1. PAHLAWAN DALAM DIRI KITA
Seorang pahlawan menganggap entah kawannya entah lawannya sebagai pelawan lain. Orang yang menghindari pergumulan seseorang pahlawan atau enggan bertanding dengan dia bukanlah seorang pahlawan. Orang yang betul-betul kuat tidak akan mau memboroskan tenaganya hanya untuk hal-hal yang remeh dan sepele saja. Ia insyaf bahwa orang-orang yang kecil dan tugas-tugas yang kecil tidak memungkinkan dia untuk memperkembangkan tenaganya. Hal-hal itu sebaliknya, hanya membuatnya merana saja. Sesunggungnya mudah saja orang menjadi serupa dengan apa yang dilihatnya. Menantikan atau mencari seorang besar belumlah berarti bahwa kita terjamin. Hanya orang yang mengetahui bahwa Dia selalu terpanggil untuk tugas-tugas besar, hanya orang itulah yang terlindung dari hal-hal kecil dan tidak berarti. Ia menyadari dirinya terpanggil oleh suara kepahlawanan yang tak pernah diam di dalam hati sanubarinya. Dan suara kepahlawanan itu adalah suara Allah yang memanggilnya menuju kepada kemerdekaan.

2. DIALOG
Hidup seseorang menusia ibarat suatu dialog. Banyak orang membutuhkan teman bercakap. Mereka membutuhkan teman untuk melarikan diri sendiri dan menyerahkan diri kepadanya. Mereka lebih suka bercakap dengan dirinya sendiri dan mau mengalami segala suka dukanya sendirian. “Aku membutuhkan orang yang mau mendengarkan aku dan mau berbicara kepadaku agar aku menjadi lebih sempurna”. Dialog yang paling luhur ialah dialog dengan Allah. Hanya dialog inilah yang rohani semata-mata. Hidup kita entah sendirian atau bersama dengan orang lain, hendaklah selalu merupakan suatu dialog dengan Allah.

3. KEPERAWANAN
Keperawanan berarti menantikan suatu tugas keibuan mempunyai suatu tugas. Padi yang sedang tumbuh adalah perawan: tangkainya yang segar bersalutkan kegembiraan. Tanaman itu bertumbuh ke arah kematangannya bertambah besar hari demi hari.
Keperawanan menekankan ke-aku-an dalam arti yang baik; ia bersifat “dipenuhi” dan bersifat “menjadi”. Keperawanan ibarat kelaparan yang sangat akan tenaga hidup, ia ingin memenuhi hati yang lapang dan yang belum didiami. Keperawanan adalah seperti tanah kosong yang menantikan bajak dan benih. Yang juga bersifat perawan ialah jiwa yang hidup dalam dan dari kelimpahannya. Keperawanan ialah berkata “aku” bukan aku yang penuh nafsu memiliki, melainkan aku yang luhur dan berani, aku yang sederhana dan kuat. Manusia yang bersifat perawan adalah rohani, luhur, menjaga jarak, berharga, terpilih, keras, berbobot, tertutup. Manusia Yang bersifat keibuan adalah hangat, baik hati, suka memberi, dan memberkati, ia mampunyai seratus mata yang dapat melihat segala sesuatu, bukan untuk mengeritik melainkan untuk menolong.

4. KEBAPAAN DAN KEIBUAN
Kelemahan dan kebutuhan akan pertolongan yang membuat si anak mempunyai daya tarik yang tidak dapat dilawan. Dengan itu ia dapat menyentuh hati kita dan menjamin keberlangsungan hidupnya. Barang siapa membangkitkan keinginanku untuk mencintainya dan berkorban untuknya, dia itu menjadi Bapa dan Ibuku. Bahkan orang yang kuanggap durjana sekalipun, tetapi aku berjerih payah untuknya, dia itu membuahi jiwaku dan menjadi Bapa dan Ibuku. Pengertian “bapa” kan berarti “membagikan yang paling baik, memberikan diri seutuh-utuhnya dengan cinta yang utuh, dengan seluruh pengetahuan dan segenap tenaga”. Hanya dalam hakekat Allah kau kandung keputraan Allah yang tunggal, yang adalah Allah yang memberikan kebapaan kepada Allah Bapa dan yang memiliki segala sesuatu yang dimiliki oleh Bapa. Kebapaan dan keibuan termasuk ke dalam kemanusiaan kita. Orang yang menjauhkan diri dari padanya, kurang memenuhi kewajibannya; orang yang menerima kebapaan dan keibuan memenuhi kewajibannya sebagai manusia dan sejauh itu ia menjadi manusia. Oleh karena itu kita diciptakan menurut gambaran dan rupa Allah Bapa rohani kita. Maka kebapaan dan keibuan kita menyerupai kebapaan dan keilahian ilahi. Allah memberikan kita kemungkinan untuk menjadi bapa dan ibu kita sendiri ketika Ia menciptakan kita menurut gambar dan rupanya sendiri.

