Oleh Mathias J. Daeli

I
Akhir-akhir ini, dalam Situs Yaahowu, termasuk yang ramai dibicarakan adalah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht “dalam upaya menelusuri asal usul orang Nias dan penyebarannya berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA atau deoxiribonucleic acid) dan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan”.

Sampai sekarang banyak yang telah memberi komentar dengan berbagai sudut pandang. Redaksi tanggal 10 Agustus 2007 telah menyampaikan 9 pertanyaan dan telah dijawab oleh Prof . Dr. med. Ingo Kennerkenecht tanggal 19 Oktober 2007 dengan judul: No Commercial Interests and No Patents Will be Applied (Catatan Redaksi: Judul ini diambil redaksi dari bagian akhir Wawancara itu). Dan, sebelum pertanyaan itu dijawab telah dilakukan 2 (dua) bentuk publikasi yang berbeda hasil penelitian itu dengan judul sama : “The Genetics of Nias – Concepts and First Data”(dapat dibaca di Situs Ya’ahowu ini).

Sehubungan dengan publikasi ini, saya pernah mengemukakan di bagian lain dalam Situs Ya’ahowu ini, mengharap agar terhadap materi yang terkait dengan analisa DNA dan penyakit, ditanggapi oleh yang memiliki pengetahuan demi kebenaran ilmiah. Terus terang saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu. Yang menjadi perhatian saya adalah seperti dalam judul di atas: OBJEK – SUBJEK YANG BERHARAP.

Gagasan menulis dengan judul itu timbul setelah membaca jawaban Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht atas 9 pertanyaan yang disampaikan oleh Redaksi Situs Ya’ahowu (No Commercial Interests and No Patents Will be Applied) seperti tersebut di atas. Kemudian di bagian lain dari jawaban itu, Prof. Ingo menegaskan lagi bahwa: “As soon as we have valid data they will be published in scientific peer reviewed papers according to international standards and available to everyone who is interested in”.

Penegasan Prof. Dr. med, Ingo Kennerknecht tersebut adalah dalam hubungan hak-hak kekayaan intelektual (HAKI) atas hasil penelitiannya. Dari penegasan itu, pada satu sisi dunia ilmu pengetahuan pada umumnya dan masyarakat Ono Niha (Suku Nias) khususnya patut menghargai ketulusan Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht. Ia merupakan salah seorang ilmuwan yang tidak mengutamakan keuntungan keuangan atas hasil pikir dan jerih payahnya selama melakukan penelitian.

Akan tetapi pada sisi lain yang saya mengharap perhatian semua pihak adalah terkait subjek yang menjadi objek penelitian – yang diambil darahnya sebagai sampel. Mereka adala penderita penyakit kronis, yang oleh Prof Ingo mengatakan bahwa sebagian dari penyakit yang diderita itu “penyakit keturunan”.

Kita ketahui ada 2 (dua) tujuan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht. Mengenai yang pertama “penelitian asal usul orang Nias dan penyebarannya berdasarkan genotip (penelitian sampel DNA atau deoxiribonucleic acid) menurut saya segi ini lebih bersifat elitis dan esoterik. Dalam era globalisasi yang ditandai kemajuan IPTEK yang pesat terutama di bidang informasi, komunikasi, dan transportasi, pengetahuan seseorang mengenai “DNA” nya tidak segairah dalam masyarakat yang masih tertutup.

Dr. James Watson salah satu ilmuwan yang menguak struktur DNA hingga membawanya sebagai penerima hadiah Nobel, juga sebagai orang pertama yang memiliki peta genom tubuhnya sendiri mengatakan “Meski telah memegang peta genomnya sendiri, saya belum berniat untuk mendengarkan hasil analisis lainnya setidaknya bagian yang menjelaskan apakah gennya membawa sifat penyakit Alzheimer atau tidak. Sebab, ibu saya sendiri meninggal karena penyakit tersebut”.

Pernyataan yang senada dikatakan oleh Amy McGuire, asisten profesor kedokteran di Pusat Kebijakan Etika Medis Baylor. Menurut Amy McGuire “diagnosis medis dengan memanfaatkan sifat genetik manusia masih menimbulkan perdebatan terutama menyangkut etika. Salah satunya bagaimana agar informasi tersebut tidak membuat seseorang didiskriminasikan atau dikucilkan dari lingkungannya. Selain itu, belum tentu setiap orang mau mengetahui kekurangan dirinya” (Kompas, Sabtu, 02 Juni 2007)

II
Memang dalam era perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, terutama pada paruh kedua abad ke –XX, timbul berbagai masalah kemanusiaan. Misalnya di bidang: energi nuklir, mikrobiologi, genetic enginering, tranplantasi organ, farmacopsychologi dan farmacopsychiatri, menimbulkan problema-problema yang berhubungan dengan hayat dan maut manusia. Problema-problema yang tidak dapat diputuskan berdasar kaidah-kaidah ilmu itu sendiri mau pun oleh para ilmuwannya, melainkan memerlukan penerapan norma moral di luar bidang itu dan di luar lingkungan para ilmuwan.

