Oleh Pdt. EM. BUDHIADI HENOCH

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (I Timotius 6 : 10)

SETIAP orang pasti mengenal uang. Ada uang logam, ada uang kertas. Ada uang beneran, ada uang-uangan. Ada uang yang disimpan di bank, ada pula uang yang disimpan di “bawah bantal”. Ada uang yang dimasukkan ke dalam peti besi, ada pula uang yang ditaruh saja di dalam ember. Semua orang butuh uang, namun jika orang mencintai uang, waspadalah karena cinta uang adalah akar segala kejahatan. Uang dapat berubah menjadi semacam dewa. Di dalam Alkitab kita mengenal “mamon”. Mungkin dari kata itu, muncul kata “money” dalam bahasa Inggris, yang berarti uang. Begitu berpengaruhnya uang di dalam kehidupan manusia, sampai ada pepatah “waktu adalah uang”, atau sebuah pemeo “ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang”.

Uang menjadi alat pembayaran yang sah dalam transaksi dagang, baik di pasar, di toko, maupun di bank. Uang dapat mengundang teman-teman sehingga bertambah-tambah jumlahnya. Uang punya kuasa untuk mengendalikan orang. Uang mengangkat seseorang ke panggung kehormatan. Uang dapat mengubah kebenaran menjadi kebohongan, mengganti yang salah jadi benar dan yang lurus jadi bengkok. Uang digunakan untuk membangun ikatan pernikahan, uang juga digunakan dalam pemilihan umum di setiap negara dalam bentuk politik uang. Uang membuat derajat dan martabat orang besar itu terjungkal ke lembah kenistaan akibat perilakunya yang tidak terhormat.

Nasihat rasul Paulus kepada Timotius jelas agar ia tidak mencintai uang. Kendati uang itu netral, orang mencintai uang dapat terjerumus ke dalam bermacam-macam dukacita. Uang adalah benda mati, yang dapat mengantar orang ke jurusan yang sesat. Meskipun uang tampak seolah-olah segala-galanya, peranan uang ada batasnya. Misalnya di sebuah daerah terjadi bencana kelaparan, tentu uang satu kopor pun tak mungkin menjadi pengganti makanan. Contoh lain, Kendati dapat dipakai untuk membeli tempat tidur, uang tak dapat membeli tidur yang nyenyak; uang dapat membeli rumah, namun tak mampu membeli suasana kehidupan rumah tangga yang ramah; uang dapat membeli seks lewat PSK, namun tak berhasil membeli cinta sejati seorang perempuan baik-baik; uang dapat membeli emas dan berlian, namun tak kuasa membeli kehormatan dan harga diri; uang dapat membeli gedung gereja, namun gagal membeli surga. Nyata bagi kita, bahwa uang bukan segala-galanya. Ada perkara-perkara lain yang dapat menandingi berkuasanya uang dalam kehidupan kita.

Dalam praktik sehari-hari, sering uang dikejar oleh para penjahat lewat pencurian, penggelapan, penipuan, dan perampokan. Begitu bernafsunya orang menguasai uang dalam praktik korupsi, sampai mengabaikan martabat dan nama baik keluarga, anak cucu dan keturunannya. Urusan sanksi pidana, sanksi sosial, sanksi moral dan sanksi yang datang dari Tuhan, dianggap sepele. Orang tak merasa takut masuk penjara, dikucilkan tetangga, dipergunjingkan oleh warga masyarakat, juga dihukum oleh Tuhan. Itulah aneka ragam bentuk dukacita yang menimpa orang yang bersikap cinta uang. Sayangnya, orang yang bersangkutan sering menutup mata dan telinga, lantas bersikap tidak mau tahu terhadap orang-orang di sekelilingnya. Ia mempermalukan dirinya, keluarganya, agamanya, bangsanya, dan Junjungannya. Sebuah jalan hidup yang tak terpuji menimpa banyak orang. Kendati ia mampu membeli tanah berhektare-hektare, padahal jika meninggal dunia ia hanya perlu tanah dua kali satu meter persegi. Selebihnya, ia mewariskan aib yang takkan sirna sepanjang hidup anak cucu dan keturunannya. Sungguh malang keluarga dan keturunannya yang harus menerima warisan semacam itu.

Seseorang yang mencintai uang sampai menyimpang dari kebenaran, hidup dalam ketidakpastian, ketakutan, dan aib. Kendati ia berlagak gagah dan kaya dengan menggunakan uang haramnya ke mana-mana, orang lain mencemoohkannya di belakang punggung tanpa sepengetahuannya. Oleh karena itu, tepat kata kitab Amsal, lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya daripada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya (Amsal 28 : 6). Lantas bagaimana kita harus menggunakan uang kita? Kita menggunakan uang untuk menabung kebajikan, membantu sesama dalam kesukaran, dan menyalurkannya untuk kesejahteraan bersama. Memperkaya diri seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi menyesatkan jalan hidup kita. Dengan uang kita dapat mencintai Tuhan dan sesama. Memberikan harapan baru di tengah kesulitan hidup dewasa ini, menaburkan benih kasih ke tengah warga masyarakat yang menderita.

Untuk membuka jalan hidup yang berbuah-buah, kita mengutip pandangan Ibu Theresa (1910-1997) yang pangkuannya sering menjadi tempat orang yang mengembuskan napas terakhir: buah ketenangan adalah doa, buah doa adalah iman, buah iman adalah kasih, buah kasih adalah pelayanan, buah pelayanan adalah perdamaian. Dapatkah kita hidup dengan melewati rangkaian “buah-buah” semacam itu? Agaknya kita perlu memikirkan perkara ini agar kita dapat memalingkan diri dari sikap mencintai uang. Lalu kita jalin hubungan damai dengan sesama dan hidup sejahtera.

Kita sadar, bahwa hari-hari perjalanan hidup kita makin dekat menuju ke kematian. Untuk perjalanan semacam itu, kita yang datang ke dalam dunia tidak membawa apa-apa, akan pergi dari dunia juga tidak membawa apa-apa. Akan tetapi, mengapa kita harus mencintai uang melebihi perkara-perkara yang jauh lebih berharga itu? Mencintai Tuhan, mencintai sesama, mencintai kebenaran, mencintai kesucian, kesemuanya jauh lebih berarti ketimbang mencintai uang. Oleh sebab itu, selagi kehidupan kita masih ada, pada masa kinilah kita mengupayakan sikap hidup tidak mencintai uang, melainkan mencintai semua pihak yang telah disebutkan itu. Kehidupan semacam ini jauh lebih berharga, baik bagi diri kita pribadi, bagi keluarga kita dan anak cucu kita, bagi warga masyarakat, tetapi juga bagi Tuhan yang memercayakan kehidupan ini kepada kita masing-masing. Silakan kita merenungkan masih berapa lama sisa perjalanan hidup kita agar kita punya hikmat untuk melangkahnya menuju kepada tujuan hidup yang benar. Dapat dipastikan, jika pada suatu hari kita meninggal dunia, kita bersyukur karena kita tidak mencintai uang dan kita pun mengaso dalam damai, rest in peace. Amin ***

Penulis, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 6 Oktober 2007

Facebook Comments