negeri kita tetap terpelihara dengan baik, terawat demi kelestariannya untuk diwariskan kepada anak cucu kelak. Kiranya kita yang menantikan pemeliharaan Allah tidak melupakan tugas pemeliharaan terhadap apa saja yang Allah karuniakan kepada kita, sehingga semuanya dapat kita pertanggungjawabkan kepada-Nya. Amin.***

Penulis, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut Bandung.

(Pikiran Rakyat, 17 November 2007)

Facebook Comments