Pengantar Redaksi
Apakah makna kemerdekaan bagi kita masyarakat Nias ? Pertanyaan ini kami kirimkan kepada sejumlah Ono Niha* yang bisa mengakses internet yang kurang lebih merupakan representasi dari masyarakat Nias yang mampu mengadakan permenungan tentang hal-hal seabstrak topik ini.

Pertanyaan ini kami kirim kepada para calon responden pada tanggal 13 Agustus 2007. Karena cukup mendadak, dan untuk memudahkan para calon responden, kami menyajikan sejumlah butir pemikiran yang akan menjadi bahasan, sebagai berikut:

  1. Apakah masyarakat Nias sungguh memahami arti kemerdekaan ?
  2. Apakah masyarakat Nias sudah merdeka dalam arti sesungguhnya ?
  3. Apakah kondisi saat ini akan mengantar Nias kepada gerbang “emas kemerdekaan” ?
  4. Bagaimana masyarakat Nias mengisi kemerdekaan ?
  5. Potensi-potensi apa saja yang perlu digali untuk mengentaskan
    masyarakat Nias dari keterpurukan ?
  6. Hal-hal lain yang belum tercakup dalam poin-poin di atas

Para calon responden diminta memilih salah satu atau beberapa dari poin di depan sebagai bahan dari “refleksi, komentar, kritik atau sorotan”.

Redaksi menerima 13 respons termasuk pendapat dari Yurius Nazara yang mengirim pendapatnya setelah membaca pengumuman Situs Yaahowu, dan Restu Jaya Duha yang pendapatnya disatukan dalam pendapat sejumlah mahasiswa Indonesia di Kota Karlsruhe, Jerman. Salah seorang responden, Postinus Gulö, selain mengirim pendapat singkat, juga mengirim artikel khusus berjudul: Memaknai 62 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Suatu Refleksi Bagi Masyarakat Nias.

Berikut adalah pendapat mereka yang diurutkan berdasarkan waktu Redaksi menerima email responden. (Red.-eh).

Ollyanus Yarman ZebuaAlumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung dan Behavior Modification Perfomer di Surya Prime Value Motivation Center, Jakarta.

Dalam buku Escape from Freedom karya Erich Formm menyatakan tatkala seseorang bertemu dan bergabung dengan orang lain sudah tidak ada kebebasan. Sebab setiap orang memiliki syarat-syarat [kebebasan] kemerdekaan sendiri. Selama 62 tahun RI telah merdeka, dengan segala pergolakkan politik, kemerdekaan dengan makna terdalam di dalam kehidupan masyarakat Nias masih sangat tipis. Kemerdekaan itu saya artikan sebagai ekspresi maksimal diri [personal atau komunal]. Buktinya: berapa banyak orang Nias yang duduk dalam pemerintahan tingkat I dan pusat? Berapa banyak dana dari negara yang disalurkan ke Nias dan pemotongan-pemotongan admnistrasi di tengah jalan? Kemerdekaan itu – dalam pengertian yang dalam – masih jauh dari yang sesungguhnya. Ini bukan pesimis karena kompetensi orang-orang Nias tidak bisa diragukan. Banyak yang berhasil bahkan ada yang menjadi duta besar negara RI. Mungkin ini terjadi karena rasa memiliki tanah kelahiran [Nias] masih sekedar kata-kata mutiara. Maka, saat ini mari kita bangkit dengan mengembangkan modal utama kita untuk mengisi kemerdekaan ini [1] internal: menumbuhkan kesadaran dan rasa dalam hidup bahwa semua orang Nias dimana pun adalah saudara kita [2] eksternal: memadukan kemampuan / kompetensi yang kita miliki masing-masing [3] Action : melakukan sesuatu yang riil buat Nias. Come and see what can you and we do, right now! No only words.

