E.  Halawa*

Mantra adalah ucapan berdaya magis yang diucapkan ketika menginginkan sesuatu melalui bantuan daya-daya irasional. Mantra bisa muncul dalam bahasa apa saja, dalam bentuk rentetan kata-kata yang tidak harus dimengerti oleh pengguna atau pengucap. Yang utama dari sebuah mantra ialah: irasionalitasnya.

Irasionalitas mantra muncul dalam beberapa bentuk, antara lain: (1) “pemaksaan” permintaan si pengucap kepada sumber kekuatan, rejeki dan sebagainya (Tuhan, malaikat, setan atau alam), (2) pelecehan keilahian Tuhan, (3) persekutuan dengan setan, (4) penjerumusan akal budi melalui pemujaan benda-benda mati atau “kekuatan” alam.

A. Pemaksaan kehendak dan pelecehan keilahian Tuhan

Amati dengan seksama isi mantra berikut.

mantra cari jodoh [1]
ya Allah, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah…
tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah….
jika dia tidak berjodoh denganku,maka jadikanlah kami jodoh …
kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapat jodoh yang lain, selain aku …
ya Allah, kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku,
jangan sampai dia dapat jodoh yang lain,
biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku …
dan saat dia telah tidak memiliki jodoh
jodohkanlah kami kembali …
ya Allah, kalau dia jodoh orang lain,
putuskanlah!
Jodohkanlah denganku …
jika dia tetap menjadi jodoh orang lain,
biar orang lain itu ketemu jodoh dengan yang lain
dan kemudian jodohkan kembali dia denganku.
Amin.

Secara sepintas, mantra di atas seperti sebuah do’a biasa – nama Tuhan disebut, dan ada permintaan: jodoh. Akan tetapi kalimat-kalimatnya tidak bernada pemintaan atau permohonan kepada yang dijunjung tinggi; sebaliknya: ia bernada memaksa dan mendikte, dan bahkan mengandung unsur memohon “keburukan” untuk pihak lain (“biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku”).

Jadi walau nama yang ilahi disebut dalam mantra, ia tidak mencerminkan penyembahan tulus kepada yang ilahi itu. Sebaliknya: mantra berkonotasi pelecehan terhadap keilahian Tuhan.

Berikut adalah satu contoh mantra kebal, yang merupakan penyalahgunaan Tanda Salib dari bahasa Latin dalam Agama Katolik.

Mantra kebal [2]
inomenine e pateri e fili sipirito. ame.
Dalam bahasa aslinya (Latin), do’a itu berbunyi sebagai berikut: In nomine Patris, et Fílii, et Spíritus Sancti. Amen. (Di dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amen).

Pengucapan mantra itu dilakukan sambil menepuk 7 (tujuh) tempat di bagian depan badan yaitu: dahi, bahu kiri dan kanan, siku kiri dan kanan, dan lutut kiri dan kanan secara bergantian. Penepukan titik-titk itu dilakukan dengan pangkal telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. Menurut pemakainya, setelah pengisian itu, ia sangat percaya diri, siap untuk bertempur, dan tahan pisau. Anehnya, pemakai mantra itu bukanlah orang Katolik, ia juga mendapatkannya dari seseorang yang juga bukan Katolik.

Dalam kasus di atas, penyebutan nama Tuhan tidak dalam konteks penghormatan – sebaliknya: pelecehan terhadap nama Tuhan. Orang yang bersangkutan, setelah ‘terisi’ dengan mantra itu, justru menjadi sombong, percaya diri berlebihan, dan siap menghadang siapa saja yang ingin menantangnya secara fisik. Dapat disimpulkan bahwa ada kekuatan lain yang ‘negatif’ yang menjadi dalang dari ‘pelecehan’ itu, dan yang juga menawarkan kekuatan kepada orang yang terkepung itu, kekuatan mana dimunculkan seakan-akan berasal (atau dengan restu) dari Tuhan.

Kata-kata dan nama-nama suci dari berbagai agama sering disalahgunakn dan bahkan menjadi salah satu sumber utama mantra. Hopes [3] misalnya memuat sebuah mantra yang ‘diadopsi’ dari Quran, dalam bahasa Arab. Dalam sebuah artkelnya, Haron [4] memuat banyak contoh mantera.

Dalam artikel Rahasia di Balik Tenaga Dalam ? penulis mengisahkan tentang dua orang yang melakukan atraksi kekebalan. Kelincahan gerak dan kekebalan tubuh menahan tusukan pisau tajam bukan berasal dari latihan-latihan fisik biasa, melainkan dari hasil “pengisian” yang dilakukan beberapa waktu menjelang atraksi itu. “Pengisian” itu biasanya dilakukan secara rahasia, di dalam kamar yang hanya dihadiri oleh orang-orang yang terkait. Anak-anak biasanya dilarang keras mendekati acara “pengisian” itu karena bisa kena imbasnya. Setelah “pengisian” dengan mudah kita bisa mengamati perubahan pada fisik mereka (lihat: Ciri-ciri Pemilik Daya Irasional).

