Oleh Pdt. BAMBANG PRATOMO

Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan! (Mazmur 118: 24-26)

Hari kemerdekaan negeri kita baru saja kita rayakan dan peringati dengan penuh sukacita. Ungkapan sukacita itu dinyatakan dengan pelbagai macam kegiatan yang meriah di mana-mana. Sejenak, seluruh rakyat melupakan semua beban hidup yang selama ini menindih dan mengimpit mereka. Mereka tertawa lepas menyaksikan lomba balap karung, panjat batang pinang, gebuk bantal, tangkap belut, makan kerupuk, dll. Di samping itu, dalam suasana khidmat seluruh bangsa kita juga merenungkan makna kemerdekaan dan bersyukur kepada Tuhan, seraya mengingat pengorbanan para pahlawan bangsa kita. Sebuah sikap yang seimbang harus dinyatakan dalam rangka perayaan dan peringatan itu, agar kita tidak tenggelam semata-mata dalam kemeriahan kegiatan tujuh belasan tersebut.

Hal ini perlu kita nyatakan karena ada banyak komentar, bahwa memang kita telah merdeka dari kekuasaan penjajah, namun sebenarnya kita belum benar-benar merdeka. Maksudnya adalah kemerdekaan secara politis. Kita yang telah menjadi bangsa dan negara merdeka sejak tanggal 17 Agustus tahun 1945, belum merdeka dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan penindasan atas hak-hak azasi manusia. Kesemuanya masih membelenggu sebagian besar rakyat Indonesia, sehingga di sana-sini masih terdengar keluh-kesah, jeritan, tangisan, bahkan erangan akibat penderitaan yang berkepanjangan. Padahal kita telah merdeka secara politis sejak enam puluh dua tahun yang lalu, terlepas dari kekuasaan penjajah dan diakui dunia sebagai bangsa yang berdaulat. Itu berarti kita semua, yaitu pemerintah dan warga masyarakat, masih harus berjuang untuk mengatasi hambatan demi kesejahteraan yang telah dicanangkan oleh para Bapak bangsa. Dengan demikian, kita tidak boleh berhenti pada peringatan dan perayaan hari kemerdekaan, melainkan terus berkarya bagi kepentingan bangsa dan negara.

Bagaimana kita hendak mewujudkan tekad kita tersebut? Selaku orang beriman, kita perlu bersyukur kepada Tuhan yang telah memercayakan tanah air Indonesia untuk kita kelola dan kita kembangkan, tak hanya bagi kita yang hidup pada dewasa ini, melainkan juga untuk anak cucu kita kelak. Sejalan dengan hal itu, kita perlu menyimak lirik lagu “Syukur” sebagai berikut; “Dari yakinku teguh, hati ikhlasku penuh akan karunia-Mu. Tanah air pusaka, Indonesia merdeka. Syukur aku sembahkan ke hadirat-Mu, Tuhan”. Perhatikan lirik lagu itu, dalam kesatuan bangsa kita semua dihubungkan dengan Tuhan yang mengaruniakan kemerdekaan itu kepada kita. Lantas, kita kaitkan pula dengan kalimat pembukaan pada Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan, “Atas berkat rahmat Tuhan”. Nyata, bahwa Tuhan kita libatkan dalam seluruh kehidupan bangsa kita, tak hanya sampai tahun 2007, melainkan juga pada tahun-tahun yang akan datang. Sebuah doa syukur untuk masa lalu, juga doa permohonan untuk masa depan.

Pemazmur menggambarkan pernyataan syukur umat Tuhan atas karunia-Nya kepada mereka. Sekaligus juga permohonan doa mereka yang meminta keselamatan dan kemujuran dari Tuhan. Dengan demikian, umat Tuhan tidak salah alamat dalam permohonan mereka karena memang Tuhanlah, Sumber keselamatan dan kemujuran itu. Kita berharap, bahwa keyakinan ini pun ada dalam kehidupan kita selaku bangsa yang bertuhan. Lalu kita menaikkan permohonan agar kita terlepas dari belenggu-belenggu kemiskinan, kebodohan, ketidak-adilan, dan penindasan atas hak-hak azasi manusia. Itu berarti, bahwa diperlukan orang yang mengupayakannya dengan sungguh-sungguh agar semua hambatan hidup sebuah bangsa yang merdeka itu teratasi dengan baik.

Kalimat “Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan” mengungkapkan diri seseorang. Dialah yang akan datang dalam nama Tuhan dan memerdekakan umat-Nya dari semua hambatan itu. Dialah yang memiliki tekad yang kuat dengan berpihak kepada Tuhan dan kehendak-Nya. Ternyata kalimat ini adalah sebuah nubuat akan datangnya seorang pembebas yang terwujud dalam diri Tuhan Yesus Kristus, sebagainmana Ia nyatakan dalam Yohanes 8 : 36 “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka”. Kemudian bergema pada zaman rasul Paulus dalam Roma 6 : 18 “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran”. Oleh sebab itu, setiap orang yang menginginkan kemerdekaan menyeluruh, baik diri pribadinya, keluarganya, kelompoknya, maupun bangsanya, lakukan pemerdekaan dari dosa-dosa dan jadilah hamba kebenaran. Dengan cara itu, kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan penindasan hak-hak azasi manusia akan sirna dari muka bumi.

Nyata bagi kita, bahwa perjuangan semacam itu tak kunjung selesai. Perkara itulah yang menjadi tugas setiap orang, agar benar-benar kemerdekaan itu hadir secara lengkap. Tak hanya kemerdekaan politis, tetapi juga kemerdekaan di bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemerdekaan dalam berekspresi. Sejauh mana setiap pribadi memiliki kemerdekaan dalam perkara-perkara itu? Kesemuanya masih dalam proses perjuangan, juga perjuangan bangsa kita hingga hari ini. Oleh karena itu, kita diminta untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang sesuai dengan makna kemerdekaan itu sendiri.

Hari-hari setelah perayaan dan peringatan kemerdekaan negeri kita memang harus kita lanjutkan. Kita tidak tinggal diam, ketika kita menjumpai kemiskinan saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Kita tidak mengabaikan mereka yang berada dalam kebodohan, agar mereka tidak menjadi mangsa para penipu. Juga kita tak berpangku tangan, saat kita menjumpai praktik-praktik ketidakadilan yang menimpa sesama kita. Demikian pula kita harus menindak orang-orang kita yang menyeleweng dari panggilannya untuk menyejahterakan rakyat. Begitu seterusnya, sehingga kita benar-benar menjadi para pelaksana kehendak Tuhan yang menginginkan kita merdeka dari perbuatan-perbuatan dosa. Mudah-mudahan pada waktu yang akan datang, negeri kita benar-benar merdeka, tak hanya dalam arti politis, melainkan juga dalam arti-arti yang lain. Amin. ***

*Penulis, pendeta Gereja Kristen Jawa Kiaracondong Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 25 Agustus 2007

Facebook Comments