Gunungsitoli, (Analisa)

Tindak kekerasan terhadap anak di Kabupaten Nias cukup tinggi dan dominan terjadi di sekolah.

Hal ini sesuai dengan asessment dilakukan Pusaka Indonesia kerjasama Unicef di lima sekolah berbeda di Kabupaten Nias, ungkap Kordinator Children Centre Pusaka Indonesia-Unicef, Perwakilan Nias Ifwardi saat berbincang-bincang dengan Analisa, Rabu (23/8) di kantornya Jalan Panti Asuhan Desa Mudik Gunungsitoli.

“Kita melihat tingkat kekerasan terhadap anak ini terjadi, mulai dari lingkungan anak itu sendiri, keluarga hingga di lingkungan sekolah,” tutur Ifwardi.

Menurut Ifwardi, hasil asesment yang dilakukan di lima lokasi berbeda kepada 192 anak, tindak bentuk kekerasan terhadap anak yang berhasil tercatat, dari 13 bentuk 10 yang terdapat di Nias antara lain, dipukul dengan tangan 400, dicubit 267, dipukul dengan alat 126, ditampar 120 ditarik rambut 109, disepak 57 ditinju 52, ditendang 14, dijewer/disentil 7, dicekek 1,

Umumnya tindakan kekerasan dilakukan terhadap anak dilakukan para pelaku, guru, teman, penjaga sekolah serta guru BP, dengan sasaran pada bagian wajah, rambut, tangan, kaki, paha, perut, punggung, leher dan dada, imbuh Ifwardi.

Selain itu, kekerasan terhadap anak merupakan suatu fenomena umum dan pemandangan yang biasa terjadi di Nias, bila ada anak yang menerima perlakuan kekerasan dari orang-orang sekelilingnya yang semestinya harus dilindungi. Tetapi, sayangnya kejadian itu sudah berlangsung untuk waktu cukup lama.

Hasil asesment urutan orang yang paling dekat dengan anak di lembaga pendidikan, guru wali 26 persen, ibu guru 19 persen, teman perempuan 19 persen, kepala sekolah 18 persen, teman laki-laki 14 persen, bapak guru 3 persen, PKS/guru BP 1 persen.

Di tengah maraknya dan gencarnya isu perlindungan anak (child protection) dan hak-hak anak di Nias pasca gempa, beberapa bentuk pelanggaran terhadap anak pun masih saja terjadi.

Kebiasaan-kebiasaan itu sepertinya sudah mendarah daging dihampir seluruh aspek kehidupan di Nias, baik itu di dalam rumah tangga/keluarga, lingkungan masyarakat, institusi penegak hukum khususnya lembaga pendidikan formal maupun non formal

Hal ini ungkap ifwardi, semakin dikuatkan dengan ada beberapa kasus anak sekolah yang ditangani Pusaka Indonesia selama melakukan tugas kemanusiaan di Nias, juga informasi-informasi yang diperoleh dari berbagai sumber baik itu langsung dari anak maupun orangtua dan masyarakat.

HARAPAN
Ifwardi mengharapkan agar pihak-pihak terkait dapat lebih meningkatkan mutu dari pendidikan, kualitas SDM para guru itu sendiri, hingga lembaga pendidikan yang tujuannya sebagai lembaga penyaring nilai-nilai yang dimiliki para anak dapat terwujud dengan baik.

Bukan malah sebaliknya, para guru memberikan pelajaran kekerasan terhadap anak

Ia juga meminta kepada pemerintah daerah untuk mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20 persen sesaui dengan amat konstitusi. Karena masa depan Nias kedepan terhadap anak-anak Nias itu sendiri. (kap)

Sumber: Analisa, 25 Agustus 2007

Facebook Comments