The Genetics of Nias – Concepts and First Data

Thursday, October 11, 2007
By nias

Catatan: Sambil menantikan hasil wawancara Yaahowu dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht, berikut ini kami sajikan makalah beliau yang dipresentasikan di Konferensi Internasional tentang Seni dan Arsitektur Nias di Wina, 30-31 Oktober 2006. Ingo Kennerknecht adalah Profesor Human Genetics, Universitas Münster. Karena kesulitan menyajikan tulisan aslinya dalam bentuk PDF, Redaksi menampilkannya dalam bentuk citra (gambar). Sumber: situs Nias Island Research Network, atas izin Petra Gruber, Koordinar Nias Island Research Network. Karena ukuran file cukup bear, pengunjug akan mengalami kelambatan mengakses – mohon maaf (Redaksi)


dna1


dna2


dna3


dna4


dna5

46 Responses to “The Genetics of Nias – Concepts and First Data”

Pages: « 1 2 3 4 [5] Show All

  1. 41
    Ono Niha Says:

    Komentar ini tidak terkait dengan artikel yang dikomentari dan telah dipindahkan ke Topik “Harimbale”. (Redaksi)

  2. 42
    Postinus Gulö Says:

    Sebagai orang Nias saya sangat berterima kasih kepada Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht, (dan pihak-pihak yang mendukung usaha beliau) yang dengan usaha menakjubkan mempresentasikan hasil penelitiannya tentang Genetika dan beberapa penyakit yang sering kita temukan di Pulau Nias. Dan, yang menarik, di Konferensi Internasional (Wina).

    Sebuah usaha, apalagi penelitian, butuh pengorbanan, ketelitian, hati dan pikiran. Sekali lagi, ini adalah penelitian ILMIAH. Bukan penelitian kecil-kecilan. Dan, menurut saya, usaha Prof. Ingo sangat luar bisa (sekurang-kurangnya bagi saya).

    Terima kasih Prof. Ingo (dan juga pihak yang mendukungnya), kontribusi Anda luar biasa: Anda memperkenalkan Nias di Konferensi bertaraf internasional. Ya’ahowu

    Dari Postinus Gulö (Mhs. Fakultas Filsafat Unpar dan Moderator http://www.mandrehe.wordpress.com)

  3. 43
    Sof Lase Says:

    Barangkali ada teman netters ya blm baca komentar saya sebulan lalu (15 Oktober 2007) di #14, ingin saya ingatkan kembali bahwa penelitian DNA ini mengandung 3 keanehan.

    1. Tidak mematuhi prosedur yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

    2. Penelitian ini dipresentasi di Konferensi Internasional tentang Seni dan Arsitektur Nias di Wina, 30-31 Oktober 2006. Forum itu adalah forum para peminat dan ahli tentang seni dan arsitektur Nias (ahli berbagai disiplin ilmu), bukan forum para ahli (pakar) genetika. Sekalipun forum itu bertaraf internasional, bagaimana substansi penelitian ini mendapat validasi para ahli genetika bila dipresentasi dalam forum ahli non-genetika?

    3. Laporan penelitian ini dipublikasi di situs Nias Island Research Network, bukan di situs atau di jurnal khusus genetika. Aneh, langsung dipublikasi secara umum, tidak dipublikasi di kalangan pakar genetika terlebih dahulu (untuk dapat divalidasi oleh forum ilmu genetika yang lebih kompeten).

  4. 44
    titus Says:

    Premis-1: Sebuah usaha, apalagi penelitian, butuh pengorbanan, ketelitian, hati dan pikiran.
    Premis-2: Usaha Prof. Ingo sangat luar biasa mempresentasikan hasil penelitiannya tentang Genetika dan beberapa penyakit yang sering kita temukan di Pulau Nias di Konferensi Internasional (Wina).
    Konklusi: Sebagai orang Nias saya sangat berterima kasih kepada Prof. Ingo.

    Dari model penalaran di atas ditemukan: premis-2 merupakan konklusi dari premis-1. Masih perlu bukti dari premis-1: bagaimana pengorbanan, ketelitian, hati dan pikiran dari “usaha Prof. Ingo” sehingga bisa dikatakan “sangat luar biasa” (yg jadi premis-2 sesungguhnya). Penalaran yg disusun dgn menggunakan konklusi sebagai premis lazim disebut “kesesatan petitio principii” 🙂

    Sedang konklusi yg ada (“Sebagai orang Nias saya sangat berterima kasih kepada Prof. Ingo”) tak relevan dgn premisnya. Logisnya dari premis-1 (“usaha”) dan premis-2 (“usaha sangat luar biasa”) menghasilkan konklusi pada “Prof. Ingo” (misal: Prof. Ingo adalah peneliti berbobot… atau… bla-bla-bla), bukan pada “saya orang Nias”. Penarikan konklusi yg tak relevan dgn premisnya disebut “kesesatan ignoratio elenchi” 🙂

    Petitio principii & ignoratio elenchi masuk golongan “kesesatan relevansi” mengenai materi penalaran. Yaahowu!

    Titus Gea – anggota KBL (Komunitas Berpikir Logis)

  5. 45
    Dekha Says:

    No. 44 terima kasih atas logika yang baik dalam hal ini. Memang kalau berpikir sebagai ilmuwan (berpikir logis) demikian halnya. Seharusnya dalam hal ini tidak perlu “emosional sebagai orang Nias” (dalam tanda kutip hanya sebagai penegasan). Aksi yang dilakukan Prof Ingo masih banyak yang perlu dilihat dan dibuktikan “kelurusan” dari berbagai sudut.

    Khusus mengenai penelitian DNA – asal usul saya bertanya : Apakah kehidupan pergaulan bangsa-bangsa modern dewasa ini memerlukan hal itu ? Bukankah suku-suku – bangsa-bangsa telah bercampur baur dalam arti tidak bisa dipastikan bahwa gen tertentu hanya di atau dari wilayah tertentu ? Seandainya berhasil mengetahui asal-usul DNA, apa manfaatnya bagi kemanusiaan ? Yaaaa, kalau kebetulan yang ber DNA seperti itu baik-baik dan sehat-sehat, akan tetapi kalau yang ber DNA seperti itu bodoh-bodoh dan penyakitan, apakah perlu diumumkan keseluruh dunia-umat manusia ? Kalau disebarkan hasil penemuan yang jelek (kebetulan) itu, apakah itu “manusiawi” ? Saya bisa memahami kalau salah seiorang yang mendapat hadiah nobel mengenai penelitian DNA tidak mau diumumkan peta DNA tubuhnya.

    Jadi kesimpulan : perlu premis 1 dibuktikan lebih lanjut.

  6. 46
    Decker PHILLIPS Says:

    Nice to determine you back. And again with an interesting article.

Pages: « 1 2 3 4 [5] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

October 2007
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031