Menuju Kesejahteraan Umum

Oleh Pastor PAULUS TRI PRASETIJO, pr

“Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup.” (Amos 5:14 A)

KEMARIN, Negara Kesatuan Republik Indonesia tepat berusia enam puluh dua tahun dan seluruh bangsa Indonesia merayakan HUT kemerdekaan itu dengan hati yang penuh sukacita. Pada saat negara kita didirikan, para “bapak bangsa” mencanangkan bahwa tujuan dibentuknya negara kita ini, salah satunya adalah untuk menggapai kesejahteraan umum.

Memang pemerintahlah yang pertama-tama bertanggung jawab terhadap semua upaya pencapaian kesejahteraan itu melalui kebijakan-kebijakannya, tetapi pada akhirnya menjadi tugas bersama pemerintah dengan seluruh warga masyarakatnya. Peringatan HUT ke-62 ini merupakan kesempatan yang baik bagi kita semua untuk merefleksikan segala upaya itu. Kita menyadari bahwa pada masa kini kesejahteraan umum tersebut belum benar-benar tercapai secara merata, juga belum dinikmati oleh seluruh bangsa. Di sana-sini masih terdapat banyak “anak bangsa” kita yang masih hidup dalam suasana tidak sejahtera, bahkan amat menderita.

Dalam kitab Imamat 19:9-10 tercatat kalimat demikian: “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kamu sabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kau pungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu itu. Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kau petik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu, janganlah kau pungut, tetapi semuanya itu harus kau tinggalkan bagi orang miskin dan orang asing; Akulah Tuhan Allahmu.”

Nyata, bahwa semangat yang ada dalam kutipan kedua ayat tersebut adalah semangat untuk berbagi dengan orang lain, khususnya orang yang miskin dan orang yang berada dalam kesendirian serta terpinggirkan. Mengapa sisa-sisa hasil panen tidak dipungut saja, kemudian disimpan dahulu dan sesudah terkumpul dibagikan langsung kepada para orang miskin dan orang asing? Tidak demikian, sebaliknya Tuhan menganjurkan, agar orang membiarkan apa yang masih tertinggal untuk orang-orang yang membutuhkan. Dengan cara itu Tuhan hendak menghormati harga diri mereka yang miskin dan membutuhkan.

Kendati para orang miskin dan orang asing itu memungut bukan di tanah mereka sendiri, paling sedikit mereka telah berusaha untuk mendapatkannya dengan jerih payah mereka masing-masing. Mereka telah bekerja sesuai dengan keadaan mereka dan bukan sekadar menadahkan tangan, seraya meminta belas kasihan orang. Karena itu, kita semua perlu mengevaluasi program-program pemerintah seperti bantuan langsung tunai (BLT), bantuan operasional sekolah (BOS), pembagian kompor gas gratis dalam konversi minyak tanah ke gas, dan pelbagai operasi-operasi pasar.

Nabi Yesaya menyampaikan nubuatnya, bahwa Tuhan mengambil tempat untuk menuntut dan berdiri untuk mengadili bangsa-bangsa. Tuhan bertindak sebagai hakim atas tua-tua dan pemimpin-pemimpin umat-Nya. Ia berkata: “Kamulah yang memusnahkan kebun anggur itu, barang rampasan dari orang yang tertindas tertumpuk di dalam rumahmu. Mengapa kamu menyiksa umat-Ku dan menganiaya orang-orang tertindas?” (Yesaya 3 : 13-15).

Dengan bahasa masa kini kita pahami bahwa para pemimpin itu telah menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya untuk keuntungan diri sendiri, ,korupsi dan bertindak tidak adil terhadap orang-orang yang ada di bawah kekuasaan mereka. Padahal –sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yesus– orang yang ingin menjadi besar, ia diminta untuk melayani, dan orang yang ingin terkemuka, ia diminta untuk menjadi hamba (Markus 10 : 43-45). Teguran tersebut menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang yang memegang kendali pemerintahan dan kepemimpinan terhadap negara dan bangsa dituntut pertanggungjawabannya oleh Tuhan, karena Dialah Penguasa atas semua manusia di dunia ini.

Oleh sebab itu semua tindakan itu tidak terlepas dari pengamatan Tuhan yang Mahatahu, Dialah Pemerhati semua tindakan manusia, bahkan tindakan yang tersembunyi sekalipun. Sayang banyak orang tidak paham, tidak sadar, atau pura-pura tidak tahu, bahwa mata Tuhan mengamati semua tindakan manusia. Pada saatnya, Tuhan Allah menuntut pertanggungjawaban hidup kita semua, baik rakyat jelata maupun para pemimpinnya.

Bagi mereka yang dipercaya untuk menjalankan kekuasaan atas orang lain, entah anggota-anggota keluarga, bawahan, atau rakyat pada umumnya, berikanlah kesejahteraan hidup itu kepada mereka yang dipimpin dan dikuasainya. Sebab tidak sia-sia pimpinan dan kekuasaan itu dipercayakan kepada mereka. Namun jika kesemuanya itu lewat tanpa hasil dalam bentuk kesejahteraan bagi orang-orang yang berada di bawah pimpinan dan kekuasaan mereka, mereka tertuntut dan menerima hukuman di hadapan hadirat Tuhan Allah.

kita semua diminta untuk mencari yang baik dan bukan yang jahat, yang membangun dan bukan yang meruntuhkan, yang membawa kesejahteraan umum dan bukan yang menghadirkan kesengsaraan umum. Pada dasarnya setiap orang tahu mana yang baik dan mana yang jahat. Karena itu, lakukan yang baik, jangan yang jahat. Orang juga tahu, mana tindakan membangun dan mana tindakan yang meruntuhkan. Lakukan tindakan yang membangun dan jangan melakukan tindakan yang meruntuhkan.

Begitu pula orang tahu membedakan, makna membawa kesejahteraan umum dan menghadirkan kesengsaraan umum. Kerjakan pekerjaan yang membawa kesejahteraan umum dan bukan menghadirkan kesengsaraan umum. Mudah-mudahan dalam rangka peringatan HUT ke-62 Negara Kesatuan Republik Indonesia jalan pikiran semacam inilah yang menguasai kita semua, sehingga perkara-perkara yang baik saja yang kita lakukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita berharap bahwa pada tahun-tahun yang akan datang, kehidupan seluruh rakyat negeri kita sejahtera sebagaimana telah dicanangkan oleh para “bapak bangsa”. Amin.

Penulis, pastor Gereja Katolik, tinggal di Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 18 Agustus 2007

Komentari