Dalam beberapa kesempatan Pastor Johannes Hammerle, Direktur Yayasan Pusaka Nias, menyampaikan keluhannya akan defisit anggaran yang terus menghantui keberadaan Museum ini. Dalam kesempatan peresmian “Omo Laraga” di Kompleks Museum Pusaka Nias baru-baru ini, Hammerle mengungkapkan bahwa biaya operasional bulanan Museum rata-rata Rp. 40 juta sementara penghasilan hanya berkisar Rp. 10 juta. Pemasukan ini berasal dari karcis masuk kunjungan ke Museum (baca artikel: Dan…“Omo Niha” Itu Diresmikan di Situs Museum Pusaka Nias).

Kedua angka di atas menyiratkan dua hal. Pertama, kesinambungan operasional Museum Pusaka Nias cukup mengkuatirkan. Defisit sebesar Rp. 30 juta per bulan bukanlah jumlah yang kecil bagi ukuran sebuah institusi yang berada di daerah sekecil Nias. Artinya, dalam kondisi seperti sekarang, hanya menunggu waktu “yang tepat” sebelum Museum Pusaka Nias tinggal menjadi sebuah kenangan.

Kedua, bahwa Museum Pusaka Nias masih hadir dengan segala aktivitasnya hingga saat ini menunjukkan bahwa defisit sebesar Rp. 30 juta itu masih dapat ditanggulangi oleh pihak Museum Pusaka Nias.

Keluhan P. Johannes ini telah berlangsung cukup lama, sudah beberapa tahun. Itu berarti, defisit anggaran itu terus saja mengalir dari dana “cadangan” Museum. Dan seiring dengan waktu, dana “cadangan” itu tentulah akan menipis, dan bahkan habis, sehingga kekuatiran yang dikemukakan di depan bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

Itulah sebabnya kita menyambut baik keterbukaan P. Johannes tentang masalah pendanaan yang sedang dihadapi oleh Museum. Itu juga alasan mengapa kita menyambut baik uluran tangan Pemda Nias yang disampaikan oleh Bupati Nias Binahati Baeha SH dalam kesempatan peresmian Omo Laraga tersebut untuk mengalokasikan honor karyawan Museum Pusaka Nias dalam APBD Nias tahun mendatang. Semoga keterbukaan P. Johannes dan uluran tangan Pemda Nias ini meluputkan Museum yang kini menjadi salah satu “ikon” kota Gunugsitoli ini dari ketakberdayaan.

Sebenarnya dari segi kepentingan budaya, sangat wajar apabila uluran tangan datang juga dari Pemda Kabupaten Nias Selatan. Museum Pusaka Nias bukan hanya berkepentingan dengan pelestarian budaya Nias di daerah Utara, melainkan mencakup budaya Nias secara keseluruhan. Diharapkan Museum ini dan uluran tangan bersama kedua Pemda untuk membantu memikirkan kesinambungan operasionalnya menjadi semacam simbol “kebersamaan” kedua Kabupaten yang bersaudara itu.

***
Keterbukaan Museum terhadap pendanaan dari luar, khususnya dari Pemda Nias (dan Pemda Nisel) tentu juga mengandung berbagai konsekuensi. Hal ini tidak perlu berkonotasi negatif, tetapi justru sebaliknya. Masukan-masukan dari pihak Pemda di kedua kabupaten melalui dinas-dinas yang terkait perlu diakomodasi oleh Yayasan Pusaka Nias (YPN), lembaga yang mengelola Museum ini. Kerjasama dengan Lembaga Budaya Nias (LBN) juga perlu dipertimbangkan oleh YPN. Dan kalau keterlibatan Pemda Nias dan Nisel dalam pendanaan semakin besar, maka wajar sekali bahwa Pemda Nias dan Nisel memikirkan secara sungguh – sungguh masa depan (atau kesinambungan berbagai aktivitas budaya yang dilakukan oleh) Museum ini, termasuk misalnya memikirkan koordinasi aktivitas YPN dan LBN.

***
Benar sekali apa yang disampaikan dalam berita peresmian Omo Laraga itu, bahwa “Pastor Johannes sebagai pemrakarsa Museum itu tidak mungkin membawanya ke Jerman.”

Ini berarti persiapan pengalihan kegiatan Yayasan dan Museum kepada “generasi penerus” pada suatu masa kelak sudah harus mulai dipikirkan sejak sekarang oleh pihak Yayasan Pusaka Nias, khususnya P. Johannes. “Generasi penerus” yang dimaksud adalah person – person yang sedang atau akan dipersiapkan secara matang untuk mengambil alih pengelolaan kegiatan Yayasan dan Museum ketika “generasi masa kini” mengakhiri masa pengabdiannya. Hal ini barangkali masih cukup lama, katakanlah 10 – 15 tahun ke depan, tetapi perlu dipikirkan sejak sekarang, sehingga tidak terjadi “kevakuman” kelak. (brk)

Facebook Comments