Beberapa bulan terakhir ini kita menyaksikan kehadiran blog-blog Nias meramaikan dunia maya. Sampai tulisan ini diturunkan, ada sekurang-kurang 20 (dua puluh) situs/blog dengan atribut “Nias”, yakni situs/blog yang dihadirkan oleh Ono Niha. Barangkali fenomena ini bisa masuk dalam rekor MURI.

Mengapa blog-blog Nias semakin ramai saja ? Ada beberapa alasan yang dapat kita kemukakan. Munculnya piranti lunak gratis untuk pembuatan situs atau blog seperti WordPress, Blogger, Multiply dan lain-lain yang juga menyediakan ruang gratis (meski masih terbatas) membuat setiap orang bisa dengan mudah berpublikasi di dunia maya tanpa mengeluarkan uang kecuali untuk ongkos pemakaian internet di rumah atau di warnet. Alasan lain tentu saja adalah keinginan untuk menunjukkan eksistensi di dunia maya. Alasan lain lagi adalah hobi atau keinginan memanfaatkan media untuk misi tertentu, atau sekedar ikut-ikutan, dan segala macam alasan lain.

Apa pun alasannya, kita menyambut baik gejala ini: gejala semakin meleknya Ono Niha akan media komunikasi “baru” ini.

Hingga sekitar 5 tahun yang lalu, berpublikasi di dunia maya masih merupakan barang luks yang hanya tersedia bagi orang-orang tertentu yang memahami seluk beluk pemrograman web atau yang bersedia mengeluarkan uang untuk membayar perancang web. Kondisi itu kini sudah sangat berubah: kini setiap orang bisa menghadirkan eksistensinya di dunia maya, dengan biaya yang semakin terjangkau oleh siapa saja. Dan melalui usaha dari sejumlah Ono Niha yang kebetulan “melek” internet, eksistensi “Nias” semakin dikenal luas di seantero dunia.

Bagaimana kita memaknai gejala ini ? Ini baik, ini kemajuan; kemajuan yang berarti proses bergerak ke arah depan.

“Kehadiran” di dunia maya itu memang harus diisi – diisi dengan informasi, artinya hal-hal informatif tentang Nias. Akan tetapi tentunya kita tidak boleh sembarang mengisi, apalagi karena situs-situs/blog-blog itu membawa-bawa nama “Nias”, “Ono Niha”: Nias Island, Yaahowu, Museum Pusaka Nias, Nias Post, BNKP, Yayasan Peduli Muslim Nias, Indonias, Telukdalam, Nias Barat, Nias Bangkit, ONKP, Nias Island Today. Daftar di atas masih ditambah lagi dengan blog-blog pribadi dari teman-teman kita Ono Niha, di antaranya: Catatanku (Yus Waruwu), Goresanku (Frans Zai), Five Harmony (Fidelis Harefa), Amoretvita (Deivine Signor), Krismendrofa.com (Kris J. Mendrofa).

Sekali lagi, fenomena “banjir” informasi Nias di dunia maya patut kita sambut baik, tetapi dengan beberapa catatan. Yang pertama adalah kesinambungan. Kita berharap bahwa kahadiran ini bukan hanya musiman tetapi berkesinambungan. Hal ini memang terkait sumber daya yang tersedia dan aspek pengelolaan. Karena semua dijalankan secara “sukarela”, masalah kesinambungan ini selalu menghantui kita semua.

Masalah kedua adalah masalah “tanggungjawab” kita, baik selaku pengelola maupun pengunjung. Dari sisi pengelola situs, tentu saja mereka berusaha menyajikan hidangan-hidangan terbaik yang mampu mereka “masak” di dapur redaksi masing-masing. Dan sejauh yang dapat kita amati, sejumlah situs sudah memiliki “hidangan khas”. Bagi saya misalnya, tiada hari tanpa melihat “Si Fabewe-bewe” yang merupakan hidangan khas sajian Bung Yosafati Hulu, Nias Island. Museum Pusaka Nias misalnya mengkhususkan diri menyajikan hasil-hasil karya Pater Johannes Hammerle tentang Budaya Nias. Yayasan Peduli Muslim Nias misalnya berspesialisasi pada berita-berita yang terkait dengan saudara-saudari kita masyarakat Muslim Nias.

Ketiga, antusiasme menampilkan informasi tentang Nias jangan sampai “kebablasan”. Misalnya saja, hal-hal yang bersifat sangat pribadi tidaklah perlu “diumumkan” kepada publik. Kita mengamati misalnya ada blog Nias yang mencantumkan tanggal lahir, golongan darah, alamat rumah, nomor telefon sejumlah orang. Kecuali kalau yang bersangkutan telah menyatakan persetujuannya, data macam ini tidak selayaknya dipublikasikan, dan bisa-bisa menimbulkan konsekuensi hukum di masa mendatang. Di sejumlah negara publikasi data semacam itu dilarang keras dan pelanggarnya bisa terjerat pasal-pasal tentang “privasi” seseorang.

Sebuah situs/blog dapat diibaratkan sebagai halaman depan dan ruang-ruang dalam rumah yang ingin diperlihatkan kepada “pengunjung”. Segala yang ditampilkan dalam situs akan turut memberi citra tertentu tentang Nias kepada pengunjung, khususnya pengunjung yang bukan Ono Niha.

Mari beramai-ramai menampilkan wajah Nias yang ceria di dunia maya. (brk)

Facebook Comments