Oleh PASTOR PAULUS TRI PRASETIJO, P.R.

Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8 : 18).

Gereja Katolik sedunia merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus setiap 1 November. Bagaimana latar belakang dan maksud perayaan ini? Bagaimana prosesnya sampai seseorang digelari kudus? Bagaimana kitab suci berbicara tentang kekudusan dan para orang kudus itu? Bagaimana dengan kita, mungkinkah kita menjadi orang kudus dalam kehidupan modern pada zaman sekarang ini? Itulah sejumlah pertanyaan yang dapat kita ajukan.

Jika ditelusuri sejarahnya, kita menengok ke belakang ketika pengajaran iman Kristen telah melintas dari tanah Palestina ke benua Eropa, tepatnya kekaisaran Romawi dengan pusatnya Kota Roma. Dua orang tokoh yakni Santo Petrus dan Santo Paulus, yang menolak penyembahan kepada dewa-dewi orang Romawi telah dihukum mati dan para Kristiani dikejar, ditangkap, dan dibunuh dengan pelbagai cara. Hal itu terjadi bertahun-tahun lamanya, sehingga ratusan ribu nyawa melayang demi mempertahankan iman mereka. Oleh karenanya, mereka disebut `martir’ yang berasal dari martyria (bahasa Yunani yang artinya kesaksian).

Masa kelam itu berakhir setelah kaisar Konstantinus mengeluarkan Edikta Milan (313 M) yang menetapkan agama ini sebagai agama kekaisaran. Dengan demikian, mengakhiri penumpasan itu. Mengapa Konstantinus bertindak demikian? Karena, ia melihat daya tahan orang Kristiani dan moralitas yang digariskan itu berasal dari iman yang mereka hayati.

Jauh berbeda dengan iman dan moralitas orang Romawi, yang melakukan tindakan penumpasan itu justru semakin amburadul. Dengan Edikta Milan itu, Konstantinus hendak memulihkan kehidupan seluruh masyarakat Romawi untuk menuju ke arah perbaikan. Konstantinus sendiri kemudian menjadi seorang Kristiani.

Perubahan ini tentu membuat orang-orang Kristiani bergembira dan mereka mengenang saudara-saudarinya yang telah gugur dalam satu perayaan. Nyata bagi kita bahwa prakarsa datang dari para jemaat lokal untuk merayakannya dalam satu hari khusus, misalnya di Kota Edessa 13 Mei, di Siria Jumat sesudah Paskah, di Antiokhia Minggu pertama sesudah hari Pentakosta.

Sedang penetapan 1 November bermula dilakukan oleh Paus Gregorius III (731-741) dengan satu oratorium (khotbah) di Basilika Santo Petrus untuk menghormati para orang kudus, menyusul kemudian Paus Gregorius IV (827-844) menetapkannya sebagai perayaan untuk seluruh kekaisaran Romawi dan dilanjutkan Paus Gregorius VII (1073-1085), yang menjadikannya sebagai perayaan untuk seluruh dunia dengan menghapus tanggal-tanggal yang lain. Urutan angka di belakang nama para paus tidak otomatis menunjukkan keberurutan masa kepemimpinan mereka.

Kendati pengejaran terhadap para orang Kristiani telah berakhir, tetap saja muncul para martir baru di mana pun di dunia ini. Hal ini wajar mengingat mereka gugur sebagai martir, karena mempertahankan iman mereka dari penindasan pihak lain. Mereka dapat juga dinyatakan sebagai orang kudus, berkat keteladanan hidup yang mereka tampilkan dan mereka dapat saja paus, kardinal, uskup, imam, biarawan/biarawati, dan umat biasa.

Sebelum seseorang dinyatakan kudus, ada proses yang disebut kanonisasi. Selama tiga setengah abad proses ini telah berlaku. Proses ini dimulai dari umat setempat bersama uskupnya. Jika keseluruhan hidup seseorang dipandang pantas, maka keuskupan dapat mengusulkan proses penyelidikan lebih lanjut kepada panitia kanonisasi di Vatikan.

Sejak saat itu ia digelari servus Dei (hamba Allah), itulah tahap pertama. Jika hasil penyelidikan itu positif, ia mendapat dekrit dari panitia dan digelari venerabilis (yang patut dihormati), itulah tahap kedua. Selanjutnya, disyaratkan oleh panitia kanonisasi adanya dua mujizat yang dialaminya dan dinyatakan sah. Lalu Bapa Paus yang berhak menetapkannya sebagai beatus (yang berbahagia, lazim disebut beato), itulah tahap ketiga. Pada tahap keempat dan terakhir diberi gelar sanctus (yang kudus, lazim disebut santo), juga hanya menjadi hak Bapa Paus untuk memberikan gelar tersebut, jika ia merasa bahwa kesucian orang itu semakin meyakinkannya.

Proses ini amat ketat dan membutuhkan waktu yang lama. Sejak zaman dahulu hingga sekarang baru 1.700 orang yang bergelar orang-orang kudus.

Mengapa Gereja Katolik memberi mereka gelar sebagai orang kudus? Bukan karena mereka sakti mandraguna, tetapi karena mereka kendati punya kelemahan dan dosa telah berserah diri kepada Allah dan mengandalkan kekuatan-Nya. Mereka berupaya dengan sungguh untuk menjadi sempurna seperti perintah Tuhan Yesus (Matius 5 : 48). Juga mereka bersikap pantang menukar iman mereka dengan apa pun, sebaliknya lebih memilih kehilangan nyawa dari pada kehilangan iman, sesuai dengan sabda Tuhan Yesus (Nmarkus 8 : 35). Memang hidup ini ibarat pertandingan dan orang yang bertanding dalam imannya berupaya meraih mahkota yang abadi (I Korintus 9 : 25).

Bagaimana dengan kehidupan kita? Di banyak tempat di dunia ini, masih ada orang-orang Kristiani yang mengalami penderitaan, karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Kita mendoakan, agar mereka kuat dan teguh dalam memegang iman mereka.

Bagaimana dengan mereka yang hidup dalam suasana damai tanpa mengalami penindasan? Kita mengenal panggilan `’kemartiran tanpa darah’ yang belum tentu lebih mudah ketimbang ‘kemartiran dengan darah’. Beberapa tantangan misalnya, sejauh mana para orang Kristiani berani melawan ajakan untuk korupsi, kolusi, dan nepotisme? Juga menyatakan kebenaran dan kejujuran, serta mau terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan yang mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan dananya? Bahkan, satu bidang yang menantikan keterlibatan para orang Kristiani yakni penyelamatan lingkungan hidup.

Kita diminta untuk terlibat dalam kepedulian terhadap masalah air, listrik, dan sumber daya yang lain. Juga pengelolaan sampah, kesetiakawanan sosial, dan upaya mengatasi kesulitan hidup bermasyarakat yang lainnya.

Semoga kita memikirkannya dengan baik peran serta kita masing-masing bagi perbaikan hidup masyarakat dan dunia. Amin.***

*Penulis, pastor Gereja Katolik, tinggal di Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 3 November 2007

Facebook Comments