Catatan: Berita berikut sudah berumur hampir dua tahun, namun masih relevan dalam rangka pengamatan dan pemahaman kita terhadap berbagai gejala irasionalitas dalam masyarakat. (Redaksi).

Jakarta (Bali Post) –
Urusan santet-menyantet ternyata merambah Kejaksaan Agung. Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh tiba-tiba saja menantang para dukun dan tukang santet yang coba-coba berani mengirim kekuatan gaib itu kepadanya. ”Dukun dan tukang santet tidak bisa menang dengan Kejaksaan Agung,” katanya, Jumat (6/1) kemarin.

Pernyataan pimpinan instansi penuntutan ini, ternyata untuk menanggapi pengakuan atau keresahan Jampidsus Kejaksaan Agung Hendarman Supandji di Istana Negara, Kamis (5/1) lalu. Saat itu, Hendarman mengaku kekuatan gaib telah menghambat tugasnya dalam pemberantasan korupsi yang banyak ditanganinya. Ini bukan omong kosong, karena tempat tidur di rumahnya kerap dijatuhi dan dipenuhi belatung.

Dalam kesempatan itu, Jaksa Agung mencoba menenangkan anak buahnya. Menurutnya, orang-orang yang rajin beribadah takkan bisa ditembus santet dan kekuatan hitam lainnya, termasuk dirinya dan Hendarman. ”Saya tidak percaya dengan hal itu (santet-red),” kata mantan hakim agung ini.

Dengan ringan, Abdul Rahman menyampaikan imbauan kepada bawahannya itu untuk rajin-rajin membersihkan atap eternit di rumahnya. Bisa saja di baliknya ada apa-apanya yang menyebabkan belatung-belatung itu berdatangan dan jatuh ke tempat tidurnya. ”Rajin-rajin dibersihkan saja eternitnya,” sarannya mencoba kembali menenangkan Jampidsus.

Mengenai pengamanan terhadap para jaksa yang memegang jabatan dan perkara penting, Abdul Rahman menyatakan sesuai standar yang berlaku untuk mengamankan pejabat negara. Bahkan, karena terlalu ketat pengawalannya, para jaksa seperti seorang tahanan. ”Lihat saja saya, sudah seperti tahanan. Ke mana-mana selalu dikawal ketat petugas keamanan,” ujarnya sambil berkelakar. (kmb3)

Sumber: Bali Post, 7 Januari 2006

Facebook Comments