Oleh Restu Jaya Duha

Pada hari ini 17 Agustus, 62 tahun lalu bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yaitu terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang selama lebih dari 350 tahun. Makna kemerdekaan bagi setiap orang tentulah juga berbeda-beda. Merdeka berarti bebas, bebas dari penjajahan, perhambaan, perbudakan, penyiksaan, dll. Setelah 62 tahun kemerdekaan, apakah kita sudah benar-benar merdeka, merdeka untuk mendapatkan hidup layak, untuk mengemukakan pendapat, bebas dari kemiskinan dan untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu? Indonesia telah merdeka, tetapi perjuangannya masih belum selesai.

Bagaimanakah sebaiknya generasi muda memaknai kemerdekaan ini dan apakah harapan mereka bagi Indonesia? Menurut Meutia Hatta, 2007 (putri Proklamator Bung Hatta / Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan): “para generasi muda memiliki tugas yang berat pada masa mendatang, yakni membawa Indonesia merdeka secara mental, menjadi bangsa yang mampu berdiri sendiri tanpa campur tangan bangsa lain”. Dan selanjutnya Guruh Sukarno Putra, 2007 (putra Proklamator Sukarno) mengemukakan bahwa: “tanpa usaha untuk mempertahankan dan berhati-hati, maka kalau dicermati ada gejala-gejala pihak luar yang berupaya menjajah dengan cara yang lebih modern.”

Sejalan dengan pendapat di atas, maka apa makna kemerdekaan bagi pelajar Indonesia yang ada di Kota Karlsruhe, Jerman dan apa harapan mereka untuk Indonesia, dapat kita ketahui dari beberapa pendapat sebagai berikut :

1. Samuel Simanjuntak (Elektrotechnik, Universität Karlsruhe, asal Jakarta)

Samuel Simanjuntak menyatakan, maknanya 17-an itu sederhana: hari kemerdekaan. Tapi arti kemerdekaan sendiri, dari luar negri sepertinya lebih berarti dan bahkan mengarah ke arah kebanggaan memiliki Indonesia dan diakui menjadi orang Indonesia.

Kemudian Samuel melanjutkan bahwa kalau mengharap sesuatu tentang bangsa dan negara Indonesia, sama aja seperti harapan orang-orang Indo (Indonesia; red) yang lain, bisa lebih merasa kalau Indonesia adalah negara yang mau berkembang bukan yang sok-sokan jadi negara maju. Ditambah juga, saya sebagai pelajar Indo di Jerman, berharap juga untuk perwakilan – perwakilan Pemerintahan Indonesia di sini (di Jerman), lebih mengerti dan memahami artinya menjadi perwakilan Pemerintah Indonesia di Jerman, sehingga nasionalisme kita orang Indonesia di Jerman tidah memudar begitu saja, karena kekecewaan dari hubungan antara wakil pemerintahan Indonesia dan pelajar-pelajar Indonesia yang kurang harmonis.
Sekali lagi.. Selamat Ulang Tahun Indonesiaku!! Demikian Samuel mengakhiri percakapan, dengan senyumnya khas.

2. Aji Bimarsono (Institut für Regionalwissenschaft, Universität Karlsruhe, asal Bandung).
Aji Bimarsono mengatakan makna kemerdekaan baginya adalah sebuah karunia Tuhan YME yg sangat besar, yang memberikan kesempatan bagi kita semua, bangsa Indonesia, untuk bisa berdiri tegak, sejajar dengan bangsa2 lainnya di dunia dan memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa bekerja sama dengan mereka, serta berperan secara aktif, untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bersama di dunia. Selain itu, dengan kemerdekaan ini kita berkesempatan untuk mempererat persatuan antara berbagai suku bangsa di Indonesia (tidak dipecah-belah seperti ketika zaman penjajahan Belanda), untuk saling bergotong- royong dan bahu-membahu mencapai kesejahteraan dan keadilan bersama di negara Indonesia.

Harapannya adalah bahwa bangsa Indonesia semakin mensyukuri dan menghayati makna kemerdekaan ini, sehingga semakin mempererat rasa persaudaraan dan gotong royong di antara suku-suku bangsa dan budaya Indonesia yg berbeda-beda ini, sehingga dapat mencapai kesejahteraan bersama dan kemandirian (tidak bergantung pada bangsa lain di dunia) serta berperan secara signifikan dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan di seluruh dunia dalam kerangka ibadah kepada Tuhan YME.

3. Helen Sutedja (Chemie Ingenieur Wesen, Universität Karlsruhe, asal Surabaya)
Bagi Helen Sutedja, kemerdekaan secara simbolis tersirat di tahun 1945. Tetapi lama kelamaan Helen merasa: “terkadang kita sekarang hanya memperingati kemerdekaan itu, tanpa tau lagi apa arti kemerdekaan itu sendiri. 62 tahun orang-orang di negara kita selalu dan selalu memperingati kemerdekaan Indonesia, dari acara upacara bendera yg bikin kaki pegal2, kulit menghitam sampai mandi keringat kepanasan. Ada lagi yg memperingati dengan permainan-permainan, dari lompat karung, maem krupuk sampai panjat pinang.”