M. Yusuf Sisus alias Haogödödö Lömbu, Ketua Yayasan Peduli Muslim Nias, Jakarta
Alhamdulillah, Indonesia telah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Nias adalah bagian dari NKRI yang merdeka itu. Tetapi bila saya melihat Tanoniha, ternyata masih jauh ketinggalan dari daerah lainnya di Indonesia. Misalnya, sektor pendidikan, kalau ingin maju harus melanjutkan sekolah keluar Nias. Sektor lain yang sangat terasa adalah transportasi ke Nias belum selancar ke daerah lain. Lokasinya yang jauh dan biaya yang tinggi membuat Nias jadi terisolir. Makna kemerdekaan bagi Tanoniha adalah upaya memacu diri dalam berbagai aspek agar bisa setara dengan daerah lainnya. Kemauan orang Nias sendiri untuk maju harus tinggi dan harus diimbangi dengan dukungan dari luar, baik Pemda Sumatera Utara, maupun dari Pemeritah Pusat.

Postinus Gulö, Mahasiswa Filsafat Universitas Parahyangan Bandung
Salam Merdeka!
Kita, masyarakat Nias harus menyadari bahwa kita belum merdeka dalam arti sesungguhnya. Betapa tidak, dalam masyarakat kita, masih terjadi mentalitas “saling menjajah” dalam bentuk yang sangat tradisional dan banal: afökhö dödöda naso nawöda niha sitola mangalui gönia (kita iri jika ada saudara kita yang mampu mencari nafkahnya). Artinya, tidak membiarkan orang lain merdeka, bebas, kita malah mengekang, membatasi ruang gerak saudara kita sendiri. Mentalitas semacam ini – walau tidak semua – masih kita alami. Tak jarang masyarakat Nias yang menganut mentalitas fadönisa ahe, modöni tou awönia. Mengapa hal ini terjadi? Padahal, visi-misi kemerdekaan yang dicetuskan oleh Ir. Soekarno antara lain adalah persatuan, mencapai negara berdaulat, dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur!

Mentalitas semacam ini barangkali terjadi karena sebagian masyarakat Nias belum mampu melihat orang lain sebagai teman (socius), sebagai partner yang seharusnya saling mendukung, saling menguatkan, saling berusaha untuk menciptakan masyarakat Nias sebagai masyarakat yang penuh persaudaraan dan persatuan.

Selain itu, kita harus mengakui juga bahwa tidak sedikit masyarakat Nias yang belum memahami arti kemerdekaan secara sungguh-sungguh. Indikasinya? masyarakat Nias – walau tidak semua- belum menyadari bahwa untuk mengisisi kemerdekaan, kita harus berusaha mengeluarkan diri dari belenggu kemiskinan, belenggu keterbelakangan. Fakta di lapangan, tidak sedikit masyarakat Nias yang hanya duduk di warung (modao-dao ba lafo), arörö famai (menghabiskan waktunya untuk berjudi). Jadi, bukan bekerja demi keluarga, demi anak dan masa depan anaknya. Akibatnya, masyarakat kita tetap terperangkap dalam kemiskinan. Jika mentalitas masyarakat Nias masih dihinggapi mentalitas semacam ini, maka saya berani mengatakan bahwa kita, masyarakat Nias tidak pernah mencapai kemerdekaan sajati! Ironisnya, yang membuat kita demikian adalah kita sendiri. Potensi Nias itu banyak: bidang pariwisata, bidang pertanian, bidang pendidikan nilai (lewat agama), bidang perikanan. Semua bidang ini jika dikelola, baik oleh masyarakat Nias maupun oleh pemerintah daerah Nias di kedua Kabupaten, maka akan menghantar masyarakat Nias ke gerbang “emas kemerdekaan”.

P. Johannes Hammerle Mewakili Keluarga Museum Pusaka Nias, Gunungsitoli
Tanggal 6 Agustus 1945 Hiroshima, 8 Agustus Nagasaki, 10 Agustus Kapitulasi Jepang, 17 Agustus Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sejarah ini dan Kemerdekaan kita masih relatif baru diperbandingkan dengan sejarah para penghuni Gua Tögi Ndrawa sejak 12.000 tahun yang lalu. Dan masih ada peringatan sejarah lain lagi. Pada tgl. 12 Agustus 2007 di kota Semarang dirayakan HUT ke-602 kedatangan Sam Poo Tay Djien. (lihat KOMPAS, tgl. 13 Agustus 2007 halaman pertama).

Pertanyaan: Kapan akan kita merayakan HUT kedatangan atau kelahiran leluhur Ho di Nias?
Ho me mobörö, Ho ba mböröta.
Ho ba wobörö, woböröta Hia.

