[JAKARTA] United Nation Development Pro gram (UNDP) yang mengurutkan negara menurut indeks rentan terhadap serangan harga minyak (oil price vulnerability index/(OPVI) menyebutkan, kendati pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik bertumbuh, lonjakan harga minyak mentah mengancam nasib masyarakat miskin di kawasan ini yang mencapai jutaan jiwa. “Lonjakan harga minyak menjadikan mereka semakin terperangkap kemiskinan,” demikian laporan UNDP yang dikeluarkan di Bangkok belum lama ini.

OPVI memuat variabel-variabel yang menunjukkan kekuatan ekonomi, kinerja ekonomi dan tingkat ketergantungan pertumbuhan satu negara terhadap konsumsi minyak.

Berdasarkan OPVI, negara yang paling tidak rentan adalah Iran diikuti Tiongkok dan Malaysia. Di urutan paling bawah menempatkan negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang lemah, kinerja ekonominya rendah dan tingkat ketergantungan yang tinggi pada minyak seperti Maldiva, Vanuatu, dan Kamboja.

Menurut laporan itu, Filipina lebih peka terhadap kenaikan minyak mentah dibanding Indonesia, Myanmar, Malaysia, dan Thailand.

Hal itu disebabkan, karena negara itu lebih intensif mengimpor minyak. Sementara Timor Leste juga rentan, karena berpendapatan rendah dan sering digoncang ketidakstabilan politik.

Pada umumnya, negara-negara Kepuluan Pasifik sangat peka terhadap kenaikan harga minyak mentah, karena pasar mereka kecil dan terpencil serta harus menanggung biaya transportasi kapal yang lebih tinggi.[PR/B-15]

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/27/index.html

Facebook Comments