Sabar itu ada batasnya. Jika orang diminta untuk terus bersabar, namun yang dijanjikan tidak kunjung datang, sifat kontradiktif akan muncul. Kesabaran berubah menjadi kemarahan. Terlebih dalam keadaan yang tertekan, yaitu menghadapi kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, tidak mudah untuk diminta sabar dan terus bersabar. Tetapi, sifat sabar menjadi sebuah keterpaksaan karena keadaan yang mengkondisikan demikian. Seperti rakyat miskin, yaitu mereka yang pendapatannya rendah, seringkali diminta bersabar dan tabah. Seperti pembagian minyak goreng bersubsidi, rakyat miskin di Jawa diminta untuk bersabar. Seperti diketahui, akibat kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), sebagai bahan baku minyak goreng, yang sangat tinggi, membuat harga minyak goreng terdongkrak naik 100 persen. Dua tahun lalu harga CPO masih US$ 300-an per ton. Namun, bulan ini sudah berada di US$ 800 per ton. Harga minyak goreng dari Rp 4.000/liter sekarang Rp 9.000/liter.

Karena itulah pemerintah menyubsidi minyak goreng sebanyak Rp 325 miliar untuk September hingga Desember 2007. Sayangnya, program subsidi yang seharusnya sudah mulai berjalan sebelum Idul Fitri itu, di antaranya melalui operasi pasar, ternyata belum berjalan efektif. Masih banyak rakyat miskin yang tidak merasakan subsidi tersebut. Ketidaksiapan pemerintah daerah menjadi alasan. Di situlah, rakyat miskin diminta oleh pejabat pemerintah untuk bersabar.

Permintaan bersabar ini bukanlah yang pertama. Saat bencana datang sehingga meluluhlantakkan permukiman dan lahan pertanian, seperti yang terjadi di Yogyakarta, rakyat yang jatuh miskin karena hartanya ikut ludes, juga diminta untuk bersabar. Walaupun bantuan yang dijanjikan ternyata tidak sesuai kenyataan. Rakyat yang terkena dampak lumpur Lapindo juga diminta bersabar, walaupun tempat kelahiran dan harta mereka terkubur lumpur, korban lumpur ini tetap sabar menunggu kepastian tempat tinggal. Dalam kepenatan dan kelaparan, mereka tetap diminta sabar.

Meminta atau menasehati orang lain untuk bersabar merupakan sikap yang bagus. Bahkan, setiap orang sebaiknya tetap sabar dan senantiasa bersuka cita, bukannya bersungut-sungut dalam menjalani kehidupan ini. Tetapi jika permintaan itu disampaikan oleh orang yang tidak konsekwen dengan janji-janjinya, tentu akan sangat disesalkan. Jangan meminta rakyat miskin untuk terus bersabar terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh aparat pemerintah.

Rasanya rakyat sudah cukup bersabar. Yang kita saksikan saat ini adalah banyak aparatur pemerintah yang justru tidak bertindak profesional. Mereka digaji dari uang rakyat namun tidak sigap dalam melayani rakyat, bahkan mereka berlambat-lambat mengurusi urusan rakyat. Dan anehnya, mereka justru menyuruh rakyat untuk terus bersabar. Kita berharap agar aparat pemerintah bersikap lebih siap dan sigap serta bertanggung jawab dalam mengemban amanat rakyat.

Alangkah menggembirakan bila pemerintah bisa mewujudkan dan menepati janjinya untuk melayani rakyat, sesuai dengan sumpah saat menjadi pegawai negeri atau pejabat pemerintahan. Melayani rakyat memang butuh kesabaran, termasuk bagaimana bisa secepatnya membantu rakyat miskin atau yang tertimpa musibah. Menghibur mereka dengan mendirikan tenda dan memetik gitar memang baik, tetapi rakyat membutuhkan lebih dari itu. Bisa saja rakyat miskin atau korban bencana menyenandungkan lagu, namun hati mereka teriris karena membayangkan kepedihan, masa depan yang suram. Jadi, sebaiknya jangan hanya meminta rakyat untuk terus bersabar tetapi wujudkan juga impian untuk hidup layak bagi mereka.

Sumber: Tajuk Rencana II http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/27/index.html

Facebook Comments