[JAKARTA] Dialog merupakan sarana efektif bagi umat beragama di muka bumi untuk melepaskan diri dari lingkaran konflik tak berujung dan pelbagai ketegangan. Lewat titik temu dialog semua bangsa dapat hidup dalam ketenangan dan kedamaian serta dapat saling menghargai serta terpadu dalam keharmonisan di antara kelompok-kelompok yang membentuk mereka.

Untuk itu, umat Kristiani dan umat Islam atau pun agama lainnya sangat diharapkan terus melanjutkan peningkatan hubungan yang semakin akrab dan konstruktif, untuk saling membagikan kekayaan khas masing-masing. “Sahabat-sahabat umat Islam yang terkasih, sekali lagi saya menghaturkan salam terhangat saya pada saat Hari Raya Anda ini dan saya berdoa kepada Allah agar menganugerahkan kesehatan yang baik, kedamaian dan kemakmuran”. Demikian pesan yang disampaikan Kardinal Jean Louis Tauran, Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama dalam pesan Idul Fitri 1428/2007 berjudul Umat Kristiani dan Umat Islam Dipanggil untuk Memajukan Budaya Damai seperti dalam situs resmi Konferensi Waligeraja Indonesia (KWI), mirifica e-news, pekan lalu. Pesan tersebut juga ditandatangani Sekretaris Dewan Kepausan, Uskup Agung Pier Luigi Celata.

Pesan Dewan Kepausan itu menyebutkan, dalam masa penuh gejolak yang dialami umat beragama sekarang ini, maka sebagai hamba Allah semuanya berkewajiban untuk bekerja demi perdamaian dengan menghargai keyakinan masing-masing pribadi serta komunitas-komunitas di mana pun dengan menghayati kebebasan beragama.

Disebutkan, kebebasan beragama yang semestinya tidak dapat direduksikan hanya sebatas kebebasan beribadat adalah salah satu dari aspek-aspek esensial kebebasan hati nurani dan merupakan hak dari setiap individu dan menjadi batu sendi dari hak-hak azasi manusia.

Hal yang patut diperhitungkan adalah tuntutan bahwa suatu budaya damai dan solidaritas antarmanusia dapat dibangun. Setiap orang dengan teguh dapat terlibat untuk membangun masyarakat dengan persaudaraan yang semakin meluas sambil melaksanakan apa saja yang setiap orang dapat lakukan guna mem-buang, menyangkal, dan menolak setiap kekerasan -tindakan yang pasti tidak akan pernah dianjurkan oleh agama mana pun. Kekerasan sama artinya dengan mencemarkan gambaran citra Allah yang ada pada manusia.

Kekerasan, terutama terorisme yang menyerang secara membabi-buta dan menelan begitu banyak korban tak berdosa, sama sekali tidak dapat menyelesaikan konflik melainkan hanya membawa kepada belenggu mematikan dari kebencian yang merusak dan kepada penghancuran umat manusia serta masyarakat.

Adalah kewajiban semua umat beragama yang beriman untuk menjadi pembina-pembina perdamaian, hak-hak azasi manusia, dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi. Selain itu juga untuk menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial yang ada, karena setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi.

Dalam masyarakat bernegara, tidak seorang pun boleh dikucilkan karena alasan kesukuan, keagamaan, atau karena kekarakteristikan lain mana pun. Bersama-sama, sebagai warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebarluaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan, suatu warta cinta kasih baik antarpribadi maupun antarbangsa. Secara khusus semua bertanggungjawab untuk menjamin bahwa kaum muda kita yang akan memegang tanggung jawab atas dunia masa depan kita kelak, dibina dalam semangat yang sedemikian itu.

Dalam semangat yang seperti itulah upaya dan peningkatan dialog antara umat Kristiani dan Islam harus dianggap penting, baik dari sudut pandang pembinaan maupun dari sudut pandang budaya. Dengan demikian, dapat dikerahkanlah segala kekuatan untuk pelayanan bagi umat manusia dan kemanusiaan, sehingga kaum muda tidak menjadi kotak-kotak budaya atau agama yang bertentangan satu sama lain, melainkan menjadi sungguh-sungguh saudara dan saudari dalam kemanusiaan. [E-5]

Sumber: www.suarapembaruan.com, last modified: 27/10/07

Facebook Comments