Hasil kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan bahwa masyarakat Indonesia masih belum siap menghadapi bencana. “Dari lima wilayah yang menjadi sampel penelitian, terbukti tidak ada wilayah yang masuk kategori siap menurut parameter kami,” kata ketua tim survei kesiapsiagaan masyarakat, Denny Hidayati, di sela-sela Seminar Internasional dan Lokakarya Nasional Pendidikan Kesiapsiagaan Masyarakat Menghadapi Bencana, pekan lalu.

Dari lima daerah yang diteliti, yakni Kabupaten Serang, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Maumere, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Bengkulu, “Hanya Cilacap yang mencapai kategori hampir siap,” kata Denny. “Itu pun nilainya berbeda tipis saja dengan yang lain alias masih memprihatinkan.”

Tim LIPI menggunakan tingkat kesiapan masyarakat di suatu daerah berdasarkan nilai komposit dari kesiapan komponen masyarakat utama, yakni rumah tangga, komunitas sekolah (institusi sekolah, guru, dan siswa), dan pemerintah (institusi pemerintah kabupaten/kota).

Pengukuran terhadap tiap komponen utama masyarakat didasarkan pada parameter kesiapan yang terdiri atas pengetahuan, kebijakan dan panduan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan bencana, serta kemampuan mobilisasi sumber daya. Hasilnya, Cilacap memperoleh nilai 55 atau masuk kategori “hampir siap”, yang rasionya 55-64.

Adapun Padang Pariaman dan Serang memperoleh nilai 54. Sedangkan Bengkulu dan Maumere memperoleh nilai 51. “Tapi nilainya semua masih 5, maka masih merah semua,” ujar Denny, yang juga Kepala Pusat Penelitian Kependudukan di LIPI.

Apabila diperinci untuk tiap parameter kesiapan, dari sisi pengetahuan, hampir tiap komponen masyarakat di berbagai daerah itu sudah memiliki pengetahuan darurat bencana. “Misalnya, banyak (anggota) masyarakat yang sudah mengetahui, apabila terjadi gempa yang membuat mereka sulit berdiri atau air laut mendadak surut dan seterusnya, itu artinya terjadi tsunami dan mereka harus berlari ke tempat yang tinggi,” Denny memaparkan.

Masalahnya, kesiapan pengetahuan ini tidak diikuti kesiapan kebijakan, rencana, dan mobilisasi mitigasi, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Denny mengilustrasikannya sebagai masyarakat yang tahu harus lari ke tempat tinggi tapi tidak tahu ke arah mana. Begitu juga mengenai rute lari, letak tempat perlindungan terdekat, dan bagaimana memastikan bahwa tiap gempa bakal disusul tsunami, mereka tidak tahu apa-apa. “Kalau sudah masalah aplikasi, nilainya langsung jatuh,” kata Denny.

Deputi Jasa Ilmiah LIPI Jan Sopaheluwakan menyatakan hasil penelitian ini bisa menjadi indikasi bahwa masyarakat Indonesia masih belum siap menghadapi bencana. “Pemilihan sampel lima wilayah itu memang dipilih secara purposif,” katanya.

Kelima wilayah itu pernah dilanda bencana besar gempa dan tsunami. Selain itu, kemungkinan besar wilayah-wilayah tersebut akan dikunjungi lagi oleh bencana serupa di masa depan berdasarkan kajian paleotsunami. Dengan kata lain, masyarakat dan pemerintah di daerah-daerah itu (harus) terbiasa dengan bencana.

Bengkulu, misalnya. Adrin Tohari, peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, baru saja merampungkan studinya tentang derajat likuifaksi (amblesnya tanah akibat gempa) di sana. Hasilnya, benar, wilayah Bengkulu sangat rentan.

Adrin menjelaskan, berdasarkan peta geologi dan hasil penelitian, lapisan tanah di wilayah pesisir Kota Bengkulu terbentuk oleh endapan pasir dengan kepadatan bervariasi menurut kedalaman dan lapisan endapan rawa yang cukup tebal. “Lapisan pasir yang tidak padat itulah yang cenderung akan mengalami ambles ketika gempa bumi terjadi,” ujarnya.

Tidak tanggung-tanggung, sebagian wilayah yang dikajinya bahkan masuk zona kerentanan tinggi. Ia menunjuk daerah dataran yang tersusun dari endapan pasir di sepanjang Pantai Panjang dan daerah di sekitar Danau Dendam Tak Sudah.

Berdasarkan kondisi-kondisi itu, Jan sebenarnya berharap menemukan hasil kesiapan yang baik di sana, di Bengkulu dan empat wilayah lainnya. Nyatanya tidak. “Kalau wilayah yang sering dikunjungi bencana saja tidak siap, bagaimana dengan daerah yang belum terkena bencana?” katanya. (AMAL IHSAN).

Sumber: Koran Tempo (10 September 2007)

Facebook Comments