MEDAN, KOMPAS – Untuk menyelamatkan terumbu karang di perairan Pulau Nias, nelayan di wilayah tersebut akan dibina membudidayakan rumput laut. Nias rencananya dijadikan sentra penghasil rumput laut di Sumatera Utara.

Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Yoseph Siswanto, Minggu (26/8), ancaman kerusakan terumbu karang akibat pengeboman ikan oleh nelayan tak bisa dikurangi, jika nelayannya tak diberdayakan secara ekonomi. “Mustahil menyelamatkan terumbu karang jika nelayannya masih miskin. Makanya kami perlu memberdayakan mereka. Salah satunya dengan mencoba membina nelayan membudidayakan rumput laut,” katanya.

Perairan Nias merupakan salah kawasan dengan tingkat kerusakan terumbu karang paling parah di Sumut. Meski bukan akibat pengeboman ikan, menurut Yoseph sudah saatnya kerusakan terumbu karang di Perairan Nias diimbangi dengan memberikan peluang bagi nelayan memanfaatkan sumber daya laut tanpa merusak ekosistem terumbu karang. “Nias sangat cocok jika menjadi sentra produksi rumput laut. Saat ini kami sudah mulai membantu mengembangkan budi daya rumput laut di Nias,” ujarnya.

Kerusakan terumbu karang di Nias terjadi akibat gempa bumi dan tsunami yang menghantam wilayah itu lebih dari dua tahun silam. Akibat gempa bumi dan tsunami, dasar laut di beberapa pantai naik. Di Pantai Sorake dan Lagundri Nias Selatan, kenaikan dasar laut banyak merusak ekosistem terumbu karang.

Yoseph mengatakan, potensi budi daya rumput laut ini cukup menjanjikan. Dia mencontohkan, ekspor rumput laut Filipina bisa mencapai 700 juta dollar Amerika Serikat (AS) dalam setahun. “Dengan potensi sebesar ini, tentu bisa membantu tingkat kesejahteraan nelayan sekaligus juga menyelamatkan ekosistem terumbu karang,” katanya.

Sumut memiliki kawasan ekosistem terumbu karang seluas 128.157,2 hektar. Hanya sekitar 40 persennya dari dari total luas wilayah terumbu karang Sumut yang masih dikategorikan baik, sisanya dalam kondisi rusak, baik berat maupun sedang.

Masyarakat mengawasi

Kerusakan di Perairan Pantai Barat Sumut menurut Yoseph terjadi antara lain karena aktivitas pengeboman ikan. “Sekarang memang sudah mulai berkurang, sejak patroli gabungan Dinas Perikanan Kelautan, TNI AL dan polisi perairan rutin dilakukan,” katanya.

Untuk mengurangi aktivitas nelayan yang melakukan pengeboman, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumut, lanjut Yoseph telah membentuk Kelompok Pengawasan Masyarakat. Secara swadaya, kelompok inilah yang nantinya membantu petugas mengamankan ekosistem terumbu karang di kawasannya dari aktivitas pengeboman, yang biasanya dilakukan nelayan dari daerah lain. “Kami memberi bantuan berupa alat komunikasi dan pos jaga. Jadi nelayan sendiri yang nantinya berpatroli dan ikut mengawasi terumbu karang di wilayahnya. Mereka sudah sadar, kerusakan terumbu karang bakal berakibat pada hilangnya mata pencahariannya,” ujar Yoseph. (BIL)

Sumber: http://kompas.com/, tgl. 26.08.2007

Facebook Comments