Minggu-minggu terakhir ini, Situs Yaahowu diramaikan oleh berbagai komentar sehubungan dengan tulisan Prof. Ingo Kennerknecht dan P. Johannes Hammerle tentang hasil-hasil penelitian pendahuluan mereka tentang asal-usul orang Nias menggunakan teknologi DNA/genetika.

Tulisan tersebut yang ditayangkan di Situs Yaahowu (yang bersumber dari situs Nias Island Research Network) melahirkan diskusi hangat karena alasan-alasan berikut.

Pertama, tulisan versi terdahulu yang bertanggal 9 Juli 2007 memuat secara vulgar foto-foto para “objek” penelitian: wajah-wajah mereka dipajang secara terang-terangan, cacat-cacat tubuh mereka dipertontonkan kepada khalayak pembaca tulisan tersebut. Tulisan versi 9 Juli 2007 juga lupa mencatat bagian penting dalam sebuah riset yang bersifat kolaboratif: para pihak yang terlibat sebagai kolaborator. Selanjutnya, tulisan tersebut juga lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat langsung / tidak langsung membantu terlaksananya riset tersebut. Dan terakhir, tulisan itu lupa mencantumkan rujukan (referensi) di bagian akhir tulisan.

Pada tulisan yang telah diperbaiki (versi 12 Juli 2007) semua kelemahan/kekurangan yang disebut tadi telah diperbaiki: wajah-wajah dalam foto tadi ditutupi, para mitra penelitian disebutkan, ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian tersebut dan sejumlah rujukan / referensi dicantumkan.

Kedua, sebagaimana tulisan-tulisan terdahulu yang terkait dengan budaya Nias yang ditayangkan dalam Situs ini, tulisan Prof. Kennerknecht dan P. Johannes tersebut juga mendapat sorotan dari segi isi (substansi). Sebagaimana terbaca, komentar-komentar tersebut cukup berbobot: menyoroti sisi-sisi kelemahan / ketidak-konsistenan dari informasi yang disampaikan dalam tulisan tersebut dengan merujuk pada berbagai publikasi sebelumnya.

Singkat kata: tulisan Prof. Kennerknecht dan P. Johannes tersebut disorot baik dari segi substansi (isi) maupun sisi sensitifitas budaya dan kode etik riset yang melibatkan manusia sebagai “objek” penelitian.

Lantas mengapa pada fokus kali ini kita kembali mengarahkan “keluhan” pertama-tama kepada P. Johannes dan bukan kepada Prof. Kennerknecht ? Alasannya sederhana: P. Johannes-lah yang mendatangkan Prof. Kennerknecht ke Nias untuk melakukan penelitian DNA/genetik Ono Niha dalam rangka memvalidasi hipotesis beliau tentang asal usul masyarakat Nias (lih. antara lain artikel: Lingua Nias karya P. Johannes dalam Media Warisan Edisi No. 38-39 Tahun IV April 2004 yang juga ditayangkan dalam Situs Museum Pusaka Nias (www.museum-nias.org), Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal-Usul Orang Nias, dan Merunut Asal Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen.

Alasan latarbelakang dilakukannya penelitian DNA seperti yang dapat dibaca dalam ketiga artikel itu sekali gus mematahkan penjelasan yang mengatakan bahwa Nias itu sengaja dipilih karena adanya “perhatian khusus kepada P. Nias”. Hal ini tidak benar. Bagi kalangan yang memandang dari sudut ini, sekali lagi kita ingatkan, penelitian DNA/Gen Ono Niha yang diprakarsai oleh Museum Pusaka Nias dan Prof. Ingo Kennerknecht adalah karena P. Johannes ingin memvalidasi hipotesisnya tentang asal-usul Orang Nias, dan bukan karena “perhatian khusus” kepada P. Nias. Kita harus melihat perbedaan yang tidak sepele ini.

Mengapa kita mengarahkan keluhan kepada P. Johannes ? Karena sebagai pemrakarsa ide penelitian DNA/Gen tersebut, seharusnya beliau menunjukkan sensitivitas budaya dalam seluruh rangkaian kegiatan ini, termasuk ketika hasil-hasil awal penelitian itu dipublikasikan. Seharusnya beliau berkoordinasi secara lebih baik dengan Prof. Kennerknecht sehingga tulisan itu dipublikasikan secara lebih baik, ditulis menurut kaidah-kaidah ilmiah, dan bebas dari kesan vulgar.

Kita sangat menghargai Petra Gruber, Koordinator Nias Island Research Network, atas inisiatifnya untuk meminta maaf berkaitan dengan publikasi tulisan versi pertama yang menimbulkan kesan “kurang enak” pada para pembacanya. Kita juga menghargai Prof. Kennerknecht yang (walau secara tak langsung) melalui Nias Island Research Network memperbaiki tulisan tersebut.

Bagaimana dengan P. Johannes yang oleh banyak kalangan telah dikenal sebagai “pakar” budaya Nias ? Di mana sensitivitas budaya dari seseorang yang selama puluhan tahun mengenal dari dekat budaya Ono Niha, bahkan hampir tanpa jarak lagi ?