Entah namanya Ho atau lain namanya. Pokoknya sekitar 600 tahun yang lalu ada yang datang membawa kemajuan di Nias, sustainable development, sehingga agak berbeda kemajuan di Nias dan di Mentawei. Coba perbandingkan kemajuan pada waktu itu dengan kemajuan yang kita peroleh sekarang melalui BRR, GO dan NGO sejak tahun 2005. Selamat Hari Raya Kemerdekaan ke-62.

Drs. Antonius Gea, Dosen Universitas Bina Nusantara, Jakarta
Kemerdekaan lebih konkrit dimengerti sebagai kebebasan, dengan dua bentuk dasarnya, yakni “kebebasan dari” dan “Kebebasan untuk”. Bentuk pertama sifatnya negatif (tidak melakukan apa-apa), hanya menyatakan bahwa kita tidak dihambat dari luar (disebut juga kebebasan sosial). Bentuk kedua sifatnya positip (ada yang dilakukan), disebut juga kebebasan eksistensial (kemampuan yang dimiliki untuk melakukan sesuatu, seperti untuk menentukan diri sendiri dan apa yang mau diperbuatnya, untuk menentukan pilihannya di antara berbagai kemungkinan/pilihan yang ada, dsb).

Kita masih sangat kurang dalam keduanya. Yang sangat diperlukan adalah memahami kemerdekaan bukan lagi sebagai hal yang politis semata (bebas atau lepas dari jajahan bangsa lain) melainkan memahaminya atau memaknainya lebih sebagai upaya membebaskan diri dari berbagai belenggu, terutama mentalitas kita orang-orang Nias, yang menghambat kita untuk maju. Kalau kita mulai berhasil dalam hal ini maka dalam waktu bersamaan kita akan lebih mampu menggunakan potensi diri kita (berbagai sumber daya yang kita miliki) untuk membangun Nias ke arah yang lebih baik (lebih maju).

Para pimpinan di Nias beserta kaum terdidik dan berwawasan luas, baik yang tinggal di Nias maupun di perantauan, perlu bekerjasama melakukan sesuatu bagi kemajuan Nias ke depan. Pertama perlu adanya keinginan untuk itu, lalu ada niat atau komitmen, dan akhirnya muncul berbagai tindakan konkrit sebagai realisasi dari keinginan dan komitmen itu.

Terimakasih banyak kepada teman-teman semua, yang dalam salah satu cara dan bentuk, telah dan sedang serta terus melakukan sesuatu yang merupakan bagian dari upaya memajukan Nias yang kita cintai. Semoga rangkaian daya-upaya ini menjadi untaian kontribusi penting yang semakin berujung pada perwujudan Nias ke depan yang semakin maju. Salam.

Yurius NazaraPadang
62 tahun bangsa ini telah merdeka dari penjajahan. Merdeka berarti bebas dari tekanan, kemiskinan, keterbelakangan dan sebagianya. Pelan tapi pasti Nias yang sekarang tidak sama dengan keadaan Nias 62 tahun yg telah berlalu. Nias telah mengalami banyak perubahan, orang-orang pintar telah bermunculan yang ikut memberi pengaruh bagi bangsa dan negara. Pembangunan sudah mulai menyamai kota-kota lain di Indonesia, Pendidikan sudah sejajar dengan daerah lain meskipun kita sedang melakukan perbaikan-perbaikan, kebudayaan Nias mungkin sudah dikenal. Nias masih terus melakukan perbaikan diri dan harapan saya Nias mampu menciptakan lapangan pekerjaan. supaya tidak banyak pemuda-pemudi Nias merantau dan menjadi budak di kota-kota yang lebih maju dari kita…… Merdeka !

M. J. Daeli – Jakarta
Nilai kemanusiaan yang luhur dari kemerdekaan adalah kebebasan untuk menentukan nasib sendiri. Nilai ini harus dipegang dan dikembangkan oleh Masyarakat Nias – sebagai peribadi dan sebagai warga bangsa Indonesia, dalam menghadapi keterpurukan di masa kini, tantangan-tantangan , dan hambatan-hambatan masa depan.

Namun harus disadari bahwa kemerdekaan secara politik tidak bermanfaat apabila tidak terpenuhi kondisi: bebas secara ekonomi, bebas secara intelektual, dan bebas secara moral. Cita-cita kemerdekan Indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dengan pelaksanaan pembangunan.

