2009, Dephub Bangun Kapal Untuk Nias Selatan

Thursday, October 11, 2007
By susuwongi

JAKARTA — Direktur Lalu Lintas Angkutan Sungai dan Penyeberangan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan (Dephub) Achmad Syukri mengungkapkan, permintaan pemerintah Kabupaten Nias Selatan untuk mendapatkan pelayanan kapal yang lebih besar dengan rute Sibolga-Teluk Dalam (ibukota Nias Selatan, red) baru akan dianggarkan pada 2009.

“Untuk anggaran 2008 sudah penuh dan sudah diajukan sehingga tidak bisa lagi dimasukkan pengajuannya. Yang penting permintaan itu sudah diterima dan akan dimasukkan pada pengajuan anggaran 2009,” kata Syukri kepada wartawan di Jakarta , Selasa (9/10).

Syukri mengatakan, pengadaan kapal itu butuh waktu beberapa tahun karena harus dibuat baru. Menurut dia, saat ini pemesanan mesin kapal saja sudah penuh dan itu butuh waktu sekitar satu tahun.

Karena itu, untuk sementara, Syukri menganjurkan pemerintah Kabupaten Nias Selatan bekerja sama dengan PT Angkutan Sungai dan Penyeberangan (PT ASDP) agar kapal-kapal ferry yang selama ini malayani rute Sibolga-Gunung Sitoli (Kabupaten Nias, red) dapat juga dialihkan melayani rute Sibolga-Teluk Dalam. “Ya, mungkin tidak harus setiap hari, disesuaikan dengan demand (kebutuhan) pelayaran di sana . Mungkin bisa, satu atau dua kali dalam seminggu,” jelas dia.

Beberapa bulan lalu, Pemkab Nias Selatan mengajukan permintaan kapal untuk memenuhi kebutuhan pelayaran dari Teluk Dalam ke Sibolga. Selama ini, rute tersebut hanya dilayari kapal-kapal kayu berukuran kecil dan beresiko karena ombak pada perairan tersebut umumnya besar.

Selain itu, kebutuhan kapal yang lebih besar tersebut untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah dengan akses yang lebih mudah dan cepat ke daratan Sumatera. Selama ini, kalau mau ke Medan harus melalui Gunung Sitoli. Selanjutnya baru naik kapal ke Sibolga.

Dengan adanya transportasi yang memadai tersebut, akan membantu percepatan rekonstruksi Nias Selatan akibat gempa pada 2008. Selain itu, juga akan mendongkrak pemulihan pariwisata di Nias Selatan yang selama ini dikenal dengan daerah-daerah kunjungan wisatanya seperti lompat batu dan pantai Lagundri yang merupakan salah satu pantai dengan ombak terbaik di dunia untuk selancar air (surfing).

Dihubungi terpisah, Manager Humas PT ASDP Winanda mengungkapkan, sampai saat ini belum ada permintaan dari Pemkab Nias Selatan. Namun, menurut dia, karena wilayah Nias Selatan termasuk rute perintis, maka kewenangan ada di tangan pemerintah. “Kalau pemerintah memberi tugas ke ASDP, kita siap. Konsekuensinya, jumlah kapalnya juga harus ditambah,” kata dia.

(etisnehe/investor daily)

17 Responses to “2009, Dephub Bangun Kapal Untuk Nias Selatan”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    borokoa Says:

    Tahun 1965, saya mulai lebih sering ‘mendengar’ nama P. Tello dan Pp. Batu pada umumnya. Pada saat itu dilangsungkan Sinode BNKP di P. Tello yang bertepatan dengan perayaan 100 tahun agama Kristen Protestant di Pulau Nias (lihat lagu: Otu Fakhe Wa’ara – Lagu Yubileum 1965).

    Orang-orang yang pulang dari kunjungan ke P. Tello selalu bercerita bahwa pulau itu kaya dengan hasil laut, antara lain ikan, terumbu karang dan cengkeh (oleh-oleh mereka mencerminkan hal itu: ‘gabaha’ (akar bahar) dan cangkang (shell) jenis kerang yang besar.)

