Jenk Iskhan, salah seorang peserta diskusi tentang “irasionalitas” menyajikan jenis-jenis kegiatan berpikir: melamun (yang tak sistematis), intuitif, empiris, rasional, dan ilmiah sistematis. Menurut pengalaman saya pribadi, pengelompokan macam itu hanya teoritis, di atas kertas. Dalam keseharian kita, kita tidak bisa secara tegas mengklasifikasikan masuk dalam kategori mana “kegiatan berpikir” kita ketika kita sedang “menghadapi” sesuatu. Dengan kata lain, jenis kegiatan berpikir itu terus menerus berubah dari waktu ke waktu dari detik ke detik.

Mari mengambil contoh. Seorang peneliti dalam kesehariannya bergumul dengan hal-hal yang berbau penelitian – ilmiah. Secara “refleks” kita akan mengasosiasikan sang peneliti dengan tipe berpikir ilmiah sistematis. Benarkah ? Bisa jadi … tapi sejauh mana ? Ketika sedang apa ? Sang peneliti juga seorang manusia, bisa kecewa bisa juga emosinya meluap-luap ketika misalnya berhasil menemukan sebuah rumus, metode atau apa saja yang sedang dikejarnya dalam penelitian. Pertanyaan sekarang adalah: benarkah hasil penelitiannya berasal dari proses berpikir dalam periode di mana ia menggunakan aktivitas berpikir “ilmiah dan sistematis” ? Siapa yang bisa memastikan ? Bukankah proses penemuan terkadang berliku, diwarnai atau didahului dengan berbagai kekecewaan, kegagalan dan frustrasi yang berkepanjangan ? Bukankah gagasan atau ide yang menentukan itu bisa saja tiba-tiba datang, di saat-saat peneliti justru sedang dalam keadaan frustrasi atau kekecewaan berat ? Bukankah ide-ide brilian itu tidak selalu terjadi dalam laboratorium riset ketika dia (sang peneliti) sedang mengarahkan secara maksimal aktivitas berpikir yang “ilmiah sistematis” itu ?

Dari uraian singkat di atas kita bisa melihat bahwa saat-saat yang menentukan (momen-momen krusial) dalam kegiatan penelitian tidak selalu “berimpit” dengan momen-momen di mana aktivitas “ilmiah yang sistematis” itu dikerahkan secara maksimal.

Yang dapat kita terima secara umum adalah: bahwa kegiatan berpikir sistematis cenderung lebih sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang memang membutuhkan tipe berpikir seperti itu dalam pekerjaannya. Dalam contoh di atas adalah peneliti tadi. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa orang-orang lain tidak dapat menggunakannya. Persoalan yang dihadapi dan suasana saat itu rasanya yang lebih berperan dalam menentukan tipe berpikir mana yang kita gunakan.

***
Sekitar 20 tahun lalu, saya dan seorang teman ingin pulang ke Medan dari Jakarta. Karena terlambat memesan tiket kapal laut, kami memutuskan naik bis jarak-jauh Jakarta – Medan. Di stasiun Pulogadung kami mendapatkan dua bis yang mau berangkat ke Medan. Yang satu (Bis A) masih belum penuh, dan belum ada tanda-tanda akan segera berangkat. Diinformasikan juga bahwa, berangkat tidaknya Bis A ke Medan akan tergantung dari penuh tidaknya bis tersebut. Artinya, ada kemungkinan bis ini tidak berangkat ke Medan. Bis lainnya (Bis B) sudah mendekati penuh dan agaknya sudah mau berangkat segera.

Dalam proses penantian dan keraguan, kami memutuskan untuk sementara duduk di dalam bis A yang masih kosong itu, hanya karena menghindari kebisingan mesin bis B yang diakibatkan oleh ulah supir yang menekan gas berkali-kali untuk meyakinkan para calon penumpang bahwa bis B segera berangkat.

Di tengah keraguan, penantian dan sengatan matahari sore Jakarta, tiba-tiba saja seorang kernet bis B memasuki bis A dan mengajak kami pindah ke bis B dengan agak memaksa. Teman saya sudah turun ke bawah dan dari bawah berseru: “Ayolah … tunggu apa lagi” sambil berlari menuju pintu depan Bis B. Saya menjawab secara spontan sambil berteriak tetapi rasa-rasanya dengan pertimbangan tertentu yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata: “Kita tunggu bis ini saja, jangan ikut bis itu!“. Teman saya itu sempat meloncat ke atas bis B akan tetapi karena saya masih di dalam Bis A teman saya itu akhirnya turun lagi dan masuk kembali ke dalam Bis A dengan raut muka yang penuh kekecewaan.