Dia melanjutkan, “Tapi sayangnya, 62 tahun kita selalu mengenang kemerdekaan kita itu, ga membuat kita mengenang arti dari kemerdekaan itu sendiri.” Menurut Helen, “orang sejak kecil di Indo (Indonesia; red) udah jarang merasain kemerdekaan lagi. Dari kecil, guru-guru selalu bilang, ga boleh rambut panjang ke sekolah, ga boleh pake sepatu putih ke sekolah, ga boleh ada jawaban dengan cara lain di ujian (semua harus sesuai dengan methode beruntun dari guru itu). Sampai ke taraf pemerintahan, orang-orang Indo boleh dibilang, merdeka secara politis, tetapi pada prakteknya, pemerintahan kita terlalu diatur dengan beberapa pihak. Tidak ada kemerdekaan dalam kenyataan riilnya. Terlalu banyak sisi yg menindas atau yang tertindas.”

Singkatnya, buat Helen, makna dari kemerdekaan adalah suatu kesempatan untuk bebas untuk berkarya, bersikap dan bertanggung jawab.

Dan harapan dari mengenal dan mendapat kemerdekaan adalah, bahwa setiap orang mengenal daerah teritorial dirinya dan tidak mengganggu teritorial dari orang lain, dan oleh karena itu, setiap orang lebih mampu untuk berkembang baik dari sisi kepribadian dan karya-karyanya. Helen menutup kesan pesannya dengan harapan: “Semoga, di dalam negara yang merdeka tidak ada penindasan. Demikian harapan Helen, menutup kesan dan pesannya.

MERDEKA!

4. Devy S. Pakpahan (Elektrotechnik, Universität Karlsruhe, asal Jakarta)

Devy S. Pakpahan, menyatakan bahwa makna kemerdekaan kalau dilihat dari arti katanya yang berarti kebebasan. Dan makna kemerdekaan Indonesia baginya adalah seharusnya kebebasan setiap orang Indonesia mendapatkan hak sebagai warga negara. Dalam hal ini bukan cuma berarti bebas dari penjajahan dan penindasan seperi pada jaman perang dulu, tapi dalam masa sekarang ini konteksnya, bisa diartikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat, berkreasi, mengekspresikan diri dalam setiap bidang yg ditekuni.

Devy mengatakan, “Kalau saja setiap orang Indonesia bisa benar-benar mengerti arti kemerdekaan bangsa Indonesia, mungkin bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju. Kalau saja tiap orang bisa tahu dan sadar posisi dan kewajibannya masing-masing, di era globalisasi ini, bangsa kita dapat memajukan peradaban dan pengembangan manusia Indonesia dan dunia pada akhirnya. Tanpa harus kehilangan nilai-nilai dasar nasionalisme kita sendiri, atau bisa dibilang globalisme tetap berjalan tapi jati diri tetap harus dipertahankan, alias jangan cuma ikut – ikutan globalisasi, liberalisme atau bahkan hedonisme tanpa mengerti esensial utamanya. Intinya saya bangga jadi bagian dari bangsa Indonesia, dan akan bikin tambah bangga lagi kalau apa yang saya tekuni sekarang bisa membawa setitik kemajuan bagi bangsa ini.”

Dirgahayu Indonesia!!

5. Andi Sastra Wandy (Wirtschaftsinformatik, Fachhochschule (FH) Karlsruhe, asal Jakarta)
Andi Sastra Wandy mengatakan sebagai berikut: “makna kemerdekaan buat gue itu, rasa diterima sebagai orang Indonesia (persamaan hak). Gue merasa sebagai orang Indonesia justru ketika gue di Karlsruhe, Jerman. Bhineka Tunggal Ika baru gue rasakan di sini.”

Harapannya : “Semoga Republik Indonesia bisa lebih jujur & adil buat semua warga negara Indonesia tanpa terkecuali.“

5. Restu Jaya Duha (Institut für Regionalwissenschaft, Universität Karlsruhe, asal Nias)

Menurut saya, memaknai kemerdekaan R.I. sebagai puncak perjuangan dari seluruh pejuangan panjang Indonesia, dalam artian bahwa kita bebas dari seluruh belenggu penjajahan. Kita bebas berkarya, hidup layak dan yang paling penting mendapatkan pendidikan bermutu, karena dengan pendidikan yang baik maka kita dapat mengaktualisasikan diri sebagai bangsa Indonesia di era globasasi ini.

Harapan saya untuk Indonesia agar semakin sejahtera dan sebagai generasi penerus, tugas saya tentu meneruskan mengisi kemerdekaan. Sebagai pelajar adalah dengan belajar sungguh-sungguh. Semoga ilmu yang saya dapatkan kelak berguna bagi bangsa Indonesia.

Inilah beberapa pendapat yang diungkapkan oleh para mahasiswa Indonesia di Karlsruhe, yang pada hari ini (17 Augutus 2007) berkumpul merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan informal yang diselenggarakan secara spontan dan bergotong royong ini dihadiri lebih kurang 50 orang dan dimeriahkan dengan beberapa kegiatan a.l.: kuis tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia (pengetahuan tentang pahlawan nasional, nama wakil presiden Indonesia, lagu Indonesia Raya, dll.), yang mempertemukan 2 peserta yaitu Kelompok Merah dan Kelompok Putih. Kuis ini akhirnya dimenangkan oleh Kelompok Putih, setelah pertarungan seru dan melalui babak perpanjangan. Setelah seluruh lomba selesai, acara diakhiri dengan makan bersama, diiringi pemutaran kaset lagu-lagu kebangsaan dari Grup Band Coklat.

Demikianlah laporan pandangan mata dari kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-62 serta beberapa pendapat dan harapan pelajar Indonesia yang ada di Kota Karlsruhe, Jerman, tentang kemerdekaan Indonesia. Semoga dapat bermanfaat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-62!