Medan, (Analisa)

Berbagai organisasi kemasyarakatan marak bermunculan menjelang suksesi kepemimpinan kepala daerah di Sumatera Utara. Organisasi yang terbentuk di tengah masyarakat tersebut sayangnya masih bernuansa keetnisan/kedaerahan.

Malah ada sejumlah Ormas yang tadinya hanya berdiri sendiri, kini memiliki lebih dari satu wadah atas etnis yang sama sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan di dalam wadah keetnisan itu sendiri. Visi dan misi organisasi yang terbentuk tidak mencerminkan jiwa persatuan dan kebangsaan.

Demikian dikatakan Ketua Sahabat Center Sumut, Brilian Moktar, SE kepada wartawan, Selasa (28/8) di Medan.

Melihat semakin maraknya bermunculan ormas tersebut, sepertinya Indonesia kembali ke belakang. Seharusnya masyarakat atau kalangan tertentu bercermin dengan melihat sejarah bangsa Indonesia.

Dimana pada masa dahulu politik penjajahan Belanda membuat berbagai organisasi kedaerahan dengan tujuan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Jika indikasi terbentuknya organisasi itu terus berkembang dengan muatan tertentu atau untuk kepentingan material dan kesukuan, maka nilai kebersamaan sebagai anak bangsa akan memudar.

“Bermunculan wadah yang terbentuk indikasinya terlihat untuk kepentingan calon tertentu dan wadah yan bermunculan itu mengarah kepada politik praktis,” ujarnya.

Karenanya itu, ujar Brilian dinas terkait (Kesbang Linmas) memilah – milah dan tidak secepatnya merestui atau memberikan izin terbentuknya wadah kesukuan.

Seharusnya, pembentukan wadah lebih berorientasi sosial dengan unsur di dalamnya multi etnis. Wadah multi etnis, jelas semakin membentuk kebersamaan dan persatuan dan kesatuan.

Dia mencontohkan persatuan abang beca, persatuan supir angkot dan sebagainya. jelas lebih nasionalis dan ditujukan untuk persatuan dan kemakmuran anggotanya.

Untuk itu, tegas Berlian pembentukan suku dan etnis di berbagai daerah di Sumut, jangan sampai memecah belah persatuan dan kesatuan. (twh)

Sumber: Analisa, 30 Agustus 2007

Facebook Comments