Ketika memutuskan tetap tinggal dalam Bis A, menurut uraian Jenkiskhan, saya tentu sedang menggunakan aktivitas berpikir tipe intuitif. Itu benar, karena dalam momen-momen menentukan seperti itu aneh misalnya kalau saya mengatakan saya bisa berpikir ilmiah sistematis. Waktu yang sangat singkat tidak memberi kesempatan bagi saya berpikir secara ilmiah sistematis. Lagipula, masalah yang saya hadapi adalah masalah memilih di antara dua pilihan dalam waktu yang sangat singkat tanpa data yang cukup sebagai modal untuk menimbang-nimbang dan mengambil keputusan melalui proses berpikir yang “sistematis dan ilmiah”.

Keputusan saya untuk tetap tinggal dalam Bis A juga tidak bisa dikaitkan dengan “klenik”, karena saya tidak meminta dan tidak berusaha meminta petunjuk dari “sang pembisik” yang bisa memberikan “nasehat” (dan bahkan pada saat itu sama sekali tidak tahu bahwa ada fasilitas “klenik” yang bisa menawarkan “pertolongan” seperti kita saksikan akhir-akhir ini). Informasi ini saya kemukakan karena dalam komentarnya, Jenkishkan secara khusus mengaitkan aktivitas berpikir intuitif dengan praktek perdukunan (klenik) yang sedag marak akhir-akhir ini.

Klenik (perdukunan) tumbuh subur dalam cara berpikir seperti ini,” tulis Jenkiskhan.

Apakah kegiatan berpikir intuitif bisa memberikan hasil positif ? Pertanyaan ini bisa mengundang kontroversi. Mari kita melanjutkan kisah kami tadi. Setelah kurang lebih dua jam menunggu, Bis A akhirnya berangkat, dan menghapus rasa kecewa teman saya tadi. Beberapa jam setelah melewati kota Pelabuhan Bakauheni di Sumatera Selatan, Bis kami terpaksa berhenti beberapa saat karena di tengah jalan ada Bis B yang mengalami pecah ban. “Untung juga kita tidak jadi naik bis keparat itu,” kata temanku seakan marah tetapi sebenarnya mengungkapkan rasa kelegaannya kepada saya.

Apakah aktivitas berpikir intuitif-ku di Pulogadung tadi sore menghindarkan kami dari menaiki Bis A ? “Seseorang mungkin menemukan jawaban bagi permasalahan tertentu, tetapi dia tidak dapat menjelaskan bagaimana caranya dia sampai ke situ“, tulis Jenkiskhan.

Sebenarnya orang-orang yang bergumul dengan hal-hal yang berbau “ilmiah sistematis” pun seringkali mengalami hal yang sama. Ungkapkanlah kekaguman Anda kepada mahasiswa S1, S2 atau S3 yang baru saja mengerjakan tugas akhir. Anda jangan terkejut kalau sebagian dari mereka menjawab: “Saya juga heran, bahwa pada akhirnya saya bisa menyelesaikan penelitian ini“. Ini tidak ada kaitannya dengan “kerendahan hati”, tetapi sungguh-sungguh cerminan dari kondisi ketidakpastian yang seringkali harus dihadapi dan diatasi oleh orang-orang yang sering kita label “sistematis ilmiah” itu. Bukankah dari penjelasan ini kita bisa mengatakan bahwa proses ilmiah sistematis pun sering kali bercampur aduk dengan proses intuitif tak sistematis ?

**
Bagaimana pula dengan seorang Beethoven, Johan Sebastian Bach, atau seorang Ebit G. Ade ketika menelorkan karya-karya yang membuat kita terhibur tergugah terpesona ?

Di mana pula letak “Lateral Thinking” cetusan Edward de Bono dalam klasifikasi berpikir yang dikemukakan Jenkiskhan ? Termasuk dalam kategori “kegiatan berpikir” yang mana ketika seorang teroris merencanakan penghancuran sasaran-sasarannya ? Bagaimana pula saya harus menjelaskan kegiatan berpikir saya saat saya memikirkan kegiatan berpikir itu sendiri (berpikir rekursif) seperti yang saya lakukan ketika menulis artikel ini ?

E. Halawa*

Facebook Comments