5. BENAR DAN SALAH
Rupanya sementara orang memboroskan waktu dan tenaga saja untuk menyelidiki apakah lawannya atau diri mereka sendiri benar atau salah. Membereskan suatu perkara, untuk itulah engkau patut dipuji dan bukan karena engkau benar dan dia salah kalau engkau lebih cakap, lebih kuat, lebih tenang dan mempunyai paham yang lebih baik, maka bukanlah kemenangan bagimu bila hakim memutuskan bahwa lawanmu salah.
Benar dan tidak benar: Engkau sudah tidak benar kalau engkau mulai bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah engkau barangkali toh benar juga. Hanya engkau mengarahkan seluruh perhatianmu kepada pelaksanaan segala sesuatu yang diwajibkan kepadamu, hanya kalau demikian engaku benar. Karena itulah jangan berhakim pada orang lain kecuali pada Dia yang mengetahui segala sesuatu. Dialah satu-satunya yang berhak untuk mengadili dan yang meniadakan setiap perutusan yang tidak sesuai dengan putusannya, “yang mengadili aku ialah Tuhan”.

6. PENGARUH
Aku gembira sekali kalau pada kenyataannya seseorang lebih baik dari pada yang kukira. Hal itu membebaskan aku dari kesepianku. Hal itu juga memberikan kepadaku seorang saudara dan sahabat, seorang bapa dan ibu yang sesuai dengan yang kuidam-idamkan dalam hati seorang manusia yang tidak menghormati seorang pun juga, seolah-olah melangkah kabut yang tebal. Dia harus berkembang sedemikian rupa sehingga dapat menghormati dirinya sendiri. Kalau seseorang hanya dapat menghormati orang lain tetapi tidak dapat menghormati dirinya, maka kenyataan bahwa dia tidak seperti orang lain, dapat menyusahkan. Tidak ada seorang suci pun yang dapat berperan sebagai pengganti kesempurnaan kita sendiri.

7. KEMARAHAN YANG SUCI
Tepatkah kemarahanmu? Bagaimana engkau tahu bahwa engkau boleh memarahi saudaramu? Karena tabiatnya tidak sama dengan tabiatmu? Dan kalau begitu bukankah sikap kita yang tepat ialah kerahiman dan belaskasihan? Kemarahan yang suci tidak ditujukan kepada pribadi orang yang berbuat salah melainkan kepada perbuatannya. Kemarahan yang suci adalah kegusaran yang tepat serta penolakan terhadap roh jahat, terhadap roh yang bersifat negatif belaka dan yang merusakkan segala sesuatu. Kemarahan yang suci adalah sikap yang tepat dari orang yang mencintai apa yang baik dan benar dan karenanya menentang kejahatan dan kebohongan. Suatu sikap yang tidak dapat tidak ada pada kehidupan yang menentang kebinasaan. Sudah barang tentu keadaan jiwa yang terakhir serta terluhur adalah ketenangan, tatapan yang jelas, mendalam dan abadi. Ada benarnya bila dikatakan bahwa keutamaan itu berkembang dari cacat cela yang merupakan lawannya dan bahwa keutamaan itu jauh lebih luhur dari pada suatu kebaikan bawaan.

8. PERTANGGUNGJAWABAN
Dapatkah kita diminta untuk memberikan pertanggungjawaban atas hal-hal yang kita pikirkan? Juga atas pikiran yang timbul dari bawah sadar kita? Apakah kita juga bertanggung jawab atas mimpi kita?
Manusia bertanggungjawab atas semua yang bertumbuh dalam dirinya. Pertanggungjawaban ini hendaknya dipandang dalam arti yang seluas-luasnya. Dia malahan bertanggungjawab atas sikap orang lain terhadap dirinya, juga atas pengaruhnya terhadap orang lain. Hanya orang-orang beranilah yang menyatakan keyakinannya dengan terus terang, entah orang iri hati kepadanya atau menganiaya, ia selalu akan mewujudkan sesuatu.

Facebook Comments