Pembangunan yang yang manusiawi bukan hanya demi pembangunan berkelanjutan (sustainable development) melainkan pembangun demi kelangsungan hidup (sustainable lifehood). Karena itu, dalam setiap pelaksanaan pembangunan, pertimbangan skala prioritas dan unsur keadilan, serta partisipasi dan keterlibatan warga sangat penting dan strategis.

Dalam budaya masyarakat Nias, banyak nilai-nilai luhur yang dibutuhkan untuk menyemangati pelaksanan pembangunan, antara lain nilai “solidaritas” yang terkandung dalam salam Ya’ahowu. Pemupukan semangat Ya’ahowu oleh masyarakat Nias menumbuhkan keberanian untuk merasa optimis berdasar keyakinan bahwa yang pertama dan utama yang mengubah nasib sendiri adalah diri sendiri.

Dengan semangat Ya’ahowu, Masyarakat Nias mampu mengisi kemerdekaan secara aktif dalam sejarah kehidupan sendiri, dalam bermasyarakat dan bernegara.

Fidelis HarefaPalangka Raya-Kalimantan Tengah
Kemerdekaan Hanya Jembatan, Bukan Tujuan Akhir. Dalam Pidato Lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengulas kembali risalah yang pernah beliau tuliskan pada tahun 1933 tentang “politieke onafhankelijkheid, political independence“, yakni bahwa kemerdekaan itu adalah jembatan emas. Di seberang jembatan itulah kita sempurnakan masyarakat kita, menyusun masyarakat yang kuat, sehat, kekal, makmur dan penuh rasa damai serta keadilan.

Menurut saya, masyarakat Nias seluruhnya sudah sampai pada jembatan emas yang dimaksud. Akan tetapi, kalau mau jujur, saya berani mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat Nias belum menyeberangi jembatan tersebut. Masyarakat Nias masih tinggal di atas jembatan emas dan menonton segala peristiwa yang terjadi di seberannya. Untuk bisa menyeberang jembatan emas, masyarakat Nias membutuhkan pemimpin yang visioner, pendidikan yang memadai dan ekonomi yang tertata baik.

Dengan kata lain, sampai saat ini, masyarakat Nias belum menikmati buah dari kemerdekaan sejati, yang di dalamnya ada harmoni, solidaritas, keadilan, keberdayaan, kesetaraan dan kebersamaan. Masyarakat Nias baru sampai pada pada jembatan emas, tapi belum menyeberang; atau baru saja tiba di pintu gerbang, tetapi belum masuk ke dalam, masih tetap berdiri di pintu gerbang yakni kemerdekaan itu sendiri.

P. Metodius Sarumaha, OFM.Cap., Frankfurt – Jerman
Berkat pertolongan Allah yang mahakuasa, pada tanggal 17 Agustus 2007, kita memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 62. Kita sudah merdeka 62 tahun lamanya. Hal ini, bagi kita dapat menjadi alasan untuk bersyukur kepada Tuhan karena perlindungan dan penyelenggaraannya atas Negara dan Bangsa kita Indonesia, tetapi juga dapat menjadi alasan untuk bertanya kembali: apa makna kemerdekaan itu bagi kita sebagai orang Nias?

Bagi saya sebagai orang Nias, kemerdekaan itu bermakna sebagai sebuah kesempatan dalam waktu yang tersedia untuk memelihara kehidupan dan memperjuangkan kesejahteraan hidup, baik jasmani maupun rohani dalam semangat iman dan cinta kasih kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Dengan perkataan lain, bagi saya kemerdekaan itu adalah suatu karunia Allah dan sebuah tugas pengabdian.

Kemerdekaan sebagai suatu karunia akan semakin dapat kita dirasakan maknanya dalam hidup yang nyata, kalau kita sendiri dengan penuh tanggungjawab memelihara alam dan menjaga kebersihan lingkungan hidup; mewujudkan keteraturan dan kenyamanan; memberi dan menghormati hak orang lain.

Frans Zai, Mahasiswa Pascasarjana Filsafat – Pematang Siantar
Tanpa terasa, Indonesia telah mencapai 62 tahun. Memang hampir “tak terasa”, karena hingga kini makna kemerdekaan seakan menjadi kabur oleh berbagai penderitaan yang dialami oleh masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Nias.

