Situs Yaahowu: A website of Nias Island’s people, culture, language and current affairs

Situs budaya, bahasa dan aktualita masyarakat Nias
  • Depan
  • Tentang Kami
  • Buku Tamu
  • Polls Archive
  • Tautan
    • Nias | Yang Terkait
    • Situs Komunitas Lain
  • Perguruan Tinggi
    • Australia
    • Belanda
    • Indonesia - Negeri
    • Indonesia - Swasta
    • Jerman
    • Swiss
    • Swedia
  • Info Nias
    • Info Penerbangan
    • Marga (Mado) Suku Nias
  • Indonesia
    • Kabinet Indonesia Bersatu
    • Daftar Provinsi
Anda ingin menyumbang tulisan, atau menginformasikan kegiatan masyarakat Nias ? Silahkan mengirim ke Redaksi: nias.online@gmail.com

Orang Kudus

Oleh PASTOR PAULUS TRI PRASETIJO, P.R.

Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8 : 18).

Gereja Katolik sedunia merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus setiap 1 November. Bagaimana latar belakang dan maksud perayaan ini? Bagaimana prosesnya sampai seseorang digelari kudus? Bagaimana kitab suci berbicara tentang kekudusan dan para orang kudus itu? Bagaimana dengan kita, mungkinkah kita menjadi orang kudus dalam kehidupan modern pada zaman sekarang ini? Itulah sejumlah pertanyaan yang dapat kita ajukan.

Jika ditelusuri sejarahnya, kita menengok ke belakang ketika pengajaran iman Kristen telah melintas dari tanah Palestina ke benua Eropa, tepatnya kekaisaran Romawi dengan pusatnya Kota Roma. Dua orang tokoh yakni Santo Petrus dan Santo Paulus, yang menolak penyembahan kepada dewa-dewi orang Romawi telah dihukum mati dan para Kristiani dikejar, ditangkap, dan dibunuh dengan pelbagai cara. Hal itu terjadi bertahun-tahun lamanya, sehingga ratusan ribu nyawa melayang demi mempertahankan iman mereka. Oleh karenanya, mereka disebut `martir’ yang berasal dari martyria (bahasa Yunani yang artinya kesaksian).

Masa kelam itu berakhir setelah kaisar Konstantinus mengeluarkan Edikta Milan (313 M) yang menetapkan agama ini sebagai agama kekaisaran. Dengan demikian, mengakhiri penumpasan itu. Mengapa Konstantinus bertindak demikian? Karena, ia melihat daya tahan orang Kristiani dan moralitas yang digariskan itu berasal dari iman yang mereka hayati.

Jauh berbeda dengan iman dan moralitas orang Romawi, yang melakukan tindakan penumpasan itu justru semakin amburadul. Dengan Edikta Milan itu, Konstantinus hendak memulihkan kehidupan seluruh masyarakat Romawi untuk menuju ke arah perbaikan. Konstantinus sendiri kemudian menjadi seorang Kristiani.

Perubahan ini tentu membuat orang-orang Kristiani bergembira dan mereka mengenang saudara-saudarinya yang telah gugur dalam satu perayaan. Nyata bagi kita bahwa prakarsa datang dari para jemaat lokal untuk merayakannya dalam satu hari khusus, misalnya di Kota Edessa 13 Mei, di Siria Jumat sesudah Paskah, di Antiokhia Minggu pertama sesudah hari Pentakosta.

Sedang penetapan 1 November bermula dilakukan oleh Paus Gregorius III (731-741) dengan satu oratorium (khotbah) di Basilika Santo Petrus untuk menghormati para orang kudus, menyusul kemudian Paus Gregorius IV (827-844) menetapkannya sebagai perayaan untuk seluruh kekaisaran Romawi dan dilanjutkan Paus Gregorius VII (1073-1085), yang menjadikannya sebagai perayaan untuk seluruh dunia dengan menghapus tanggal-tanggal yang lain. Urutan angka di belakang nama para paus tidak otomatis menunjukkan keberurutan masa kepemimpinan mereka.

Kendati pengejaran terhadap para orang Kristiani telah berakhir, tetap saja muncul para martir baru di mana pun di dunia ini. Hal ini wajar mengingat mereka gugur sebagai martir, karena mempertahankan iman mereka dari penindasan pihak lain. Mereka dapat juga dinyatakan sebagai orang kudus, berkat keteladanan hidup yang mereka tampilkan dan mereka dapat saja paus, kardinal, uskup, imam, biarawan/biarawati, dan umat biasa.

Sebelum seseorang dinyatakan kudus, ada proses yang disebut kanonisasi. Selama tiga setengah abad proses ini telah berlaku. Proses ini dimulai dari umat setempat bersama uskupnya. Jika keseluruhan hidup seseorang dipandang pantas, maka keuskupan dapat mengusulkan proses penyelidikan lebih lanjut kepada panitia kanonisasi di Vatikan.

