Oleh Pdt. BAMBANG PRATOMO

Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman Tuhan. (Yeremia 29 : 12 – 14 A).

PADA tanggal 9 September 2007 yang lalu, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menetapkan hari itu sebagai Hari Doa Syukur Alkitab. LAI setiap tahun mengajak kita semua agar bersyukur dengan adanya penerbitan Alkitab dalam pelbagai macam bahasa daerah di Indonesia. Dengan demikian, terbuka kesempatan untuk mendengar, membaca, dan menjadikan ayat-ayat firman Tuhan itu sebagai pedoman hidup dalam kehidupan para pembacanya. Khusus pada tahun ini tema yang dipakai adalah, “Berserulah kepada Tuhan, Maka Dia Akan Menjawab”.

Tema ini mendorong dan mengingatkan kita semua tentang komitmen iman agar kita memerhatikan firman Tuhan dengan cara membaca, mendengarkan, dan melaksanakan isi firman Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing. Sebuah proses pertumbuhan iman yang hendaknya kita miliki, mengingat dalam perjalanan panjang hidup kita sering dipenuhi hal yang tak terduga. Tidak menjadi masalah, sekiranya pengalaman iman itu penuh dengan hal yang menggembirakan. Akan menjadi masalah saat kita harus menghadapi perkara-perkara yang sulit dan rumit.

Oleh karenanya, diperlukan komunitas ibadah dalam wujud ketekunan berdoa sehingga kita dimampukan oleh Tuhan untuk mengatasi godaan, pergumulan, dan kesulitan hidup. Lantas, kita semua saling mendoakan dalam suasana persaudaraan dan kasih yang menguatkan. Hal ini kita lakukan karena memang tak mungkin kita mengatasinya dengan kekuatan kita sendiri.

Sayang, dalam praktik penghayatan kita dalam masalah doa masih terbatas. Kita memang rajin berdoa, namun kita sering lupa terhadap apa saja yang pernah kita doakan kepada Tuhan. Akibatnya, doa kita tak berlanjut dalam perilaku kehidupan kita. Kesalehan kita dalam berdoa tidak diiringi perubahan tingkah laku kita. Dengan demikian, tindakan berdoa kita lebih bersifat basa-basi saja dan belum meningkat kepada tekad untuk melaksanakan isi doa kita. Itulah doa yang setengah hati, tidak sepenuh perhatian kita dalam memanjatkannya kepada Tuhan. Tidak bersungguh-sungguh mencari dan datang kepada Tuhan. Sebagai contoh, seseorang berdoa menjelang tidur dan terbawa dalam alam mimpi, maka kata penutup “amin”-nya baru pada esok hari saat ia terbangun.

Ayat-ayat di atas berbicara tentang keberadaan umat Tuhan ketika mereka dibuang ke negeri Babel. Memang hidup mereka amat berat, karena di samping harus mengatasi kesulitan yang terus-menerus membayangi kehidupan mereka, pada saat yang sama mereka harus menanggung aib selaku bangsa pecundang. Mereka begitu tertarik kepada janji bahwa mereka dibuang sebagai bangsa tawanan hanya dua tahun. Padahal, Nabi Yeremia mengatakan bahwa mereka harus mengalami pembuangan itu selama 70 tahun penuh.

Sungguh jauh sekali perbedaan jarak waktu tentang janji pembebasan yang mereka terima selama ini. Maklum, janji pembebasan dalam waktu singkat datang dari para penipu, sedangkan janji pembebasan dalam kurun waktu yang panjang datang dari Tuhan lewat Nabi Yeremia. Mana yang benar? Jelas janji pembebasan setelah berada dalam waktu yang lama, itulah yang benar.

Selama kurun waktu yang lama itu, umat Tuhan harus merenungkan kembali sebab-sebab penawanan diri mereka. Perenungan itu pada akhirnya membuat mereka mawas diri bahwa mereka telah melakukan dosa kekerasan hati dan sikap tidak setia dalam iman mereka kepada Tuhan.

Bersamaan dengan pergumulan mereka pada saat itu, datanglah Nabi Yeremia yang menyampaikan janji Tuhan kepada mereka, sebagaimana tercantum dalam ayat-ayat di atas. Lalu mereka pun berseru dan mencari Tuhan. Mereka datang dan berserah diri kepada-Nya. Maka, muncullah pengharapan dalam hati mereka bahwa Tuhan mendengarkan seruan mereka, karena ternyata Dia berkenan untuk ditemui oleh mereka. Sungguh sebuah karunia begitu besar yang dapat mereka peroleh pada saat-saat yang berat itu. Hal ini hanya mungkin, karena mereka percaya kepada janji Tuhan yang bersedia mereka temui.

Sama seperti yang dialami umat Tuhan pada masa yang lampau, demikian juga yang kita alami pada masa kini. Memang secara fisik kita tidak dijajah oleh bangsa mana pun, namun kesukaran, kesulitan, kesengsaraan, dan penderitaan itu semua adalah para “penjajah” kita pada masa kini. Kita tak mampu melepaskan diri dari cengkeraman mereka dengan kekuatan kita. Oleh karenanya, kita perlu mengikuti pesan Nabi Yeremia agar kita mencari dan berseru kepada Tuhan maka Tuhan dapat kita temui. Kita berdoa kepada-Nya maka kita mendapatkan apa yang kita butuhkan.

Tentu semua langkah kita hanya mungkin kita peroleh jika kita sungguh-sungguh melakukannya dan tidak setengah-setengah. Kesungguhan hati kita bergaul akrab dengan Tuhan lewat doa dan penyerahan diri kepada-Nya membuka kemungkinan bahwa kita amat membutuhkan peran-Nya dalam kehidupan ini. Sayang, banyak orang yang bersikap pongah dengan menganggap Tuhan tidak mereka butuhkan. Alasannya, kebutuhan kita dapat kita atasi dengan harta benda yang ada pada kita, sebab bukankah kata peribahasa, “Ada uang ada jalan.”

Alasan lainnya bahwa manusia memiliki kemampuan teknologi tinggi, sehingga apa saja dapat diatasi dengan teknologi yang supercanggih pada masa kini. Benarkah demikian? Sama sekali tidak! Terbukti, manusia masih belum mampu, bahkan tak mungkin mampu mengatasi keterbatasan umurnya, juga dalam perlawanannya terhadap penyakit yang mematikan seperti kanker, flu burung, dan penyakit tertentu lainnya.

Itu tandanya bahwa manusia masih membutuhkan peranan Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. Manusia berdoa kepada Tuhan, mencari Dia, dan bersandar kepada-Nya adalah sikap manusia yang wajar dan semestinya. Jangan meremehkan Dia, tetapi hormatilah Dia. Maka, Alkitab menuntun kita ke arah itu dan terpeliharalah hidup kita.

Jika kita sadar terhadap keberadaan kita sebagai manusia begitu terbatas, berdoalah kepada Tuhan, cari, dan temukanlah Dia maka Ia akan kita temukan dalam kehidupan kita masing-masing. Ia berkenan kita temui, Ia juga berkenan menolong kita. Yang penting, dengan rendah hati dan penuh harap kita mencari dan meyerahkan diri kepada-Nya. Maka jadilah kita sebagai orang-orang yang ber-Tuhan. Amin. ***

Penulis, pendeta Gereja Kristen Jawa Kiaracondong Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 29 September 2007

Facebook Comments