***
Dari berbagai komentar di Situs ini yang berkaitan dengan tulisan-tulisan P. Johannes, kita bisa menangkap nuansa penasaran. Nuansa penasaran pertama terkait dengan “kohesivitas” dan “kredibiltias” tulisan-tulisan P. Johannes, sementara nuansa penasaran kedua terkait dengan kesan bahwa Situs ini menyorot seakan tak henti-hentinya berbagai hal yang terkait dengan aktivitas budaya P. Johannes, khususnya tulisan-tulisannya.

Komentar-komentar para pengunjung tentang hal yang terkait membuat kita semakin diperkaya dengan informasi, yang mungkin hanya bisa kita dapatkan lewat buku-buku yang belum tentu kita miliki, atau kalau pun kita milki, belum tentu sempat kita baca, atau kalau pun sempat kita baca, belum tentu kita fahami dengan baik. Sejauh ini, kita bisa melihat bahwa komentar-komentar yang disumbangkan cukup jernih, jelas, diungkapkan dalam bahasa yang mudah kita tangkap selaku awam dalam bidang ini: memperkaya, mengasyikkan, dan (yang ini mendapat penekanan khusus): memelekkan, membuka mata kita. Komentar-komentar itu seakan mengantarkan kita kepada sisi-sisi atau sudut-sudut lain yang belum kita lihat ketika menelusuri tulisan-tulisan Pastor Johannes. Komentar-komentar itu merangsang pikiran kita untuk mempertanyakan “kohesivitas” dan “kredibilitas” ilmiah tulisan-tulisan P. Johannes. Komentar-komentar itu memberi pesan: memahami budaya Nias itu tidak segampang yang kita asumsikan. Komentar-komentar itu membuat kita penasaran: setelah puluhan tahun bergumul dengan budaya Nias, mengapa P. Johannes masih terkesan sangat “asing” dengan budaya Nias ?

Ada pesan penting lain dari berbagai tulisan dan komentar itu: bahwa dari antara putra-putri Nias, ada juga yang cukup memahami budaya kita, dan karenanya bisa berbicara tentangnya, terlebih dalam keadaan di mana ada kesan “tafsiran” tentang budaya kita terpeleset, digampangkan atau dilakukan secara “tergesa-gesa” demi sebuah target: menguji sebuah hipotesis. (“Teori Multietnis” P. Johannes tentang masyarakat Nias yang disebutkan dalam bukunya: Asal-Usul Masyarakat Nias – Sebuah Interpretasi sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari beliau. Fries, seorang pekerja misi pada awal abad 20 telah mengajukan hipotesis itu sebelumnya – lihat: Teori Multietnis Masyarakat Nias dalam Buku E. Fries: “Nias – Amoeata Hulo Nono Niha.”)

Ini pesan lain kepada teman-teman yang terkesan menaruh rasa curiga atas inisiatif Yaahowu untuk menyorot tulisan-tulisan P. Johannes. Kita sama sekali tidak bermaksud memojokkan P. Johannes dan atau pun karya-karya luhurnya di bidang budaya Nias (“litani” singkat karya-karya luhur P. Johannes untuk Nias dapat dilihat dalam tulisan lain: P. Johannes Seharusnya Tidak Bungkam). Kita semua hanya ingin mengingat-ingatkan, bahwa barangkali dari sejumlah karya P. Johannes itu, ada yang perlu direnungkan kembali, dikaji ulang, dikoreksi, atau perlu diperkaya dengan informasi lain yang “terlupakan” dalam sajian P. Johannes. Bukankah ini sesuatu yang sangat wajar ?

Kasus publikasi tulisan Prof. Kennerknecht dan P. Johannes yang kita singgung di depan menjadi sebuah contoh ril yang menunjukkan betapa kritik atau sorotan dari pihak-pihak lain sangat diperlukan. Seandainya Yaahowu tidak mengekspos keberadaan tulisan itu, dan seandainya para pengunjung cuek saja atau tidak mau sedikit bersikap kritis, barangkali kita akan menyaksikan munculnya tulisan-tulisan lanjutan yang membuat sebagian dari saudara/i kita Ono Niha menjadi “terkenal” di seantero jagad lewat cacat-cacat tubuh mereka dan penyakit-penyakit mereka yang menghiasi berbagai risalah “ilmiah”. Perbincangan yang intens di Situs ini mudah-mudahan telah menghindari hal itu terulang kembali.

Jadi, terima kasih kita, selain kita tujukan kepada P. Johannes, juga kita tujukan kepada setiap pengujung Yaahowu yang telah menambah “perbendaharaan kata” kita tentang pernak-pernik budaya Nias. Tanpa mereka, barangkali kita bak niha samati (“orang beriman”), yang hanya mampu mengaminkan segala hal yang diperbuat dan dikatakan orang luar tentang kita, atau bagaikan seseorang yang terhipnotis, terpesona, terkesima atas segala hal yang sedang “berseliweran” di depan mata optisnya tetapi berada di luar tangkapan radar kesadarannya. Rasanya Ono Niha sudah saatnya keluar dari belenggu “budaya” semacam itu. (*)

Facebook Comments