[JAKARTA] Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Chalid Muhammad, menegaskan, upaya penanganan fenomena pemanasan global dan perubahan iklim membutuhkan lebih dari sekadar publisitas, tetapi juga teladan dari berbagai pihak, terutama para pejabat.

Hal itu dikatakan Chalid dalam diskusi tentang perubahan iklim yang digelar di kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (26/10). Pembicara lain adalah pakar lingkungan hidup Prof Dr Emil Salim, dan Nur Hidayati dari Greenpeace.

Chalid mengingatkan, meski Indonesia menjadi tuan rumah sidang para-pihak ke-13 Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim di Bali pada Desember mendatang, ternyata mereka yang peduli pada perubahan iklim di kalangan birokrasi masih merupakan kelompok minoritas.

Menurut dia, sangat ironis karena perubahan iklim hanya dianggap sebagai urusan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Padahal, katanya, perubahan iklim harus melibatkan semua sektor, antara lain Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Bappenas, juga Kementerian Perumahan Rakyat.

Sangat MinimDi DPR, lanjut Chalid, isu perubahan iklim lebih tidak kelihatan lagi. Di tempat wakil rakyat itu, katanya, tidak ada perdebatan serius soal kesiapan Indonesia untuk memenangi agenda nasional dalam pertemuan internasional di Bali mendatang.

“Suasana yang ‘adem-ayem’ itu disebabkan oleh pemahaman para pejabat dan anggota parlemen yang sangat minim, serta ketidakpedulian mereka mengenai dampak buruk fenomena ini. Padahal, banyak wilayah Indonesia akan hancur terkena dampak perubahan iklim,” tuturnya.

Sementara itu, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Emil Salim, mengungkapkan, saat ini perubahan iklim sudah sangat terasa di Indonesia. Apalagi, Indonesia merupakan negara tropis yang terletak di kawasan khatulistiwa, sehingga suhu di Indonesia makin lama makin panas.

Ia mencontohkan, hawa Kota Bandung yang dulu sangat sejuk sekarang sangat panas. Sebab, karbondioksida (CO2) yang ada di langit Bandung tak bisa hilang dan mengakibatkan curah hujan mengecil. Kalau dari pesawat, awan di Bandung terlihat hitam karena penuh CO2.

Perubahan iklim, kata Emil, juga sangat berpengaruh pada kegiatan ekonomi. Musim hujan yang mengalami perubahan waktu, misalnya, mengakibatkan petani kesulitan menanam padi sehingga produktivitas padi menjadi terganggu.

20 Pulau

Menurutnya, perlu ada perubahan pola transportasi untuk mengatasi perubahan iklim. Selama ini, penyumbang karbondioksida terbesar adalah asap kendaraan bermotor.

“Perlu ada transportasi massal yang bisa menekan penggunaan kendaraan bermotor. Bahan bakar yang digunakan pun sebaiknya ramah lingkungan,” ujarnya.

Dampak yang luar biasa dari perubahan iklim, ungkap Emil, adalah permukaan air laut semakin meninggi dan merendam daratan, bahkan Indonesia sudah kehilangan 20 pulau kecil. Data Departemen Kelautan dan Perikanan, ratusan pulau di Indonesia dan ribuan kilometer daratan di kawasan pesisir akan hilang, karena naiknya permukaan laut.

Selain itu, Emil melanjutkan, pemerintah pun perlu menertibkan industri yang juga menyumbang pemanasan global. Pulau Jawa disarankan menjadi pusat “industri otak” atau industri yang meningkatkan kehidupan manusia, misalnya pendidikan, kesehatan, dan keuangan. [E-5]

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/27/index.html

Facebook Comments