Sebagaimana ditulis S. La’ia dalam artikel berjudul Nias dan Karya Seni E. Fries, Alkitab Bahasa Nias karangan H. Sündermann “merupakan dokumen tulisan pertama dalam bahasa Nias”. Dengan demikian dapat disimpulkan pula bahwa H. Sundermann-lah yang memunculkan dua versi huruf “W/w” dalam bahasa tulis Li Niha.

Munculnya kedua versi huruf w dalam Li Niha (yaitu w/W dan ŵ/Ŵ) disebabkan oleh dua jenis pengucapan “w” yang berbeda. Sebagai contoh, huruf w dalam kata “bawa” (mulut) diucapkan dengan meniupkan udara lewat bibir bawah dan atas yang pembukaannya agak dipersempit (jadi bentuk mulut lebih pipih) sehingga celah udara menjadi lebih sempit. Maka yang muncul adalah bunyi w seperti dalam nama diri Wulan (dari bahasa Jawa) atau “woman” dan “wood” dalam bahasa Inggris.

Kata-kata dengan huruf w yang memiliki pengucapan seperti di atas antara lain: awiwi, awuwu, bowo, böwö, iwa, awi, waowao, gowi, owi, waöwaö, wahawaha, wuwusi, wurawuru, woyowoyo, welawela, wulöwulöi, dan sejumlah kata benda dengan inisial f yang karena posisinya dalam kalimat mengalami mutasi awal menjadi w seperti: fune (wune), fino (wino), faya (waya), fötö (wötö). Yang terakhir ini akan kita bahas dalam artikel lain.

Pengucapan w yang kedua sama dengan pengucapan w dalam bahasa Indonesia. Jadi, kata-kata baŵa (bulan) diucapkan seperti kata bawa dalama bahasa Indonesia. Kata-kata dengan huruf w yang memiliki pengucapan seperti ini antara lain: ŵa’a (akar), ŵeŵe (tumbuhan liar yang menjalar), ŵani (lebah), ŵalu (delapan), aiŵö (sungkan), ŵa’ö (katakan), saŵa (ular piton).

Karena pengucapan yang berbeda sebagaimana diuraikan di atas, maka pengucapan w dalam kata-kata Li Niha dilambangkan dalam dua karakter: w dan ŵ. Jadi, bawa (mulut) diucapkan berbeda dan mempunyai arti yang berbeda dari baŵa (bulan).

Kehadiran kedua versi huruf w di atas memunculkan masalah tersendiri. Ada kalanya kedua versi itu dituliskan secara sama, yaitu dengan huruf w tanpa tilda (~). Akan tetapi sebagaimana diuraikan di atas, kedua hal ini memang perlu dibedakan; ini merupakan salah satu ciri khas bahasa tulis Li Niha.

Penghilangan atau “pembauran” ŵ menjadi w di masa lalu terpaksa dilakukan karena pada mesin tik, karakter ŵ tidak ada; demikian juga pada program-program pengolah kata berbasis komputer seperti Wordstar dan versi-versi Word terdahulu. Tetapi dalam tulisan tangan keduanya selalu dibedakan. Pada program-program pengolah kata versi mutakhir, karakter ŵ dan Ŵ sudah muncul pada beberapa jenis huruf (font) populer seperti Times New Roman, Arial, dll. Jenis-jenis huruf ini sebenarnya unsur ikutan dari program Windows yang menjadi tempat bekerjanya Word. Dengan demikian, sebagaimana pada kasus huruf ö, tidak ada lagi alasan yang kuat untuk mengabaikan ciri khas Li Niha ini. (Sayangnya huruf w dengan tanda tilda “ŵ” tidaklah termasuk dalam tabel ASCII (American Standard Code for Information Interchange) yang merupakan standar de facto pengkodean karakter-karakter yang dipakai oleh komputer dan piranti-piranti komunikasi untuk merepresentasikan teks. Pemunculan karakter ŵ dalam artikel ini dimungkinkan dengan pertama-tama membuatnya dalam dokumen Word, lalu dengan proses cut & paste, dipindahkan ke dalam editor yang dipakai untuk menulis artikel ini.)

***
Salah satu persoalan lain yang muncul dengan kedua versi w di atas ialah konvensi pemakaian w dan W dalam bahasa Nias agak berseberangan dengan pemakaiannya dalam bahasa Indonesia. Artinya pengucapan ŵ dalam bahasa Nias sama dengan w dalam bahasa Indonesia, sementara w dalam bahasa Nias tidak mempunyai padanan khusus dalam bahasa Indonesia karena dalam bahasa Indonesia kata-kata semacam itu sedikit sekali atau bahkan tidak ada. Agaknya H. Sündermann tidak memikirkan “konsekusensi” ini ketika memperkenalkan kedua versi w/ŵ dalam karya monumentalnya yang disebutkan di depan.