Jauh di Pulau Nias sana, khususnya warga Nias yang hidup di pedalaman, barangkali tak ingat lagi apa itu kemerdekaan. Mereka masih bertanya dan berjuang bagaimana supaya mereka bisa mendapatkan minyak tanah untuk memasak, bagaimana supaya anak-anak mereka dapat bersekolah ke kecamatan atau ke kabupaten dengan situasi jalan yang berlumpur (dari desa ke kecamatan/kabupaten). mereka juga masih berpikir bagaimana cara supaya hasil pertanian mereka dapat mereka pikul ke pasar karena kendaraan tidak bisa masuk ke desa mereka.

Puteri-puteri Nias yang hidup di pedalaman sana juga bertanya soal kemerdekaan. Hidup sebagai “kelas dua” dalam keluarga membuat mereka senantiasa seakan wajib mendahulukan kaum pria yang telah lama dicap sebagai “kelas satu”.

Merdeka bagi mereka ini ibarat sebuah kehidupan di dalam mimpi: Dapat dilihat, namun tak dapat diraih.

dr. Victor Zebua, M. KesYogyakarta
Merdeka !

Ada dua elemen tradisi Nias yang meski secara de jure telah sirna, namun masih kental mewarnai alam pikir kita dalam mengisi kemerdekaan ini.

Elemen pertama adalah “sawuyu”. Sebagian kita masih menganggap dirinya bangsawan Nias yang cenderung memperbudak bangsanya. Sebagian lagi tetap bermental budak Nias yang ditakdir selalu ”numana”, tanpa mencoba berikhtiar dan berupaya memperjuangkan nasibnya sendiri. Elemen ini dapat diidentifikasi bila kita telusuri apa yang telah kita lakukan selama 62 tahun era kemerdekaan dalam membangun kepulauan Nias yang tersendat-sendat itu.

Elemen kedua adalah “binu”. Makrokosmos masyarakat Nias kita masih saja tradisional, yaitu “banua” eksklusif, bukan Nias komprehensif. Sehingga dalam makna konotatif kita cenderung tega “memenggal kepala orang” lain yang ada di luar makrokosmos banua kita di era kemerdekaan ini. Ini merupakan garis lanjut dari kondisi masyarakat Nias kuno, juga di era kolonial yang memudahkan kaum penjajah menerapkan politik “devide et impera” mereka.

Masyarakat Nias perlu bahu-membahu dan tolong-menolong dalam membangun kepulauan Nias dengan perpektif yang suprasistem makrokosmos banua, yaitu wawasan Nias komprehensif dan wawasan Nusantara integratif. Juga, melepaskan mentalitas budak maupun memperbudak orang lain.

Ya’ahowu !

Suwarta Zebua, M.Pd.Dosen Univeritas Negeri Yogyakarta – Yogyakarta
Rasanya, masyarakat Nias belum merasakan arti kemerdekaan sesungguhnya. Hal ini mungkin karena masyarakat Nias kurang merasakan beratnya berada dalam tekanan kolonialisme. Masyarakat Nias sepertinya hanya merasakan susahnya hidup (secara ekononomi) di jaman penjajahan dan kesusahan itu ternyata masih berlanjut hingga sekarang sehingga makna kemerdekaan itu belum menyentuh seluruh sendi kehidupan masyarakatnya. Gempa dan tsunami yang melanda Nias mungkin dirasa lebih berat dibanding hidup dalam masa penjajahan dulu.

Jadi, Nias masih perlu dimerdekakan kesadarannya akan hidup sebagai warga bangsa. Harapannya di Nias segera dilakukan penyadaran kemerdekaan itu melalui pembangunan infrastuktur di segala lini, bukan atas nama proyek tetapi demi pemerdekaan manusia yang sesungguhnya. Nampaknya infrastruktur ekonomi, budaya
dan pendidikan merupakan prioritas utama. Semoga … ??? dan MERDEKA!!!

* P. Johannes Hammerle OFM Cap., seorang imam Katolik, merupakan satu-satunya responden yang bukan “Ono Niha” tetapi sangat “dekat” dengan Ono Niha melalui berbagai usahanysa di bidang budaya Nias.

Facebook Comments