Sejak saat itu ia digelari servus Dei (hamba Allah), itulah tahap pertama. Jika hasil penyelidikan itu positif, ia mendapat dekrit dari panitia dan digelari venerabilis (yang patut dihormati), itulah tahap kedua. Selanjutnya, disyaratkan oleh panitia kanonisasi adanya dua mujizat yang dialaminya dan dinyatakan sah. Lalu Bapa Paus yang berhak menetapkannya sebagai beatus (yang berbahagia, lazim disebut beato), itulah tahap ketiga. Pada tahap keempat dan terakhir diberi gelar sanctus (yang kudus, lazim disebut santo), juga hanya menjadi hak Bapa Paus untuk memberikan gelar tersebut, jika ia merasa bahwa kesucian orang itu semakin meyakinkannya.

Proses ini amat ketat dan membutuhkan waktu yang lama. Sejak zaman dahulu hingga sekarang baru 1.700 orang yang bergelar orang-orang kudus.

Mengapa Gereja Katolik memberi mereka gelar sebagai orang kudus? Bukan karena mereka sakti mandraguna, tetapi karena mereka kendati punya kelemahan dan dosa telah berserah diri kepada Allah dan mengandalkan kekuatan-Nya. Mereka berupaya dengan sungguh untuk menjadi sempurna seperti perintah Tuhan Yesus (Matius 5 : 48). Juga mereka bersikap pantang menukar iman mereka dengan apa pun, sebaliknya lebih memilih kehilangan nyawa dari pada kehilangan iman, sesuai dengan sabda Tuhan Yesus (Nmarkus 8 : 35). Memang hidup ini ibarat pertandingan dan orang yang bertanding dalam imannya berupaya meraih mahkota yang abadi (I Korintus 9 : 25).

Bagaimana dengan kehidupan kita? Di banyak tempat di dunia ini, masih ada orang-orang Kristiani yang mengalami penderitaan, karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Kita mendoakan, agar mereka kuat dan teguh dalam memegang iman mereka.

Bagaimana dengan mereka yang hidup dalam suasana damai tanpa mengalami penindasan? Kita mengenal panggilan `’kemartiran tanpa darah’ yang belum tentu lebih mudah ketimbang ‘kemartiran dengan darah’. Beberapa tantangan misalnya, sejauh mana para orang Kristiani berani melawan ajakan untuk korupsi, kolusi, dan nepotisme? Juga menyatakan kebenaran dan kejujuran, serta mau terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan yang mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan dananya? Bahkan, satu bidang yang menantikan keterlibatan para orang Kristiani yakni penyelamatan lingkungan hidup.

Kita diminta untuk terlibat dalam kepedulian terhadap masalah air, listrik, dan sumber daya yang lain. Juga pengelolaan sampah, kesetiakawanan sosial, dan upaya mengatasi kesulitan hidup bermasyarakat yang lainnya.

Semoga kita memikirkannya dengan baik peran serta kita masing-masing bagi perbaikan hidup masyarakat dan dunia. Amin.***

*Penulis, pastor Gereja Katolik, tinggal di Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 3 November 2007

November 3rd, 2007 by nias in Refleksi

2 Komentar

  1. # 1 yulius Says:
    June 22nd, 2008 at 8:26 pm

    Romo,saya ingin tanya.menurut beberapa buku moderen in,katanya santo Petrus dan santo Paulus ternyata sering sekali berbeda pendapat.maksud saya,bahkan terlihat beda prinsip.apa betul begitu?

    1. Apa betul Petrus sgt disiplin mengenai hukum taurat dan perbedaan pria dan wanita?sedangkan Paulus lebih fleksible?
    2. Sebenarnya kenapa kok Santo Petrus yg dipilih Yesus sebagai pemimpin GerejaNya?apa ada sifat2 beliau?yang seperti apa ya?

    terima kasih.Tuhan Memberkati

  2. # 2 Redaksi Says:
    June 22nd, 2008 at 10:17 pm

    Pak Yulius,

    Terima kasih atas kunjungan Anda ke situs ini.

    Pertanyaan Anda sebaiknya Anda alamatkan kepada pihak yang lebih kompeten - datangilah petugas Gereja (Katolik) di dekat tempat tinggal Anda, dan mudah-mudahan mereka akan bisa membantu menjawab pertanyaan Anda.

    Salam,

    Redaksi.