    Hal lain, ternyata P. Tello pada waktu itu telah menjadi semacam ‘nusakambangan’ di Sumatera. Napi kelas kakap (misalnya pembunuh) dari daratan Nias dipenjarakan di sana. Barangkali ini merupakan bukti bahwa saat itu P. Tello dan Pp. Batu pada umumnya sudah mulai ‘terisolir’ ? Positifnya, mereka yang sempat dipenjarakan di sana, pulang-pulang ke ‘daratan’ sudah menjadi ‘orang’: lebih sejahtera secara ekonomis.

    borokoa

  2. 12
    Sin Liong Says:

    Di kecamatan Pulau-pulau Batu ada sebuah pulau bernama Bintuang. Ke Bintuang diperlukan 2 jam berlayar dari pulau Telo. Di sana ada “tradisi fatabo” yaitu gotong-royong menangkap ikan di tepian pantai memakai kayu, jala & tombak. Rika Suartiningsih, seorang reporter radio yg tinggal di Medan, pernah menulis perihal tradisi ini, “Tradisi Fatabo Memaknai Kebersamaan di Pulau Bintuang” (Kompas, 30-10-2004).

    Menurut mantan kades Bintuang Jinnaro Hondrö yg diwawancari Suratiningsih, tradisi fatabo adalah tradisi nenek moyang yg entah dimulai sejak kapan. Tradisi ini masih sering dilakukan khususnya bila badai tiba. Nelayan Bintuang tak bisa melaut di musim badai karena mereka hanya punya sampan kayu yg sederhana. Mencari ikan satu-satunya mata pencaharian masyarakat Bintuang, utk makan dan sebagian dijual ke Telo utk diganti dgn kebutuhan pokok lainnya. Tradisi fatabo ini memenuhi kebutuhan hidup secukupnya selama belum bisa melaut.

    Dapatlah diketahui, selain adanya tradisi nenek moyang, nelayan Bintuang punya jiwa niaga yg indikasinya mereka menjual ikan ke Telo. Tapi apalah daya, prasarana mereka amat terbatas. Di Bintuang potensi alam kaya, jiwa niaga ada… upaya selanjutnya mendorong agar potensi itu jadi produktif.

    Bintuang adalah salah satu contoh komunitas yg bisa memaknai kebersamaan dalam mensiasati hidup ‘survive’ (melalui tradisi fatabo). Namun Bintuang juga merupakan model nelayan yg sungguh tertinggal dalam teknologi perikanan.

    Yaahowu!

  3. 13
    pendi tel. Says:

    menarik juga ya… cerita-cerita seputar kawasan Nias kepulauan… kira-kira apakah BRR dah ngejangkau daerah kayak begini… ??? jangan-jangan orang BRR pada belum pernah ke sana 🙂

  4. 14
    Rika Yoesz Says:

    terima kasih,
    Saya adalah penulis “Tradisi fatabo” di harian kompas, senang bisa ikut berdiskusi melalui wadah ini. Saya berharap kita mengenal Indonesia, hingga ke pulau terkecil. Karena kadang-kadang, justru di tempat terkecil kita menemukan makna yang mulai terkikis di negeri kita. Yahobu !!! (rika Suartiningsi Yoesz, masih bekerja di radio Kiss FM Medan)

  5. 15
    Sin Liong Says:

    Terimakasih buat Rika Suartiningsih Yoesz, telah mampir di situs ini, juga dah ‘menembus’ ke Bintuang. Kebetulan pula saya membaca dan menyimpan (sampai sekarang) tulisan Anda di Kompas. Sangat menarik! Cuman (maaf) ada koreksi dikit di respon #14 Anda, salam tradisi Nias yg tepat bukan ‘Yahobu’ tapi ‘Ya’ahowu’. Salam hangat buat Rika Yoesz di Medan.

    Ya’ahowu!
    Sin Liong – Yogyakarta

  6. 16
    Saro Says:

    Di kawasan pp Batu ada 2 legenda, mencerminkan asal masyarakat yg berbeda. Yaitu ‘Legend about Batu island’ (kisah ‘Tödö Tuwada Loya’ yg hanyut dari Nisel). Satu lagi ‘Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu’ (kisah leluhur dr Bugis). Unik juga legenda multietnis di kawasan ini.

  7. 17
    dinar Says:

    @ ka Rika Yoesz no.14

    Ya’ahowu ka! lam kenal… kapan nulis lg ‘tempat terkecil’ di Nias? kt tunggu loh… (dinar zagõtõ)

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

October 2007
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031