Gunungsitoli, Kompas – Situs-situs megalitikum Nias yang tersebar di desa-desa pedalaman Nias banyak yang terbengkalai, bahkan hilang diperdagangkan orang.

Selain banyak yang roboh, patung-patung tertentu ditemukan dalam kondisi terpotong sehingga tinggal tersisa kaki patung yang masih tertanam di tanah, sedangkan bagian atas patung hilang.

Situs yang terbengkalai antara lain ditemukan di Desa Hili’ana’a dan Desa Oyalama, Kecamatan Lölöwa’u, Nias Selatan. Di kompleks Kepolisian Resor Gunungsitoli juga ditemukan satu situs.

Pencinta kebudayaan Nias sekaligus Direktur Museum Pusaka Nias P Johannes M Hämmerle OFMCap akhir pekan lalu memaparkan foto situs Pitaha di Desa Oyalama yang dibuat 20 tahun lalu.

Foto dalam buku wisata berbahasa Jerman itu menunjukkan sekelompok patung-patung besar yang berdiri di kawasan yang dipenuhi rumput.

Namun, foto yang dibuat pekan lalu menunjukkan patung- patung dalam situs itu sudah roboh. Kerusakan patung selain karena alam, seperti tertimpa pohon dan goyangan gempa, juga akibat dipotong dicuri orang.

Masyarakat tidak tahu

Patung-patung itu terbengkalai juga terutama karena masyarakat sekitar tidak tahu untuk apa patung digunakan.

Patung setinggi lebih dari satu meter yang disebut Behu kini tak banyak ditemukan lagi. “Harus ada upaya untuk melindungi kawasan itu,” kata Johannes.

Dalam catatan Johannes, selama 15 tahun terakhir setidaknya sudah ada tiga situs yang hilang. “Mungkin ada keterlibatan orang dalam yang mengorganisasi pengangkutan batu patung itu,” kata Johannes.

Patung-patung batu tua itu diduga merupakan batu-batu representasi leluhur penduduk asli yang dipasang setiap generasi sehingga jumlahnya semakin lama semakin banyak.

Di sisi lain, ternyata masyarakat sekitar tidak tahu pasti batu- batu berupa patung-patung itu sebelumnya digunakan untuk apa atau dalam upacara apa.

“Saya pernah meminta bantuan pada Museum Sumut tentang bagaimana caranya menjaga batu-batu patung itu, tetapi dijawab itu menjadi kewajiban pemerintah daerah. Kalau konservasi ini tidak dilakukan secara bersama (pasti) akan sulit,” ujar Johannes lagi.

Johannes kini hanya bisa berharap ada perhatian pemerintah daerah setempat dan yang lebih tinggi untuk ikut melindungi kawasan itu. (wsi)

Sumber: Kompas, 22 Oktober 2007

Facebook Comments