Oleh: Victor Zebua

Ere hoho Fözi Dzihönö tinggal di desa Sigese, pulau Sigata, Nias Selatan. Tahun 1927-1928 beliau menuturkan 1328 baris hoho dan direkam Steinhart. Hoho itu mengisahkan Situo Mali Itö, Situo Mali Ndewa dan putri pamannya yang bernama Sobowo Ndöfi Madala, Sikonda Dohare Dzara.

Sebelum Situo Mali Itö mengawini Sobowo Ndöfi Madala, sang putri paman diperkosa beberapa orang, hamil dan kemudian melahirkan bayi. Hoho yang berisi kisah tragis itu disajikan Henk Maier dalam tulisan berjudul ”Stories from Nias W.L. Steinhart and Fözi Dzihönö” (Maier, 1990: 137-182). Tema sentral cerita Fözi Dzihönö bukan asal-usul manusia pertama di bumi Nias. Sobowo Ndöfi Madala (tulisan nama oleh Maier) bukan tokoh suci (sakral) seperti lazimnya tokoh mite. Cerita ini merupakan dongeng dari ere hoho (storyteller) Fözi Dzihönö.

Dongeng (folktale), menurut William R. Bascom, adalah cerita rakyat (folklor) yang mirip mite, tapi tidak dianggap benar-benar terjadi, serta tidak terikat oleh waktu dan tempat. Mite (myth) dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci, ditokohi para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, pada masa lampau. Sedang legenda (legend) dianggap benar-benar terjadi, tapi tidak dianggap suci (Danandjaja, 1984: 50).

Cerita Ama Sama
P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap juga menyajikan kisah Sibowo Döfi Madala (Si Buah Manis Bintang Kejora) yang dituturkan ere hoho Mesozöchö Bu’ulölö (Ama Sama) dari desa Hilinawalö Fau, Telukdalam, Nisel, dalam buku Omo Sebua (1990: 6-13).

Ama Sama mengisahkan seorang wanita yang datang dari daratan Asia, awal-mula manusia (mböröta niha) di bumi Nias,. Wanita itu bernama empat: Sibowo Döfi Madala alias Ina Sakao Dödö alias Simadulo Hösi, Simadulo Rao Watua alias Samihara Luo Gögömi, Samihara Luo Sambua. Tidak diceritakan siapa suaminya, Sibowo Döfi Madala melahirkan seorang putra bernama Ho.

Ho memiliki tiga nama: Ho-me-mobörö, Ho-ba-mböröta alias Ho-ba-wobörö, Woböröta Hia alias Hia Walani Azu, Hia Walani Luo. Setelah dewasa Ho mengawini bundanya, anaknya kembar (faero): Sitelögu-ba-luaha alias Sadaŵa Mölö (putra) dan Sorai Zisöma alias Sorai Zösöma (putri). Si kembar ini kawin, anaknya sembilan: Sebuatendroma, Tachi, Laŵa, Hondrö, Fau, Maha, Zinö, Lalu, Ramö, Boto (disebut 10 nama oleh Ama Sama).

Setelah hampir tiga generasi Fözi Dzihönö mengisahkan Sibowo Döfi Madala, nama tokoh ini muncul dalam hoho Ama Sama. Apakah isi hoho Ama Sama merupakan mite (asal-usul manusia pertama) atau dongeng? Ulasan terhadap isi hoho Ama Sama sebagai berikut.

