Sinunö Nono Nihalö

Tuesday, October 23, 2007
By nias

Catatan: Konon, lagu ini dinyanyikan penganten perempuan sebelum meningalkan rumah orang tuanya menuju rumah pihak mempelai laki-laki. Melihat syairnya, lagu ini berasal dari daerah Nias Barat. Bagi yang mengetahui syair lengkap, silahkan mengirim ke Redaksi: nias.online@gmail.com (Redaksi).
…..

Ono Limbu, Lölöwa’u, Bowo, Hili’adulo
Lasara yöu zibayagu: mangona ndra’o khömi
Tenga börö ita, börö Lowalangi
Wa fabali faröi ita ba Danö Lahömi.

Tags: ,

6 Responses to “Sinunö Nono Nihalö”

  1. 1
    sarif Says:

    minta koleksi lagu – lagu nias dalam bentuk mp3

  2. 2
    Dewi Says:

    ini artinya apa ya? terus, Nias punya lagu soal pergi melaut atau selamat datang tidak? saya sedang menulis, dan perlu lagu untuk menjadi lead tulisan. Thanks ya…

  3. 3
    borokoa Says:

    Bu Dewi,

    Syair lagu di atas lagu di atas belum lengkap, masih menunggu masukan.

    Sinunö Nono Nihalö = Lagu (senandung) penganten perempuan. Konon, dulu, di Nias, penganten perempuan di Nias ada yang menyanyikan lagu perpisahan sesaat sebelum meninggalkan diusung (lafahea) ke kampung / rumah penganten laki-laki (marafule).

    Ono Limbu, Lölöwa’u, Bowo, Hili’adulo, Lasara adalah nama-nama kampung di Nias. Dalam lagu ini, agaknya, pengantin perempuan mempunyai kaitan dengan kampung-kampung itu. Lasara misalnya adalah kampung dari pihak paman si penganten perempuan.

    Lasara yöu zibayagu = Lasara adalah kampung pamanku
    Mangona ndra’o khömi: aku minta pamit pada kalian

    Tenga börö ita, börö Lowalangi = bukan karena (kehendak kita), tetapi karena (kehendak) Tuhan.

    Wa fabali faröi ita ba Danö Lahömi = makanya kita berpisah di tanah (kampung) Lahömi. (Penganten yang menyanyikan ini berasal dari Lahömi).

    Saya sendiri belum pernah melihat seorang penganten perempuan Nias menyanyikan lagu sebelum meninggalkan rumah orang tuanya. Saat-saat perpisahan itu biasanya “begitu sedih, mengharukan”.

    Kok suasana pesta bisa “menyedihkan” ?

    Di Nias, (kita bicara zaman dulu puluhan tahun lalu), Ono Alawe (anak gadis) adalah andalan keluarga untuk berbagai macam hal: menimba air, bekerja di sawa/ladang, memasak, menjaga adik, dan sebagainya. Dan anak gadis Nias tidak jarang menjadi tempat pelampiasan kemarahan, dicap areu (malas), dan “dijaga ketat” dari lirikan para pemuda. Semua ini sudah menjadi hal yang biasa saja, seperti kita menghirup udara.

    Ketika anak gadis tadi mau meninggalkan keluarganya dan menuju rumah pihak pengantin laki-laki, tentu saja keluarganya baru merasakan kehilangan yang amat besar: tiada lagi anak gadis yang serba bisa: memasak, bekerja, tempat pelampiasan kemarahan, dan sebagainya. Ibarat seseorang kehilangan udara segar, segalanya menjadi “tidak normal”. Barangkali itulah yang melahirkan kesedihan itu.

    Kini, nasib anak gadis di Nias sudah mulai berubah. Di beberapa kampung yang saya lihat, posisi mereka sudah disetarakan dengan anak laki-laki: disekolahkan, tidak terlalu dipingit lagi, bahkan ada yang mendapat bagian dari harta warisan orang tuanya (hal yang dulu tak pernah terbayangkan di Nias).

    ***
    Lagu pergi ke laut rasanya ada, kita akan ceklah nanti. Lagu selamat datang ? Dalam kesempatan/konteks apa? Di Nias ada sebuah Maena selamat datang, biasanya untuk menyambut tamu: pejabat, atau pihak penngantin laki-laki (dalam sebuah perkawinan).

    ma’owai sa ami 3 / 5 . .5 35 /1
    ba döi maena 3 1 2 / 1
    ba döi laria 33 1 2 / 1
    fefu dome salua baolayama 3 5 . .5 35 / 1 3 1 2 / 1 …

    kami mengucapkan selamat datang kepada anda semua
    dalam nama maena
    dalam nama laria
    semua tamu kami yang ada di pekarangan

    Ke empat baris di atas dinyanyikan oleh massa dan disebut: “Fanehe”, katakanlah semacam Refrein dalam sebuah lagu.

    Seseorang akan bertindak sebagai Sanunö maena (”penutur” maena), yakni seorang yang akan bercerita lewat lagu menyambung baris-baris di atas. Salah satu tuturan (fanunö) pembukaan sebuah maena adalah sebagai berikut:

    1.
    Ba da udunödunö döi maena >55< / 2 2 2 34 / 54 32 3

    Refrein: maowai sa ami .. dst

    2.
    hadia mbörö gotari gotara
    hadia mbörö wa owulo ita

    Refrein: maowai sa ami .. dst

    Fanunö ini biasanya antara 5 – 15 bait

    borokoa

  4. 4
    tetty Says:

    Kira2 ya pak nyanyian ini diciptakan pd waktu kapan? Setelah masuknya agama kristen ? (karna disyair ada kata Lowalangi) Sebelum tercipta syair ini mungkin ono nihalo gak bersenandung ya pak? Aku jg lihat ono nihalo nangis bila meninggalkan rumah ortunya, entah apa yg ditangisinya…

  5. 5
    vitman Says:

    @tety: kemungkinan lagu ini diciptakan sejak agama Kristen masuk. karena kata Lowalangi lebih populer setelah zaman Zending Jerman Dibawah pimpinan Tuan Denginger dkk.

  6. 6
    Herman S Mendrofa Says:

    mantap lagunya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Kalender Berita

October 2007
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031