Mesozochö Bu’ulölö telah memukau saya. Dengan daya ingatnya yang kuat dan tanpa membaca sebuah catatan, ia melantunkan syair Hoho tanpa terputus. Saya dan rekan-rekan segera mencatat dan merekam tradisi lisan yang dapat mengungkapkan masa lalu Nias yang disampaikan Mesozochö dalam gaya bertutur Nias Selatan. Di sebuah desa tradisional, Hilinawalö – Fau, saya kali pertama bertemu Mesozochö, yang seringkali disapa Ama Sama, sekitar tahun 1987.

Mengingat pertemuan itu, saya kerapkali tertawa saat memandang wajah Mesozochö yang masih berusia sekitar 47 tahun. Berkumis tebal, wajahnya menuntun ingatan saya kepada raut Albert Einstein, sang profesor fisika kenamaan. Saya beberapa kali menemuinya hingga tahun 1987 di Desa Hilinawalö – Fau dan desa tetangga, Onohondrö. Pada pertemuan -pertemuan itu saya dan rekan – rekan terus melakukan pencatatan syair syair tradisional yang keluar dari bibir Mesozochö. Sebagai salah satu ahli Hoho, ia dapat menuntun saya menyingkap asal-usul, silsilah, dan kehidupan leluhur Nias. Saat ini para ahli Hoho semakin sulit ditemukan dan keaslian Hoho pun kian pudar.

Dua paragraf di atas ditulis P. Johannes Hammerle dalam Sisipan National Geographic – Indonesia, Edisi Juni 2007 yang dapat dilihat dan didownload dari situs Unesco, dengan mengklik di sini. (Redaksi).

Facebook Comments