  1. Menurut A.F. Hondrö (Ama Waigi), Hia Walani beristrikan Samihara Luo, Samihara Luo Zato, anaknya sembilan: si kembar Zedaŵa (putra) dan Raisö Mbarasi alias Lakindrö Lai alias Nandria Lömi alias Rai Solömi (putri), Bu’ulölö, La’ia, Ndruru, dan nama empat lagi belum jelas. Zedaŵa (anak Hia) beristrikan Simadulo Hösi alias Simadulo Rao Watua, anaknya: Mölö, Zinö, Lalu, Balösahono, Balöhili. Sedang kembarannya Raisö Mbarasi bersuamikan Ndröunaso (Hämmerle, 1986: 98-9). — Dalam hoho Ama Sama, Ho identik Hia Walani, sedang Sibowo Döfi Madala identik Samihara Luo. Ama Sama tampaknya mengadopsi tokoh Hia (tapi mengawinkan anak kembarnya) dari cerita Ama Waigi.
  2. Menurut A.F. Hondrö (Ama Waigi), Mölö (anak Zedaŵa) beristrikan Nandrua Zato, anaknya: Fau, Tachi, Boto, Maha (Sarumaha), Hondrö, Hörözaitö (Hämmerle, 1999: 12). — Dalam hoho Ama Sama, si kembar Sadaŵa Mölö dan Sorai Zisöma kawin, anaknya sembilan: Sebuatendroma, Tachi, Laŵa, Hondrö, Fau, Maha, Zinö, Lalu, Ramö, Boto. Ama Sama tampaknya mengadopsi tokoh Mölö (tapi menambah anaknya) dari cerita Ama Waigi.
  3. Menurut Tali’aro Waruwu (Ama Watisa), Ho beristrikan Nandrua, anaknya: Waruwu, Halawa, Lawölö, Gulõ, Totoazona (Hämmerle, 2004: 34). — Dalam hoho Ama Sama, Ho beristrikan Sibowo Döfi Madala, anaknya kembar: Sadaŵa Mölö (putra) dan Sorai Zisöma (putri). Ama Sama tampaknya mengadopsi tokoh Ho (tapi mengeliminasi istri dan anaknya) dari cerita Ama Watisa.
  4. Menurut Ama Waogö Waruwu alm, Ama Zaro Baene, dan Ama Rekha Lase, Siraso datang dari seberang (Hämmerle, 2001: 169). — Dalam hoho Ama Sama: “Ba mböröta so niha soroi ba danö Asia… dst… Töinia moroi chö namania: ‘Sibowo Döfi Madala’…” (Hämmerle, 1990: 8). Ama Sama tampaknya mengadopsi tema kedatangan Siraso (tapi nama tokoh diganti Sibowo Döfi Madala) dari cerita Ama Waogö dkk.

Dari uraian di atas, terdapat kesan kuat isi hoho Ama Sama digubah dari tradisi lisan yang ada, yaitu: Hia versi Ama Waigi, Mölö versi Ama Waigi, Ho versi Ama Watisa, dan Siraso versi Ama Waogö dkk. Andaikan Ama Sama tidak langsung merujuk tradisi lisan tersebut, sejatinya isinya merupakan gabungan dari tradisi lisan itu. Namun gabungan ini mengabaikan keturunan yang berbeda dari setiap tokoh, sehingga genealogi (silsilah) para tokoh (Hia, Mölö, Ho, Siraso) campur-baur dan sulit dipahami. Akibatnya isi cerita tidak dapat dipercaya benar-benar terjadi.

Akan halnya tokoh Sibowo Döfi Madala, selain dalam hoho Fözi Dzihönö dan Mesozöchö Bu’ulölö, terdapat dalam hoho Wilhelmus Fangaro’ö Daeli (Ama Norida) dari Sirombu yang menyebutkan Sibowo ndröfi madala (tulisan nama oleh Ama Norida) adalah putri bungsu Sirao (Hämmerle, 2001: 180-1), dan mungkin dalam cerita lain yang belum terdokumentasi. Ini menunjukkan peran Sibowo Döfi Madala yang berbeda-beda serta tidak terikat oleh waktu dan tempat. Artinya, Sibowo Döfi Madala adalah tokoh dunia dongeng.

