Tahun 2004, Eva Mariani dari koran berbahasa Inggris The Jakarta Post, dalam sebuah tulisannya tentang Nias, menjuluki P. Johannes sebagai: The Keeper of Nias Forgotten Culture. Para pembaca tulisan ini tentulah faham betul apa maksud dari julukan itu dan mengapa diberikan kepada P. Johannes.

P. Johannes adalah misionaris Katolik yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk berbakti di Nias: menjadi seorang imam bagi umat Katolik. Dari sampul buku Omo Sebua karangan beliau, kita tahu bahwa P. Johannes yang berasal dari Hausach, Jerman, itu mulai berkarya di Nias pada tahun 1972. Meskipun P. Johannes datang ke Nias sebagai seorang rohaniawan, pada perkembangannya beliau meluangkan lebih banyak waktu untuk melakukan pencatatan terhadap berbagai aspek budaya Nias; beliau lebih dikenal sebagai “pakar” budaya Nias dari pada seorang imam Katolik.

Karya-karya P. Johannes tentang budaya Nias muncul antara lain dalam bentuk sejumlah buku (lihat topik Publikasi). Buku-buku karya P. Johannes telah menarik minat masyarakat Nias, dunia antropologi Indonesia dan juga dunia. Bukunya berjudul: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi yang terbit pada tahun 2001 “menggemparkan” dunia kebudayaan Nias dengan “teori rahimnya” tentang tafsiran pengertian Teteholi Ana’a, dan usahanya untuk menguak asal-asal usul masyarakat Nias melalui tafsiran baru mite dan hoho Nias. Penggalian arkeologis di Tögindrawa dimulai atas inisiatif P. Johannes yang dibarengi dengan penyelidikan DNA oleh salah seorang sahabatnya, Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dari Universitas Münster, Jerman (lihat wawancara Nias Portal dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht).

Salah satu dari karya besar P. Johannes dalam bentuk fisik adalah: koleksi berbagai artefak budaya Nias yang kini dihimpun dalam Museum Pusaka Nias yang juga merupakan realisasi dari ide cemerlangnya untuk masyarakat Nias. Saat ini, kalau masyarakat Nias ingin bersantai-santai sedikit maka tujuan wisata mereka yang utama tiada lain adalah Kompleks Museum Pusaka Nias yang menyajikan hiburan segar berupa kebun binatang mini, buku-buku budaya dan koleksi peninggalan budaya Nias yang berhasil “diselamatkan” oleh Pastor Johannes selama keberadaan beliau di Nias.

Maka, “berdosalah” orang Nias apabila melupakan jasa P. Johannes untuk masyarakat Nias. Kita, masyarakat Nias, wajar berterima kasih kepada P. Johannes (dan juga kepada yang lain) yang telah membantu menggali dan melestarikan budaya Nias.

Salah satu bentuk rasa terima kasih yang berwujud “spiritual” adalah mengarahkan kesadaran untuk memahami, meminati dan mencintai budaya Nias. Sejak terbitnya buku P. Johannes berjudul: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi pada tahun 2001, masyarakat Nias seakan bangkit dari tidur panjangnya dan mulai belajar memahami, berusaha meminati dan menicintai budaya Nias. Setiap kali ada “persoalan” yang terkait dengan budaya Nias, Ono Niha secara spontan mengingat dan menyebut buku Asal Usul …

Kisah yang serba singkat dan terbatas yang disajikan di atas membuat kita tidak ragu lagi mengamini julukan yang diberikan Eva Mariani di depan kepada P. Johannes sebagai: The Keeper of Nias Forgotten Culture (Penjaga Kebudayaan Nias Yang Terlupakan).

Kini P. Johannes bukan lagi hanya milik Nias, melainkan juga milik dunia antropologi dunia, melalui “kepakarannya” di bidang budaya Nias. Setiap kali ada konferensi internasional bidang kebudayaan, rasa-rasanya belum pernah ada budayawan orang Nias yang ikut berbicara. Untung Nias memiliki seorang putra bernama P. Johannes, yang dalam setiap buku-bukunya kita menemukan banyak kata “kita”: budaya kita, adat kita, kampung kita, sejarah kita. P. Johannes telah mengidentikkan diri dengan orang Nias: beliau bukan lagi Niha Geremani, melainkan Ono Niha.

***
Kritik dan budaya kritis adalah hal yang wajar dalam penelitian ilmiah (baca: Kritik, Berpikir dan Bersikap Kritis). Peradaban Barat – yang sangat dijiwai oleh P. Johannes karena beliau berasal dari lingkungan itu – bisa semaju seperti yang kita saksikan saat ini adalah berkat tradisi keterbukaan, sikap dan budaya kritis. Budaya kritis itu telah menular ke seluruh pelosok dunia, dengan kecepatan penularan yang sangat tinggi.

Budaya kritis itu juga menular ke masyarakat Nias. Itulah yang sedang kita saksikan ketika masyarakat Nias misalnya melontarkan kritik terhadap para pemimpinnya di Nias sana. Itulah juga yang kita saksikan ketika sebagian dari Ono Niha yang memiliki akses ke internet mengajukan berbagai pertanyaan tentang tafsiran P. Johannes terhadap makna Teteholi Ana’a. Kritik yang dilontarkan dalam berbagai bentuk, gaya, intonasi, dan intensitas itu intinya adalah satu dan sama: “jawablah kami, jelaskanlah kepada kami” ! Tiada inti lain, dan tiada maksud lain.

