Oleh Pdt. Em. BUDHIADI HENOCH

Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. (I Petrus 2:16)

MESKIPUN telah lebih dari tiga pekan kita merayakan HUT ke-62 kemerdekaan negeri kita, namun suasana kemerdekaan itu masih terasa. Ada bendera sang merah putih yang masih berkibar di depan rumah-rumah penduduk. Ada spanduk peringatan kemerdekaan dan umbul-umbul yang masih terpancang. Kenyataan tersebut membuat kita berpikir bahwa sejumlah penduduk tersebut masih ingin menikmati suasana kemerdekaan itu, tak peduli sudah lewat tiga pekan sekali pun. Hingga kini masih juga diperbincangkan orang, perihal negeri kita sebenarnya sudah atau belum merdeka.

Jika sudah merdeka, mengapa ada sebagian besar orang-orang kita yang belum merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan? Di samping ada juga yang belum merdeka dari kerakusan, kesombongan, egoisme, dan sikap mabuk kekuasaan. Jika belum merdeka, kita merasa sudah berdaulat, bebas sebebas-bebasnya sampai kebablasan. Oleh karena itu, tidak salah jika semboyan “sekali merdeka” di balik menjadi “merdeka sekali” alias “merdeka bukan main” sampai berkembang menjadi anarkisme.

Bukti-buktinya dapat dipaparkan secara gamblang, misalnya orang bebas menebang pohon di hutan sampai gundul, merdeka membuang limbah berbahaya ke sungai yang digunakan warga masyarakat miskin, leluasa menilap uang negara dan memasukkannya ke dalam ember karena semua lemari di rumahnya sudah penuh, bebas membuka rekening pribadi di sejumlah bank untuk menampung uang hasil korupsinya, tak merasa terhalang untuk merusak, menindas, menganiaya atau membunuh saudaranya sebangsa dan setanah air, bebas berdemo menuntut ini dan itu, dll. Itulah makna “merdeka sekali” tanpa rasa takut, baik terhadap hukuman di dunia, maupun hukuman Allah di akhirat kelak. Juga tak peduli bahwa sebagian besar rakyat sedang menderita sengsara, akibat bencana-bencana alam, penyakit, gizi buruk, dan luapan lumpur panas Porong Sidoarjo.

Khusus berkaitan dengan salah seorang korban yang tergusur di Porong Sidoarjo akibat rumah dan tanahnya dilanda lumpur panas. Ia justru lebih suka mengembalikan uang ganti rugi sekitar Rp 429 juta dan hanya mengambil sekitar Rp 58 juta yang diakuinya sebagai haknya. Ia lebih takut kepada Tuhan ketimbang mendapat rezeki nomplok. Kendati orang menganggapnya bodoh, ia lebih memilih merdeka dari tuntutan rasa bersalah hati nuraninya. Tidak sia-sia ibunya memberi nama Waras ketika masih bayi, yang berarti sehat jasmani dan rohani dan kini usianya sekitar 60 tahun. Ia memang benar-benar waras dengan sikapnya, sehingga menjadi teladan di tengah kelangkaan sikap waras pada masa kini.

Memang teladan kewarasan sikap tidak harus selalu datang dari para tokoh atau orang-orang berjabatan. Dari orang kecil yang polos dan lugu pun, dapat diperoleh teladan kewarasan sikap takut melanggar hukum, baik hukum dunia, maupun hukum Allah, justru ketika banyak orang mengabaikan semua hukum dan rambu-rambu kehidupan apa pun. Begitulah secercah kisah dari “Republik Mimpi”.

Ayat di atas menganjurkan, agar kita hidup sebagai orang merdeka. Tak hanya merdeka dari penjajahan bangsa asing, melainkan juga penjajahan mentalitas yang buruk mulai dari pencurian, pembalakan, korupsi, dan tindak kriminalitas yang lain. Demikian pula kita merdeka karena menjadi hamba Allah yakni orang-orang yang melaksanakan semua perintah dan hukum Allah dengan ikhlas, setia, dan bersungguh-sungguh. Satu tantangan yang makin berat, karena pada zaman sekarang orang lebih suka melanggar hukum ketimbang mentaatinya. Namun jika kita mau melakukannya, maka kita pun hidup merdeka sebagai hamba Allah. Ibarat ikan yang merdeka berenang di dalam air, demikian juga kemerdekaan kita. Di luar air, ikan itu akan mati dan tidak merdeka lagi, begitu pula dengan kita jika kita berada di luar hukum dan perintah Allah.

Menghadapi anjuran yang baik semacam itu, kita ditantang untuk mewujudkan ketaatan terhadap apa yang dikehendaki Allah. Sayang sering orang mengabaikan kehadiran Allah dengan alasan bahwa Ia tidak dapat kita lihat. Oleh karenanya, orang pun berlaku sewenang-wenang dengan langkah hidupnya. Tak peduli ancaman sanksi moral karena aib yang telah menimpa diri dan keturunannya, ancaman hukuman penjara yang merenggut kemerdekaan hidupnya, atau ancaman hukuman kekal di akhirat saat orang telah meninggal dunia. Kesemuanya diabaikan karena yang penting sekarang hidup senang, mewah, dan bergelimang harta. Sikap hidup semacam ini menunjukkan kesemberonoan dan cuek, tanpa mau berpikir tentang masa depannya, baik bagi dirinya, keluarganya, maupun bangsanya.

Akibatnya, aib dan kecemaran diri, keluarga dan bangsa, tersebar ke mana-mana, sehingga muncul ejekan dan cemoohan dari pihak orang dan bangsa lain. Amat berbeda jika orang menjadi hamba Allah, mengingat hamba Allah berada di lingkungan yang benar. Hidup sebagai hamba Allah berada di dalam lingkungan kesucian dan kebenaran-Nya. Rasanya tak ada aib dan kecemaran terhadap kehidupan semacam itu, karena memang kehidupan semacam itulah yang dikehendaki-Nya. Juga tak ada tuntutan dari pihak siapa pun, karena tak ada pelanggaran terhadap hukum mana pun. Kita berharap bahwa selagi kita masih hidup di dunia ini, tempuhlah bentuk kehidupan merdeka sebagai hamba Allah. Jauhilah dosa-dosa mengingat Allah membenci dosa dan jangan menyalahgunakan kemerdekaan untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan kita. Sekiranya semua orang di negeri kita hidup dengan cara demikian, niscaya kesejahteraan seluruh rakyat pun akan terwujud.

Terasa sebagai satu utopia, namun jika kita tak punya cita-cita dan kita tak bertekad menuju ke sasaran itu, niscaya kita akan hidup dalam kejahatan yang berlarut-larut menuju kehancuran dan kebinasaan seluruh negeri. Selaku orang beriman kita dipanggil untuk ikut serta mengupayakan kehidupan yang lebih baik, sehingga benar-benar masa depan negeri kita tetap merdeka, sebagaimana kemerdekaan para hamba Allah. Kita diminta bangkit dan mengatasi keterpurukan yang selama ini menimpa negeri kita, agar rakyat negeri kita benar-benar merdeka dari semua bentuk penjajahan, baik sosial, politis maupun mental. Amin. ***

*Penulis, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat – Bandung, 8 September 2007

Facebook Comments