Banda Aceh, (Analisa)

Kajian pertama tentang Analisis Pengeluaran Publik untuk Nias diluncurkan oleh Bank Dunia dan BRR.

Kajian ini menggarisbawahi kemiskinan di pulau yang terkena gempa dan tsunami, juga harapan yang ditawarkan dengan empat kali lipat meningkatnya penerimaan daerah yang bersamaan dengan rekonstruksi memberikan dana Rp1,7 triliun pada tahun 2006 untuk membangun daerah yang hancur, memperlihatkan kesempatkan emas bagi Nias untuk pertumbuhan.

Laporan ini memperlihatkan bahwa Nias, jauh sebelum tsunami Desember 2004, tergolong daerah termiskin di Sumatera Utara. Indikator sosial seperti tingkat melek huruf bagi orang dewasa, cakupan imunisasi, dan akses kepada listrik masyarakat Nias berada di bawah rata-rata regional Sumatera dan juga Indonesia.

Kondisi pulau ini diperburuk oleh dua kali bencana yang terjadi dan letaknya yang jauh dari daratan memperlambat proses rekonstruksi infrastruktur, perumahan, dan fasilitas-fasilitas publik yang hancur.

Dari segi positif, laporan ini menekankan kesempatan emas yang nyata untuk meningkatkan infrastruktur, akses kepada pelayanan publik, dan pada akhirnya pembangunan manusia di daerah tertinggal ini melalui pengalokasian yang lebih baik dari dana rekonsturksi dan pendapatan pemerintah daerah yang signifikan.

“Kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial di Nias. Kita dapat ‘membangun kembali lebih baik’ dengan dukungan dari mitra-mitra domestik dan internasional melalui perencanaan yang matang untuk menjawab tantangan ketidakmerataan pembangunan di antara dua kabupaten di Nias,” ujar William Sabandar, Kepala Kantor BRR Nias dalam siaran pers Bank Dunia yang diterima Analisa, Rabu (29/8).

Pada tahun 2006, Pulau Nias diperkirakan menerima pemasukan Rp1,7 triliun yang terdiri dari pendapatan pemerintah daerah, dana-dana rekonstruksi, dan dana dekonsentrasi dari pemerintah pusat.

Desentralisasi meningkatkan pemasukan daerah hampir empat kali lipat, dari Rp111 miliar pada tahun 1999 menjadi Rp435 miliar pada tahun 2006. Nias menerima tambahan pendanaan setelah gempa bumi pada Maret 2005, diperkirakan sekitar 490 juta dolar AS di akhir tahun 2006.

Pemerintah Indonesia, melalui BRR, adalah kontributor utama dengan alokasi 131 juta dolar AS. Sementara, sumber lainnya yaitu 200 juta dolar AS berasal dari donor dan 159 juta dolar AS berasal dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat (NGO).

Peningkatan dana ini memperlihatkan kesempatan emas bagi Nias untuk pertumbuhan. Temuan-temuan dalam Analisis Pengeluaran Publik Nias juga relevan untuk semua kabupaten-kabupaten di Indonesia, terutama dengan rencana pemekaran kabupaten-kabupaten baru, seperti Nias Selatan.

Pemerintah daerah harus bekerja keras untuk membelanjakan keuangan publik yang memberikan dampak maksimum untuk pembangunan. Bank Dunia juga telah mengeluarkan Analisis Pengeluaran Publik untuk Aceh pada September tahun lalu dan Laporan Pengeluaran Publik Indonesia pada Januari tahun ini. (irn)

Sumber: Analisa Daily, Sabtu 1 September 2007

Facebook Comments