Adalah wajar masyarakat Nias mengharapkan P. Johannes Hammerle mau “turun ke lapangan diskusi” dan menjawab semua kritik terhadap karya-karyanya di bidang budaya Nias, kritik yang muncul dalam berbagai penampilan: halus, kritis, keras, menggigit, rasional, emosional, dan seterusnya. P. Johannes sebagai “pakar” budaya Nias, sebagai “The Keeper of Nias Forgotten Culture” tidak bisa menghindari menjawab berbagai pertanyaan dalam bentuk kritik ini, misalnya saja dengan dalih “ini bukan forumku, karena forumku adalah forum internasional”.

Dalih semacam itu hanya akan melahirkan dua penafsiran baru yang lebih keras: (1) P. Johannes menunjukkan arogansi sehingga tidak mau berbicara dengan pemerhati budaya lokal yang tiada lain adalah Ono Niha sendiri (“darah daging”-nya sendiri karena beliau selalu mengidentikkan diri dan karenanya telah menjadi bagian dari Ono Niha), yang sebenarnya merupakan subjek-subjek yang akan mengambil keuntungan besar dari hasil-hasil karyanya di bidang budaya, dan (2) ini adalah wujud ketidak-mampuan P. Johannes untuk menangkis kritik-kritik yang ditujukan kepadanya. Dengan kata lain P. Johannes sendiri tidak memiliki keyakinan akan kebenaran berbagai penafsirannya tentang budaya Nias.

Berbicara di forum internasional tidak serta merta harus dianggap sebagai sebuah prestasi yang mengagumkan atau sebagai bukti kepakaran seseorang, terlebih kalau di forum seperti itu kita tidak menemukan pakar lain yang memahami bidang kita. (Sebagai catatan: saat ini, selain P. Johannes, kita tidak menemukan nama lain yang berkibar di dunia antropologi dengan spesialisasi budaya Nias). Kalau itu yang terjadi (dan hal itu sering terjadi), maka forum semacam itu, walau berstatus “skala internasional” akan dengan mudah terjerumus menjadi forum penumpahan informasi sepihak tanpa menghasilkan pengasahan ide-ide.

Tanpa bermaksud mengurangi rasa kagum pada karya-karya tulis P. Johannes, kita boleh berkomentar sebagai berikut. Menulis sebuah buku, apalagi sejumlah buku pada bidang yang sama memamg sedikit banyaknya memberikan gambaran tentang minat kita akan hal tertentu. Akan tetapi menulis buku, apalagi yang diterbitkan sendiri oleh penulisnya, tidaklah serta merta menjadi tolok ukur kepakaran seseorang dalam bidang tertentu. Dalam dunia ilmiah, kepakaran biasanya dikaitkan dengan pembelaan tesis secara lisan di hadapan para penguji atau secara tertulis dengan menjawab para penilai isi tesis. Karena tidak semua pakar menulis tesis, masih ada jalur lain yang dapat ditempuh untuk menunjukkan kepakaran: menulis pada jurnal ilimiah. Menulis untuk suatu jurnal ilmiah jauh lebih tinggi nilainya dari pada mengirim sebuah karangan ilmiah pada sebuah konferensi. Hal ini dapat dimaklumi: di konferensi-konferensi (walau yang beratribut “ilmiah” sekali pun”), tidak jarang makalah diloloskan begitu saja tanpa saringan ketat, karena target penyelenggara adalah menjaring sebanyak-banyaknya peserta konferensi.

Peter Suzuki, terlepas dari berbagai kelemahan disertasinya tentang budaya Nias, telah melalui proses yang normal dalam dunia ilmiah itu. Bahwa akhirnya pendapat Suzuki mendapat kritikan tajam dari berbagai pihak, termasuk P. Johannes, adalah hal yang wajar saja dalam dunia ilmiah. Yang tidak wajar adalah apabila kritik atas kritik tidak diterima sebagi sebuah kritik yang wajar.

Kini giliran P. Johannes seharusnya bertindak sebagai guru atau suhu budaya Nias dengan mengajak generasi muda Nias berbincang-bincang tentang budayanya. “Böli Hae ! Jangan terengah-engah dalam memikirkan kebudayaan Nias.” Ini adalah pesan P. Johannes dalam buku “Asal-Usul …”. Ini bisa diartikan sebagai pesan penggugah semangat dari P. Johannes kepada generasi muda Nias.

Kalau P. Johannes tidak menampik gelar sebagai “pakar” budaya Nias dan tak berkeberatan dengan julukan “the Keeper of Nias Forgotten Culture”, maka beliau seharusnya juga siap menerima terpaan angin kritik atas karya-karyanya dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat Nias, khususnya generasi mudanya yang sedang haus-hausnya akan pemahaman yang kritis tentang berbagai hal, termasuk masalah budaya.

Di sinilah letaknya relevansi kesediaan P. Johannes “turun” dari “teteholi ana’a” kebungkaman. (eh)

Facebook Comments