Ada usaha untuk mengatasi persoalan ini, antara lain yang dilakukan oleh W. Gulö dan Nata’alui Duha. Dalam Kamus Kecil Bahasa Nias, Gulö menggunakan “w” untuk melambangkan bunyi “w” seperti dalam bahasa Indonesia. Bunyi “w” seperti dalam wurawura dan waruwaru dilambangkan Gulö dengan “w” yang digaris bawahi.

Dalam sebuah tulisannya yang muncul dalam Majalah Media Warisan terbitan Yayasan Pusaka Nias beberapa waktu yang lalu, Duha menggunakan w/W sebagaimana digunakan dalam bahasa Indonesia. Jadi, menurut pemakaian Duha (dan Gulö), kata madu dalam bahasa Indonesia yang dalam Li Niha biasa ditulis ŵe, ditulis menjadi we saja (w tanpa ~). Ini sudah sesuai dengan cara pengucapan w dalam bahasa Indonesia. Jadi, sekali lagi, menurut cara Duha ini, kata-kata yang dahulu ditulis ŵa’a (akar), ŵeŵe (tumbuhan menjalar), ŵani (lebah), ŵalu (delapan), aiŵö (sungkan), siliŵi (burung pipit), kini cukup ditulis dengan wa’a, wewe, wani, walu, aiwö dan siliwi.

Jelas bahwa kedua kontributor (Gulö dan Duha) melihat kelemahan cara Sunderman melambangkan bunyi khas Li Niha. Saya melihat hal yang sama.

Untuk melambangkan bunyi w lain seperti yang muncul dalam kata-kata: waöwaö (langkah-langkah), woyowoyo, wurawura, dsb., Duha menggunakan huruf v/V. Jadi, kata-kata di atas ditulis: vaövaö, voyovoyo, dan vuravura. Saya berpendapat alternatif ini kurang tepat karena dua alasan. Pertama, pengucapan v baik dalam bahasa Indonesia (seperti dalam kata televisi, visa, veto) maupun pengucapan dalam bahasa Inggris (seperti dalam kata very, every, visit) tidak sama dengan pengucapan (bunyi) w dalam Li Niha (khususnya Li Niha varietas utara) seperti dalam kata waöwaö, woyowoyo dan wurawura di atas. Alasan kedua ialah, huruf v dengan pengucapan seperi fe telah dikenal dalam bahasa Nias melalui serapan unsur luar seperti dalam nama diri Veronika, Verawati, atau dalam kata televisi atau video yang boleh dianggap sudah menjadi kata serapan Li Niha.

Untuk mengatasi masalah ini, saya justru mengajukan alternatif yang lebih praktis dan sederhana, yakni: memanfaatkan karakter ŵ untuk menuliskan kata-kata yang bunyinya muncul seperti dalam kata: waöwaö, woyowoyo, wurawura di atas. Hal ini lebih berterima karena bunyi w dalam kata-kata tersebut terasa asing bagi orang-orang bukan Nias. Dan dengan memberikan tanda ~ (tilda) di atas w, mereka akan mengerti bahwa ada perbedaannya dengan pengucapan w biasa.

Dengan argumen-argumen di atas, maka pemakaian w dan ŵ yang baru saja dibicarakan akan diterapkan dalam tulisan ini. Berikut diberikan beberapa kata yang mengandung huruf w dan ŵ menurut pemakaian baru tersebut.

Kata-kata dengan karakter w/W (sepadan dengan pengucapan dalam Bahasa Indonesia).
bawa (bulan)
tenawa (cegah)
wewe (sejenis tumbuhan liar yang menjalar)
siliwi (burung pipit)
liwö (hindar)
walu (delapan)

Kata-kata dengan karakter Ŵ/ŵ
baŵa (mulut)
manaŵa (sejenis kayu keras)
beŵe (bibir)
aŵiŵi (menumpul)
siŵö (kepiting besar)
oŵalusö (akil baliq)
Latihan:

Menurut aturan di atas, apakah huruf w yang muncul dalam kata-kata berikut ditulis seperti adanya atau dengan huruf ŵ ?:
maliwa (bergerak)
fabaliwa (persimpangan)
widowido (bulan-bulanan)
owöra (nasi yang keras, tidak matang)
wawayasö (ketan, pulut)

E. Halawa*

Catatan:

  1. Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Situs Nias Portal dalam Topik Li Niha, Tanggal 3 Juni 2003 – dimunculkan kembali di Situs Yaahowu dengan sejumlah modifikasi.
  2. Artikel Nias dan Karya Seni E. Fries karangan S. La’ia muncul dalam situs Nias Portal pada tahun 2003, Redaksi Yaahowu tidak memiliki copy-nya lagi.
Facebook Comments