Komik Doraemon ciptaan Fujio F. Fujiko tidak saja digemari oleh anak-anak, yang menjadi target utama komik tersebut, tetapi juga orang-orang yang lebih dewasa: anak-anak SMP, SMA, mahasiswa, bahkan orang-orang tua. Doraemon adalah kucing robot abad ke 22 yang menjadi teman setia Nobita yang (1) bodoh, dan (2) pemalas, tetapi (3) berambisi besar. Doraemenon adalah kucing ajaib yang memiliki berbagai macam alat atau pil ajaib yang menjadi ‘penawar sementara’ segala kesulitan ata masalah yang sedang dihadapi Nobita dalam kesehariannya.

Ada satu ciri khas dari alat / mesin dan pil penawar Doraemon, ialah: ia selalu mendatangkan masalah baru pada Nobita. Selain itu, ia memanjakan Nobita sehingga Nobita menjadi tak mampu berbuat apa-apa tanpa Doraemon.

Kisah Doraemon – Nobita adalah juga kisah yang dilakonkan para ‘penjual’ dan ‘pelanggan’ irasionalitas. Meskipun selalu ada semacam jaminan bahwa ‘tenaga dalam’ tertentu tidak memiliki efek samping, aman-aman saja, namun ada satu efek negatif yang selalu muncul, tetapi hampir tak pernah disadari oleh para ‘pelanggan’, yaitu: ketergantungan mutlak para pelanggan terhadapnya. Mereka tak dapat berbuat banyak tanpa kehadirannya. Ia lama kelamaan menjadi bagian integral dari kehidupan pemakainya; ibarat manusia tanpa udara segar. Dengan demikian, pada akhirnya, para ‘pemiliknya’ justru menjadi hamba dari daya-daya magis itu. Dalam hal ini, para pemakai daya-daya magis itu tiada bedanya seperti para pecandu narkoba atau alkohol yang tak akan hidup ‘normal’ tanpa obat-obat yang berbahaya itu.

Ada banyak kasus di mana orang yang sempat memiliki daya magis itu lantas “membuangnya” begitu saja tanpa “proses pembersihan”, akan mengalami banyak gangguan dalam hidupnya dalam berbagai bentuk: kekuatiran yang luar biasa, ketakutan, rasa rendah diri, hilangnya kelancaran berbicara secara runtut, dan sebagainya. Inilah sebabnya, seperti juga ketergantungan pada obat-obatan keras, para “mantan pelanggan” daya magis itu tidak jarang kembali berusaha untuk memiliknya. Mereka umumnya tak dapat hidup tanpa kehadiran daya magis itu.

Ada berbagai alasan yang menjadi pendorong larinya banyak orang kepada daya-daya gaib itu. Di antaranya adalah:

  1. ada berbagai masalah yang sedang dihadapi yang tak dapat dijelaskan secara “rasional” oleh orang yang bersangkutan, seperti: kemiskinan yang melilit hidup secara berkepanjangan, penyakit tertentu yang tak sembuh-sembuh, hambatan-hambatan irasional dalam karier yang muncul dalam bentuk penekanan atau penghadangan yang tak adil, dan sebagainya.
  2. ambisi pribadi yang berlebihan misalnya untuk meraih prestasi atau posisi tertentu, untuk memiliki seseorang yang sangat dicintai tetapi, dan sebagainya
  3. sebagai persiapan untuk menduduki posisi yang lebih tinggi. Misalnya, seorang pejabat yang mendapat posisi baru yang lebih tinggi, merasa memerlukan “penjaga khusus”. Hampir dapat dipastikan, kehadiran “penjaga khusus” itu akan membawa kerusakan reputasi bagi pejabat yang bersangkutan. Maka, kita harus memendam rasa kekecewaan kita, apabila seseorang yang dulunya dikenal sebagai orang yang bereputasi baik, kompeten dan sangat dihormati pada bidang tertentu, setelah mendapat posisi tertentu malah reputasinya terdegradasi. Pola umumnya adalah sebagai berikut: mula-mula kehadiran yang bersangkutan dalam posisi tertentu itu menyejukkan semua pihak. Tahap ini disertai dengan munculnya kontroversi (yang ditimbulkan oleh kehadiran daya gaib itu) yang menyita banyak energi begitu banyak pihak, dan diakhiri dengan rusaknya reputasi yang bersangkutan.
  4. pewarisan dari orangtua orang yang bersangkutan. Tidak jarang seseorang mendapat daya-daya gaib itu dari orang tua atau kerabat, baik secara sadar maupun tidak. Secara sadar melalui peninggalan berbagai buku atau benda ‘bertuah’ kepada yang bersangkutan. Secara tak sadar, melalui usaha tersembunyi sang orang tua untuk mentransfer daya-daya gaib itu melalui air mandi, pemasngan benda ke dalm tubuh yang bersangkutan di waktu tidur, dan sebaginya.
  5. “ketidakdewasan” yang muncul dalam bentuk rasa kurang percaya diri, takut berhadapan dengan orang lain, takut menghadapi sesuatu persoalan atau hari esok yang kelihatannya kelam, dan sebagainya
  6. faktor kebetulan, misalnya karena munculnya rasa ingin tahu, atau mendapat ‘hadiah’ sebagai balas jasa dari orang lain yang pernah mendapat pertolongannya.

Apakah Anda termasuk Doraemon atau Nobita masa kini ?

E. Halawa*

Artikel ini muncul dalam Blog Yaahowu, 28 Oktober 2005

Facebook Comments