← Unicef Serahkan Gedung SDN 070975 Berbiaya Rp3,2 M Lebih Kepada Pemkab dan Masyarakat Nias
Pusat Hambat Pemutihan Kredit Korban Gempa Nias →

  • Topik

    • Asal Usul
    • Bahasa Nias
    • Bakal Protap
    • Berita Aktual
    • Berita Keluarga
    • Budaya
    • Cakrawala
    • Diskusi Online I - Protap
    • Diskusi Online II - RR Nias
    • Fokus
    • Gempa - Tsunami
    • Gempa Nias 2005
    • Internasional
    • Lingkungan
    • Opini
    • Pariwisata
    • Pemekaran Nias
    • Pendidikan - Beasiswa
    • Pengumuman
    • Publikasi
    • Rasionalitas
    • Refleksi
    • Rekonstruksi
    • Sains - Teknologi
    • Sosok
    • Syair Lagu Koor Gereja
    • Syair Lagu Nias
    • Varia Nias
    • Wawancara
  • Archives

    • 2008
    • 2007
    • 2006
    • 2005
  • Meta

    • Log in
    • Entries RSS
    • Comments RSS
    • WordPress.org
  • Search

  • Untuk mencari artikel atau berita, masukkan kata kunci (misalnya: budaya Nias, li niha, mantra) pada kotak pencarian di atas, lalu klik 'Search'.
    • Kamus Nias
    • Masyarakat Nias di Batam
    • Nias Dalam Gambar
    • Nias Island
  • Kalender Berita

    November 2007
    M T W T F S S
    « Oct   Dec »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Komentar Terbaru

    • togar sianipar nama julukan tu bos alias tian gaurifa pasir puti on Pemekaran Wilayah: Peluang Emas Pembangunan Pariwisata Nias
    • Kristian on Buku Tamu
    • Edi Zai on Tahun 2009, Gaji Guru Naik 100 Persen
    • Zulfahri on Hari ini, 182.218 Pelamar CPNS di Sumut “Bertarung” Rebut 14.360 Kursi
    • eva on Mencermati Perubahan di Masyarakat Kepulauan Nias Akibat Bencana-Bencana Alam
    • Persiapan Seleksi on Tersangka Korupsi Proyek Pengadaan Kapal Nelayan di Nias akan Bertambah
    • surya on Situs Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta
    • ashari on Keteguhan Hati Dokter Kanserina
    • athan on “Forum Komunitas” Situs Yaahowu - Percobaan
    • Jurnalis on Rahasia di balik sukses pemekaran Nias
    • Zichazataro W'au on Tahap-tahap Pembentukan Propinsi Tanö Niha
    • yuens on Lowongan Kerja di Bank Indonesia
    • besta on Beasiswa Fulbright 2009
    • tika on Hari ini, 182.218 Pelamar CPNS di Sumut “Bertarung” Rebut 14.360 Kursi
    • Wiem Hoerst on Rahasia di balik sukses pemekaran Nias

Bahasa Nias

  • Seminari ba Gombõlata
  • Fadirihifi, Fabehadoho
  • Arti dan Makna Salam “Ya’ahowu”

Budaya

  • Letjend (Purn) Dr TB Silalahi SH Resmikan Museum Pusaka Nias di Gunung Sitoli
  • Penelitian PKPA: 20 Persen Anak Nias Nikah Usia Dini
  • Tayang Perdana Film Perkawinan Dini di Nias

Syair Lagu Nias

  • Hoho Si Tölu Nawua – Hoho Maluaya Si’öligö
  • Hoho Ninawuagö
  • Hoho Si Tölu Fanema

Rasionalitas

  • Gedung KPU Sumut “Diserang” Supranatural
  • Pemuja Setan Mengorbankan Empat Orang Remaja
  • Djoko Suprapto Undang Menristek untuk Saksikan “Blue Energy”

Sains & Teknologi

  • Nyi Roro Kidul dan Risiko Bencana Tsunami
  • 217 Kali Tsunami Terjadi di Indonesia: Kenalkan Peringatan Dini Geologi
  • Budaya Ilmu Tanpa Tembok

Pendidikan & Beasiswa

  • Beasiswa “British Chevening Awards” untuk tahun 2009/2010
  • Tahun 2009, Gaji Guru Naik 100 Persen
  • Beasiswa Fulbright 2009

Internasional

  • Tahun 2009 Indonesia Mampu Mengekspor Beras
  • Paus Menyambut Kedatangan Tokoh-Tokoh Islam dalam Suatu Forum Bersejarah
  • Obama: Presiden Kulit Hitam Pertama Amerika

Lingkungan Hidup

  • Dampak Global Warming-Pulau Tenggelam Ancam Keamanan Negara
  • Al Gore Mendesak Pengerahan Upaya Beralih ke Energi Bebas Karbon
  • Target Iklim Kelompok Delapan Slogan Kosong

Cakrawala

  • Melebihi Harapan, Forum Katolik-Islam di Roma Mempererat Relasi
  • Transkrip Pidato McCain dari CNN
  • Transkrip Pidato Kemenangan Obama dari CNN (Obama’s Winning Speech)


Situs Yaahowu © 2005-2008 Creative Commons Attribution 3.0 License
Menggunakan WordPress.

Borokoa versi 2.0 dibuat oleh Nurudin Jauhari
Entries and Comments.