Allah Membentuk Pribadi Kita

Saturday, September 15, 2007
By nias

Oleh Pdt. CIPTOMARTALU SAPANGI

“Sesungguhnya, bagi Allah aku sama dengan engkau, aku pun dibentuk dari tanah liat.” (Ayub 33:6)

SEPASANG kakek nenek berbelanja di sebuah toko cendera mata. Mereka hendak membeli sesuatu untuk cucu mereka yang akan berulang tahun pekan depan. Sampailah mereka ke lemari kaca yang berisi cangkir cantik di sudut toko tersebut. Segeralah sang nenek berteriak seraya menunjuk ke arah cangkir cantik yang dimaksudkan itu, “Nah, inilah yang kita cari, cangkir cantik itu!” “Mbak, tolong ambil cangkir itu, kami hendak melihatnya dahulu.”

Lalu cangkir itu pun diserahkan oleh pramuniaga perempuan itu. Mereka melanjutkan dengan melihat-lihat cangkir itu seraya mengaguminya. Seandainya cangkir cantik itu dapat berbicara, mungkin ia akan berkata, “Terima kasih, kakek dan nenek mengagumi diriku. Semula aku sebenarnya adalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun, di tangan seorang penjunan, aku diperlakukan dengan keras. Diputar-putar dengan roda pemutar sampai pusing sekali kepalaku. Kendati aku meminta, agar ia berhenti memutar-mutar diriku, tetap saja ia melanjutkannya. Lalu aku ditinju dan dibanting berkali-kali sampai tubuhku sakit semua. Kemudian diputar-putar lagi sampai aku terbentuk menjadi sebuah cangkir. Karena masih basah belepotan, aku dimasukkan ke perapian yang panas sekali sampai kering. Menyusul aku diserahkan kepada seseorang yang menggambari diriku dengan cat yang beraneka warna. Sekali lagi aku dimasukkan ke perapian, lalu diangkat dan dibiarkan sendirian terletak semalaman. Baru kemudian dibawa ke lemari kaca dan sekarang berada di tangan kakek dan nenek. Begitulah proses yang aku alami menjadi sebagaimana aku ada. Aku cantik, karena telah dibentuk oleh penjunan.”

Kutipan ayat di atas adalah kesaksian Ayub yang mengaku seperti tanah liat yang sedang dibentuk oleh penjunan. Bersama Elihu, temannya, ia merasa seperti tanah liat itu. Khusus tentang Ayub, seorang kaya dari tanah Us, Mesopotamia, Irak sekarang. Ia memiliki banyak ternak dan inilah jumlahnya, 7.000 ekor kambing domba, 3.000 ekor unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina, dan sejumlah besar budak. Ia memiliki keluarga utuh dan harmonis dengan tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Ia dikenal sebagai seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Pendek kata, kehidupan rohaninya nyaris sempurna tak bercela, baik di hadapan Allah maupun manusia.

Pada suatu hari, ternyata Allah mengizinkan Ayub mengalami musibah. Ternak-ternaknya yang banyak itu dirampok orang sampai habis. Menyusul kesepuluh anaknya mati sekaligus tertimpa rumah, tempat mereka berkumpul akibat tertiup angin badai. Tak hanya sampai di situ, Ayub sendiri mengalami sakit kusta di sekujur tubuhnya. Penyakit yang hina itu menggerogoti tubuhnya, sehingga ia menggaruk-garukinya karena gatal sambil duduk di atas abu. Penderitaan jiwanya juga dialaminya, karena ia ditinggalkan oleh istrinya seraya menganjurkan Ayub untuk mengutuki dan menghujat Allah.

Ketiga orang temannya selain Elihu juga menyalahkan dia habis-habisan, sehingga menambah beban berat penderitaannya. Sungguh, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah misteri Allah, yang sama sekali tak dapat dipahami Ayub. Bagaimana mungkin seorang yang dikenal saleh dan jujur, harus mengalami penderitaan yang amat berat itu. Namun itulah yang terjadi, Ayub mengalami dalam kenyataan hidupnya.

Kendati ia pernah mengutuki hari kelahirannya, seolah-olah ia hendak berkata, “Untuk apa aku dilahirkan jika harus mengalami penderitaan yang berat ini?” Namun, ia segera sadar bahwa ia hanya tanah liat belaka. Ia lalu mawas diri dan segera berserah ke dalam tangan kuasa Allah, sehingga Allah pun bertindak. Mula-mula Allah memulihkan kulit tubuhnya menjadi seperti semula, ternak-ternaknya dipulihkan oleh-Nya, bahkan dua kali lipat. Demikian pula Ia mengembalikan istri dan anak-anaknya seperti semula. Lalu Ayub berseru bahwa penebusnya hidup! Lewat pengalaman dan penderitaannya yang berat, Ayub pada akhirnya dapat merasakan betapa Tuhan Allah Yang Mahakasih, telah membentuk dirinya sebagaimana ia ada.

Bercermin pada pengalaman Ayub, selaku orang beriman kita perlu menyadari keberadaan diri kita. Kita adalah tanah liat dan Allah adalah Penjunannya. Tentu kita juga pernah mengalami pengalaman hidup yang berat dan menyakitkan, saat ada perkara-perkara yang memusingkan kepala kita, mulai dari perkara pribadi, rumah tangga, masyarakat hingga negara. Juga kita pernah mengalami saat-saat menghadapi masalah-masalah kehidupan yang rumit, sehingga kita yang merasa tidak berdaya, nyaris putus asa.

Mungkin juga kita telah sampai pada titik nadir dalam pergumulan kita. Berserulah kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya, agar Ia melepaskan kita dari belitan permasalahan yang berat itu. Kesemuanya itu sebenarnya merupakan cara yang sedang diproses Allah untuk mendewasakan kita, mematangkan kita, dan menjadikan kita orang-orang yang mampu tegak berdiri dalam kehidupan ini. Sama seperti yang tertulis dalam surat Yakobus 1:2-4, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”

Kendati kehidupan di dunia ini penuh dengan tantangan, pencobaan, dan godaan, jika kita selalu berada di dalam penyertaan Allah, niscaya Ia akan menolong kita dan memampukan kita untuk menghadapinya. Masalahnya, maukah kita berserah diri kepada-Nya sepenuhnya? Jika kita menganggap diri kita tanah liat dan Allah adalah Penjunannya, kita aman berada di dalam tangan-Nya. Kita dibentuk oleh-Nya untuk menjadi alat yang berguna, sekalipun kita harus mengalami lika-liku kehidupan yang sulit.

Pada akhirnya, Allah akan menyempurnakan diri kita sesuai dengan kehendak-Nya. Kita tak usah khawatir dan ragu terhadap kebijaksanaan Allah dalam rencana-Nya membentuk kita. Ia pasti menjadikan hidup kita menjadi baik, kendati mungkin kita harus menanti kejelasannya hingga waktu yang lama. Mudah-mudahan kita sabar untuk menerima proses Allah membentuk diri kita sampai tuntas agar kita dapat mempersembahkan hidup kita bagi kemuliaan nama-Nya. Amin. ***

*Penulis, pendeta Gereja Kristen Indonesia, Jln. Pasirkaliki, Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 15 September 2007

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

September 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930