Oleh Pdt. Em. BUDHIADI HENOCH

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4 : 32)

SABTU lalu, bangsa Indonesia mewujudkan praktik untuk saling bermaaf-maafan berkaitan dengan Hari Raya Idulfitri 1428 H. Kita semua tentu bergembira dengan suasana yang baik ini, bahkan kita harapkan berlanjut sepanjang tahun-tahun kehidupan kita. Suasana bermaaf-maafan yang kita lakukan ini pasti membawa damai di hati kita masing-masing sehingga kita pun bersikap ramah yang seorang terhadap yang lain. Sebuah kerinduan universal sebab orang dari bangsa dan agama apa pun pasti merindukan hubungan yang ramah antarsesama.

Jauh berbeda jika kita berbicara tentang marah dan kemarahan. Marah adalah kebalikan dari ramah, tak hanya suku katanya yang terbalik, melainkan juga suasananya. Marah dan kemarahan muncul dari dalam hati seseorang saat orang berada dalam suasana hati yang tidak nyaman. Mungkin sedang bete atau suntuk sehingga berwajah manyun, lalu suket godong dadi mungsuh (ungkapan bahasa Jawa untuk menyatakan bahwa semua perkara dapat menjadi sebab kemarahan seseorang). Dapat terjadi karena beda persepsi (tanggapan) sehingga terjadi mis-komunikasi antardua orang atau lebih. Sekiranya marah dan kemarahan itu ditandingi dengan prinsip “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Keluaran 21 : 24; Imamat 24 : 20), wah, bertambah maraklah suasana yang tegang itu. Mengapa demikian? Sebab pada hakikatnya semua pembalasan selalu dirasakan “overdosis” oleh pihak lain. Oleh karena itu, ibarat api harus segera dilawan dengan air dan “air” yang dimaksudkan itu adalah pengampunan.

Dalam praktik, ternyata tindakan untuk memberikan pengampunan tak mudah. Ada saja kendala yang muncul dalam pertimbangan kita, misalnya kehormatan, harga diri, umur yang lebih tua, dll. Oleh karena itu, kita harus mencari landasannya bukan pada diri kita pribadi dengan pertimbangan kemanusiaan kita, melainkan mencari landasannya pada diri Allah yang di dalam Kristus telah mengampuni kita. Memang Ia telah melakukan tindakan pengampunan-Nya dengan penuh kasih mesra yakni dari surga turun ke dalam dunia, menjelma dalam diri Tuhan Yesus Kristus dan lewat pengorbanan-Nya di kayu salib, Ia menyelamatkan umat manusia dari dosanya masing-masing. Lantas dengan landasan itu kita meneladani tindakan Allah sekaligus menyatakan ketaatan kita kepada perintah-Nya untuk memberikan pengampunan kepada sesama kita. Selanjutnya sikap ramah dan saling mengasihi antarsesama menjadi budaya kita di tengah masyarakat.

Pengampunan ibarat air yang disiramkan ke hati kita di tengah teriknya matahari musim kemarau. Amat menyegarkan, bahkan semua rasa haus yang kita alami beberapa waktu sebelumnya sirna dalam waktu singkat. Kesegaran itu diwujudkan dalam bentuk sikap saling mengasihi dengan kasih mesra yang seorang kepada yang lain. Alangkah indahnya, jika perkara itu dapat kita realisasikan di tengah keluarga sehingga tak ada sikap dengki antarsesama anggota keluarga; di tengah kelompok keumatan sehingga terjalin mesra ikatan persaudaraan antarwarga keumatan; di tengah bangsa, sehingga hubungan antarsaudara sebangsa dan setanah air terasa hangat dan meniadakan semua perbedaan ras, agama, dan tingkat sosial. Sebuah upaya yang harus kita lakukan dengan sungguh-sungguh, agar protes, unjuk rasa, demo-demo dan ketegangan lainnya tak ada lagi di tengah masyarakat pada umumnya.

Jika kita menganggap baik, bahwa hidup ramah, ikatan kasih mesra dan langkah pengampunan itu bernilai luhur, kita melaksanakannya dengan penuh suka cita. Hasilnya tak hanya kita sendiri yang menikmatinya, tetapi juga orang-orang di sekeliling kita. Mereka yang berada dalam kaitan dan hubungan dengan kita juga akan merasakan suasana ramah, kasih mesra dan pengampunan itu. Singkatnya, kehangatan suasana damai antarsesama itu memengaruhi lingkungan tempat kita berada. Ibarat sebutir batu yang jatuh ke dalam air membuat gelombang-gelombang yang makin luas sehingga kita berharap seluruh negeri merasakan kehangatan suasana damai itu.

Oleh karena itu, hasil positif yang kita peroleh adalah bahwa waktu, tenaga, pikiran, dan dana kita, kesemuanya dapat kita gunakan untuk membangun. Jauh lebih berarti ketimbang jika kita gunakan untuk perkara-perkara yang bersifat destruktif akibat kemarahan sehingga dibutuhkan lagi modal untuk menghadirkan sarana-sarana guna mengganti yang rusak itu. Kita berharap, mudah-mudahan pikiran semacam ini berkembang dalam benak banyak orang. Tentu juga diharapkan bahwa semua orang melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing demi kebaikan bagi sesama dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Artinya, setiap orang perlu mawas diri, jangan-jangan ia telah membuat orang lain resah, tak nyaman, dan jengkel tanpa sepengetahuannya sehingga menyusul terjadi langkah dan tindakan yang serbadestruktif itu.

Kita membayangkan, bahwa di tengah keluarga, sikap toleran terhadap perbuatan buruk salah seorang anggotanya lebih berperan. Amat berbeda jika perbuatan buruk itu dilakukan di tengah masyarakat karena sikap toleran itu jauh berkurang. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengukur sejauh mana perbuatan yang telah dilakukannya : tidak merugikan, atau justru merugikan orang lain. Jika tidak merugikan, mengapa orang lain mengajukan protes? Jika merugikan, jujurlah terhadap diri sendiri dan Tuhan, lalu segera melakukan perbaikan sehingga protes itu pun segera dapat diredam. Kita merasakan bahwa hidup membutuhkan seni tersendiri. Sebenarnya tidak sulit, sekiranya kita mau belajar dari pengalaman hidup orang pada masa lalu. Mereka melakukan kehidupan tahun demi tahun, abad demi abad, sehingga sampai pada zaman kita sekarang ini.

Setiap orang pasti merindukan suasana hidup yang ramah karena di dalam keramahan itulah, orang dapat saling bertegur sapa dalam kasih mesra. Buah-buah keramahan itu akan tampak dalam pergaulan antarwarga masyarakat, baik dalam bertani, berlayar, bertandang, maupun dalam beribadah. Kegiatan-kegiatan itu adalah kesempatan untuk membangun ikatan persaudaraan dalam menghadapi bersama kehidupan yang makin sulit ini. Keadaan ini akan membuka peluang bagi kita semua sehingga kita menempuh hidup bukan dengan suasana hati keruh, melainkan dengan suasana hati bening. Amin.

Penulis, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 20 Oktober 2007

Facebook Comments