B. Persekutuan Dengan Setan
Dalam berbagai majalah yang berkaitan dengan gejala “paranormal”, banyak mantra yang menyebut langsung nama setan untuk meminta pertolongannya: misalnya untuk memelet atau menyantet seseorang. Penulis juga mendapat informasi [5] bahwa nama Amosdeus, si setan jahat, setan pembunuh yang muncul dalam surat Tobit dalam Deutrokanonika sering dipakai para pengejar daya-daya gaib untuk mendapatkan kekuatan dari padanya. Cukup dengan menyebut namanya dan mengajukan permintaan tertentu kepadanya, “doa” pengucap akan terkabul.

Unsur irasionalnya adalah: pemujaan langsung kepada Setan, secara langsung merupakan penghinaan kepada SANG PENCIPTA.

C. Ketundukan akal budi pada makhluk rendah
Permintaan kekuatan pada berbagai jenis benda dan makhluk hidup (pohon-pohon besar dan binatang) tidak jarang dilakukan oleh para pengejar daya-daya irasional. Permintaan itu juga sering muncul lewat mantra. Demikian juga pengejaran tuah pada benda-benda mati seperti batu cincin, gua ‘angker’, keris, kristal dan sebagainya banyak dilakukan oleh para pengejar daya-daya irasional. Unsur irasionalnya: ketundukan kepada makhluk-makhluk yang lebih rendah kodratnya dari manusia. Dengan demikian, manusia, yang merupakan makhluk tertinggi, menghambakan diri kepada makhluk lain yang seharusnya menjadi suruhannya.

Dari apa yang dikemukakan di atas, terlihat:

  1. Keampuhan mantra tidak berasal dari ketepatan pengucapan kata-kata yang dikandungnya. Sebagaimana telah dikemukakan di depan, padanya umumnya mantra salah dituliskan atau salah diucapkan oleh penggunanya.
  2. Keampuhan mantra tidak muncul dari pemahaman arti yang dikandung dalam mantra oleh penggunanya. Bahkan adakalanya, pemahaman arti yang dikandung dalam mantra mengakibatkan ‘pemberontakan’ kesadaran, sehingga ‘calon’ pengguna mantra justru menjauhinya. Misalnya saja, apabila yang bersangkutan tersadar bahwa apa yang terkandung dalam mantra menjurus kepada pelecehan keilahian Tuhan, maka bisa saja yang bersangkutan justru menjauhi mantra yang ditawarkan sang dukun. Akan tetapi di pihak lain, adakalanya ‘calon’ pengguna memang telah begitu terperosok ke dalam kegelapan … maka dia tidak berkeberatan terhadap tawaran mantra yang berkonotasi pelecehan keilahian Tuhan seperti itu. Bahkan yang bersangkutan tak segan-segan menggunakan mantra yang jelas-jelas mengarah kepada penyembahan makhluk rendah dan gelap: setan.
  3. Keampuhan mantra berasal dari penyalahgunaan sumber mantra dan berhasilnya irasionalitas menguasai si pengguna mantra. Hal ini berarti yang bersangkutan tunduk pada daya-daya irasional yang berkodrat rendah seperti binatang-binatang, pohon-pohon, benda-benda ‘bertuah’ seperti cincin, kristal, pisau dan sebagainya. Begitu yang bersangkutan terjerembab ke dalam hal itu, maka irasionalitas mengental, yang bermuara pada terkepungnya yang bersangkutan di dalamnya. Pada saat itulah hal-hal aneh dan irasional yang dikemukakan dalam berbagai rangkaian tulisan ini muncul dan menjadi ‘keseharian’ yang bersangkutan.
  4. Pemberian daya magis itu dari sumbernya kepada pengejarnya terealisasikan apabila salah satu dari hal berikut dilakukan: (1) penyalahgunaan daya ilahi atau pelecehan keilahian Tuhan, (2) ketundukan atau penyerahan diri atau penyembahan langsung pada sumber daya gaib itu, atau (3) ketundukan pengejar daya gaib kepada makhluk-makhluk yang lebih rendah kodratnya dari manusia.

Rujukan:
[1] Mantra kiriman lewat email.
[2] Dari komunikasi pribadi dengan seseorang yang pernah menggunakan mantra tersebut (sekitar awal 1970an).
[3] Hopes, M. (1997): Ilmu – Magic and Divination amongst the Benuaq and Tunjung Dayak, memuat sebuah mantra yang ‘diadopsi’ dari Quran.
[4] Daud, H.: Bahasa dalam mantera: Penggunaannya dan Pengucapannya (http://www.dbp.gov.my/dbp98/malajah/bahasa99/j05guna.htm)
[5] Dari komunikasi pribadi dengan seseorang yang pernah menggunakan mantra tersebut (sekitar akhir tahun 1980an)

Dimuat pertama kali di blog Yaahowu: Sabtu, 12 Juni 2004

Facebook Comments