Dari isi hoho dan tokoh utamanya, terindikasi bahwa kisah Sibowo Döfi Madala versi Ama Sama bukanlah mite, melainkan dongeng asal-usul manusia pertama. Sebagai sebuah dongeng, hoho Mesozöchö Bu’ulölö turut memperkaya khasanah karya sastra (lisan) Nias, sebagaimana hoho Fözi Dzihönö tiga generasi yang silam.

Mite Si Tölu Börö Danömö
Masyarakat Nias mengenal dua versi mite asal-usul manusia pertama yang bermotif first man descends from sky (manusia pertama turun dari langit): si öfa börö danömö (empat induk puak) dan si lima börö danömö (lima induk puak). Mite si öfa börö danömö berasal dari keturunan leluhur Daeli, tokohnya empat (Hia, Gözö, Daeli, Hulu), Mite si lima börö danömö berasal dari keturunan leluhur Silögu, tokohnya lima (Hia, Gözö, Daeli, Hulu, Silögu).

Lewat informan A.F. Hondrö (Ama Waigi) dari desa Onohondrö, Telukdalam, Nisel, P. Johannes M. Hämmerle OFM Cap berhasil menggali mite versi si tölu börö danömö yang berasal dari keturunan leluhur Mölö, tokohnya tiga (Hia, Gözö, Ho). Mite ini mengisahkan penurunan tiga putra raja Salawa Holia dari Teteholi Ana’a ke Tanö Niha, dilestarikan dalam buku Famatö Harimao (1986).

Hoho penurunan putra raja (Hia, Gözö, Ho) tersebut diucapkan usai ritus patung harimau (upacara pembaharuan fondrakö) oleh keturunan leluhur Mölö. Hoho ini menjadi budaya yang diwariskan turun-temurun di tengah keturunan leluhur Mölö. Hoho ini juga menyebutkan Ho diturunkan bersama istrinya Sa’usö La’a, Ria Barasi (Hämmerle, 1986: 96). Dari beberapa tradisi lisan (mis. Harefa, 1939: 21) diketahui bahwa Sa’usö La’a adalah gerua (istri kedua) Ho, anaknya: Laoya.

Mite si tölu börö danömö (1986) dan cerita Ama Sama (1990) hidup di kawasan dan kolektif (masyarakat) yang relatif berdekatan. Namun ada tiga perbedaan menyolok di antara keduanya. Pertama, mite si tölu börö danömö mengisahkan manusia dari langit, sedang cerita Ama Sama mengisahkan manusia dari seberang. Kedua, mite si tölu börö danömö membedakan Ho dan Hia, sedang cerita Ama Sama menyamakan Ho dan Hia.

Ketiga, mite si tölu börö danömö merupakan budaya yang diwariskan turun-temurun di tengah keturunan leluhur Mölö, sedang cerita Ama Sama belum diketahui apakah tersebar lewat pewarisan. Tanpa sistem pewarisan, sudah barang tentu kisah Sibowo Döfi Mada versi Ama Sama tidak dapat dikatagorikan sebagai “tradisi lisan”. Cukup disebut “cerita lisan” saja.

Bacaan:

  1. Danandjaja, J., Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Press, 1984.
  2. Hämmerle, J.M., Famatö Harimao, Yayasan Pusaka Nias, 1986.
  3. Hämmerle, J.M., Omo Sebua, Yayasan Pusaka Nias, 1990.
  4. Hämmerle, J.M., Nidunö-dunö ba Nöri Onolalu, Yayasan Pusaka Nias, 1999.
  5. Hämmerle, J.M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001.
  6. Hämmerle, J.M., Daeli Sanau Talinga & Tradisi Lisan Onowaembo Idanoi, Yayasan Pusaka Nias, 2004.
  7. Harefa, F., Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939.
  8. Maier, H., Stories from Nias W.L. Steinhart and Fözi Dzihönö, dalam Daniëlle Lokin, Nias Tribal Treasures: Cosmic reflection in stone, wood and gold, Volkenkundig Museum Nusantara, Delft, 1990.
Facebook Comments