Bulan September 2007 merupakan bulan penuh refleksi bagi kita. Pada bulan ini, ada dua peristiwa penting yang perlu dicatat yakni Pembukaa Bulan Puasa bagi umat Islam dan Bulan Kitab Suci Nasional bagi Gereja Katolik Indonesia.

Ibadah Puasa bagi umat Islam adalah salah satu moment penting di mana umat Islam diingatkan kembali akan “ketergantungan mutlak manusia kepada Allah”. Pada bulan puasa, umat Islam mengalami kelaparan batiniah dan kehausan spiritual yang hanya dapat dipuaskan oleh dan di dalam Allah. Oleh karena itu, Ibadah Puasa merupakan penolakan yang radikal terhadap segala macam godaan yang dapat mengalihkan perhatian manusia dari Allah.

Bagi umat Katolik Indonesia, bulan September merupakan saat yang paling tepat untuk merenungkan bersama panggilan hidupnya dengan bermodelkan panggilan Abraham: “Menjadi Berkat Bagi Segala Bangsa”. Umat Katolik mengadakan ziarah batin melalui pendalaman Kitab Suci dengan menumbuhkan kesadaran akan panggilan yang sudah ada dari dulu untuk dirinya dan akan terus berlangsung sampai pada keturunannya, sekaligus menantikan janji Tuhan yang sudah ada dari dulu, sekarang dan juga akan berlangsung sampai pada keturunannya.

Dua peristiwa penting ini diharapkan sanggup menggugah hati kita untuk menyadari panggilan kita di dalam Tuhan. Pada Bulan Kitab Suci Nasional, Gereja Katolik Indonesia mengetengahkan Abraham yang sesungguhnya adalah tokoh kunci bagi tiga agama monoteis di dunia yakni Yahudi, Kristen dan Islam menjadi model. Abraham adalah seorang peziarah. Dia dipanggil dari kemapanan lingkungannya, dihantar keluar dari bangsanya dan kepercaayaannya. Abraham akhirnya menerima panggilan khusus dari Tuhan untuk meninggalkan negerinya dan mengharapkan janji Allah yang akan berlangsung sampai kepada keturunannya.

Sungguh luar biasa. Abraham merupakan tokoh yang setia dan taat pada Tuhan sehingga oleh dia segala bangsa diberkati. Bahkan Abraham sendiri merupakan berkat bagi segala bangsa.

Menjadi Berkat bagi sesama bukanlah hal yang mudah. Di dalamnya ada tanggung jawab berat yang dipikul. Kerendahan hati merupakan salah satu kunci utama yang sanggup menjadikan kita sebagai berkat bagi sesama karena kerendahan hati merupakan kemampuan untuk menjembatani antara konsepsi dan realitas. Abraham merupakan model yang rendah hati sehingga akhirnya dia menjadi berkat bagi segala bangsa.

Selain itu, kesadaran bahwa kehadiran kita sendiri merupakan berkat bagi orang lain harus tumbuh dalam hati kita. Dengan tumbuhnya kesadaran ini, kita dipacu dan disemangati untuk semakin menjadikan dan menciptakan berkat-berkat baru bagi orang lain mengalir melalui kita sendiri. Kapan dan bagaimana?

Kehadiran kita sebagai berkat bagi orang lain terwujud jika kita mampu hadir sebagai seorang pembawa damai. Kehadiran yang membangkitkan dan membebaskan, bukan menyalibkan dan membelenggu. Keramahtamahan dan sikap bersaudara. Memberi rasa aman dan saling memahami. Inilah berkat yang harus diperjuangkan lebih di atas berkat yang secara dangkal dipandang sebatas barang material.

Mudah-mudahan dua moment penting di bulan September ini menjadikan kita (Umat Kristen pada Umumnya, Katolik pada khususnya dan Umat Islam) berkat bagi sesama kita (keluarga, lingkungan masyarakat dan negara).

Facebook Comments