Berhadapan kenyataan itu, orang tidak jarang yang pesimis dan mempertanyakan: Apakah ilmu itu suatu berkah atau kutukan ? Untuk apa sebenarnya ilmu itu dipergunakan ? Di mana batas penjelajahan keilmuan ? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan ? Bagi orang yang berpandangan hidup bahwa “Ilmu Bebas Nilai” atau “Ilmu utuk Ilmu” pertanyaan-pertanyaan semacam itu jelas tidak penting. Sebaliknya bagi orang yang memiliki pandangan bahwa ilmu untuk melengkapi harkat dan martabat manusia yang hakiki, jawaban dan penjelasan-penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah urgent, penting, dan strategis karena demi kelangsungan kehidupan yang baik.

Dewasa ini ilmu sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi (dan penciptaan ?) manusia itu sendiri melalui revolusi ilmu di bidang genetika dengan analisa DNAnya. Kalau sebelum revolusi genetika ini, ilmu menelaah manusia hanya dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, tetapi dewasa ini berkembanglah ilmu yang membidik manusia secara langsung sebagai objek penelaahan. Ilmu tidak lagi menelaah organ-organ manusia dalam upaya untuk menciptakan teknologi yang memberikan kemudahan bagi kita, melainkan manusia itu sendiri sekarang menjadi objek penelaahan. Yang dihasilkan bukan lagi teknologi yang memberikan kemudahan, melainkan teknologi yang mengubah manusia itu sendiri.

Apakah pernah terbayang sebelumnya ? Dengan revolusi genetika ini memungkinkan jaringan tubuh kita – sel dengan isinya, DNA dan sebagainya “bukan” miliki kita lagi. Sebab, darah dan atau jaringan tubuh yang digunakan untuk bahan penelitian (seharusnya demi kemanusiaan), tanpa kita ketahui dapat menjadi sarana bagi industri yang bertujuan mendapat keuntungan (contoh kasus mengenai ini lihat: Hak Paten Atas DNA Milik Siapa oleh M.J. Daeli, dalam Situs ini).

Dari uraian diatas menjadi jelas bahwa ilmu pengetahuan terbentur pada masalah-masalah yang tidak dapat diatasi hanya dengan berpegang pada kaidah-kaidah ilmu itu seperti yang disampaikan oleh Dr. James Watson dan Amy Mc Guire tersebut di atas. Ia (IPTEK) memerlukan kerangka referensi di luar dirinya sendiri, khususnya yang mampu mencakup pertimbangan-pertimbangan etis dan nilai budaya yang sifatnya mutlak untuk kehidupan manusia yang berbudaya.

III
Kembali pada judul artikel ini “Objek – Subjek Yang Berharap”. Setiap orang dapat membayangkan para subjek – yang menderita penyakit, ketika diambil darahnya sebagai sampel, memiliki “harapan”. Berharap bahwa PEMDA Nias, Dr Idaman Zega, dan terlebih kepada Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht dapat menyembuhkan penyakit mereka, sehingga mereka sembuh dan menjadi seperti saudara-saudaranya yang lain yang tidak cacat. Berharap bahwa penyakit yang mereka derita itu tidak terwariskan kepada keturunannya kelak. Harapan sedemikian itu adalah wajar dan manusiawi. Mereka dengan rela berbaris untuk di foto, rela penyakitnya difoto, rela menjajarkan jari-jari yang cacat, dan diambil gambarnya karena harapan tadi.

Kita percaya bahwa tujuan penelitian yang dilakukan oleh Pro. Dr. med. Ingo Kennerknecht adalah untuk melengkapi harkat dan martabat manusia yang hakiki dan bukan semata-mata demi “Ilmu untuk Ilmu” atau “Ilmu Bebas Nilai”. Karena itu kita berharap, pernyataan Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht dalam jawaban atas pertanyaan Redaksi seperti yang dikutip di atas “As soon as we have valid data they will be published in scientific peer reviewed papers according to international standards and available to everyone who is interested in”, DIKOREKSI. Yaitu: hasil penelitiannya itu diutamakan untuk menolong subjek yang diambil sampel darahnya baru kemudian menyusul “to every one who is interested in”.

Akhirnya, dengan kerja sama semua pihak maka harapan mereka (penderita yang menjadi sampel penelitian) itu bukanlah hal yang mustahil terwujud. Semoga !

Jakarta, 28 Oktober 2007.-

Facebook Comments