Pdt Dr Jacob Nahuway mengatakan setiap orang diberikan karunia-karunia yang berbeda dari Tuhan, setiap orang harus mempertanggungjawabkan karunia (talenta) yang diberikan itu kepada Tuhan. Bahwa, dalam pebedaan-perbedaan yang ada, khususnya pada aliran Pentakosta, hendaknya tidak membuat umat pecah sebagai anggota tubuh Kristus. “Timbulnya banyak denominasi dalam aliran gereja Pentakosta disebabkan kepentingan-kepentingan pribadi dari pihak-pihak tertentu”, kata Gembala Sidang GBI Mawar Saron itu dalam acara Konferensi Pelayan Tuhan Aliran Pentakosta se-Indonesia yang diselenggarakan di Sports Mall Kelapa Gading, Jumat (26/10). Diakuinya, akhir-akhir ini dalam perkembangannya banyak pelayan yang terpecah-pecah walau dalam satu aliran Pentakosta.

Konferensi yang dihadiri sekitar dua ribu orang ini diadakan untuk mempersatukan pelayan Tuhan (gembala-gembala jemaat) aliran Pentakosta. Selain Jacob Nahuway turut menyampaikan ceramah Pdt Gilbert Lumoindong, Pdt MD Wakkary, Pdt Budi Setiawan, Rev Denis Balcombe.

Tema-tema yang dibahas pada seminar ini berkisar pada bagaimana mewujudkan persatuan dalam aliran Pentakosta di Indonesia yang cenderung terbagi-bagi dalam denominasi yang berbeda-beda, gereja-gereja yang terpecah-pecah, dan kondisi bangsa Indonesia yang saat ini sangat tajam perbedaan dalam masalah agama dan kepercayaan.

Selain acara seminar, rangkaian acara juga akan dilanjutkan dengan KKR yang akan diadakan di Gelora Bung Karno (27/10). Acara tersebut rencananya akan dihadiri oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono, juga akan melayani pelayanan kesembuhan.

Menurut Jacob Nahuway perbedaan adalah alat pemersatu (1Kor 14: 10-12). Perbedaan merupakan karunia dari Allah yang perlu disyukuri. Salah satu contoh bahasa. Mengutip perkataan Rasul Paulus, dia menjelaskan bahasa memiliki banyak variasi, banyak makna.

Namun walaupun tidak mengerti bukan berarti menjadi asing digunakan. Contoh berikutnya, alat-alat musik yang tetap menyatakan perbedaan yang tidak perlu lagi dipermasalahkan, sam seperti anggota tubuh yang berbeda-beda. Berkaitan dengan itu ada bermacam-macam karunia, masing-masing melihat pada proporsi atau takaran.

“Semua itu berasal dari atas maka tidak perlu iri hati. Karunia sekecil apa pun tetap sempurna, yang menakar adalah yang Empunyanya. Perbedaan tidak perlu menjadi alat iri hati, cemburu, tapi menjadi alat pemersatu. Dan untuk bersatu ada harga yang harus dibayar”, jelas Nahuway.

Rupa-rupa AnugerahSementara itu, Rev Jerry Scott dari Australia, menyoroti mengenai banyaknya rupa-rupa anugerah yang diberikan kepada manusia. Dalam hal ini manusia mempunyai kuasa roh dalam dirinya.

Dan sebagaimana telah diberikan secara cuma-cuma dari Tuhan, maka kita juga harus membagikannya kepada sesama manusia secara cuma-cuma pula. Berbagai rupa karunia roh itu dimiliki manusia dari pencurahan roh kudus pada hari Pentakosta dan masih berlangsung hingga saat ini.

Pdt I Kaihatu dari Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Ambengan 2, Surabaya membahas mengenai mukjizat. Menurut dia, mukjizat tetap terjadi pada masa kini. Banyak kesaksian-kesaksian dari seluruh dunia mengenai mukjizat. “Mukjizat yang terbesar yang terjadi sampai sakarang adalah mukjizat keselamatan dan pengampunan dosa yang diberikan Yesus bagi dunia melalui kematianNya di kayu salib”, katanya.

Menurutnya lagi, Tuhan memakai setiap orang untuk melakukan mukjizat. Pdt Kaihatu mengajak semua pelayan jemaat aliran Pentakosta untuk masuk ke dalam pengalaman ketergantungan kepada Roh Kudus dan kembali mengalami kuasaNya yang ajaib. Pengalaman kembali kepada Roh Kudus akan selalu menciptakan pengalaman baru yang menghidupkan gereja Tuhan sepanjang masa.

Mukjizat bukanlah tujuan melainkan alat untuk mencapai keselamatan. Orang-orang Pentakosta harus memiliki kehausan akan Firman Tuhan, memulihkan iman kepada kebenaran Allah dalam Alkitab, serta memusatkan diri pada pemberitaan Injil.

Hanya sikap kebergantungan kepada Allah yang akan menjadikan pengalaman-pengalaman Pentakosta itu mungkin terjadi.

Pdt Dr Johnny W Weol, MDiv, gembala jemaat GpdI menerangkan tentang keberanian dalam penginjilan di tengah-tengah kemajemukan. Menurutnya, penginjilan adalah amanat agung yang diberikan Yesus dan harus dilakukan dengan dengan berani dan berhikmat. Penginjilan tanpa etika akan membuat pengijilan itu tidak benar.

Kristen, katanya, jangan hanya dipahami sebagai suatu agama saja, melainkan harus pula dipahami sebagai jalan Tuhan yang lurus dan benar. Sedangkan agama adalah suatu bentuk pemenuhan kebutuhan manusia dalam hidupnya. Manusia membutuhkan objek penyembahan.

“Agama Kristen jangan hanya dijadikan objek penyembahan saja, tetapi juga harus dipahami sebagi jalan menuju keselamatan bagi setiap manusia. Dukungan doa jemaat sangat berperan besar dalam proses penginjilan”, jelasnya.

Sementara itu, Pdt Theo Rombot menegaskan pentingnya para gembala jemaat untuk saling bersatu dan mendukung. Dia menggambarkannya dari proses pembentukan minyak urapan. Minyak urapan dibentuk dari lima unsur, dan masing masing unsur memiliki kekhasannya sendiri. Tetapi unsur-unsur tersebut merelakan kekhasannya hilang untuk digabungkan dengan unsur-unsur lain untuk membuat minyak urapan.

Selayaknya kita bersikap seperti itu, menghilangkan kepentingan pribadi untuk bersatu dan menjadi berkat bagi sesama. Menurutnya perpecahan terjadi karena kita memaksakan kepentingan pribadi. Manusia diberikan karunia dan kemampuan yang berbeda-beda, hendaknya karunia-karunia tersebut saling melengkapi. [R-8]

Sumber; www.suarapembaruan.com, Last modified: 27/10/07

Facebook Comments