Oleh Pdt. Ciptomartalu Sapangi

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawab dia, “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus,”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8 : 10, 11)

BANYAK orang mengalami kegagalan dalam usaha dan hidupnya di dunia ini. Kegagalan dialami oleh siapa saja, baik orang dewasa maupun anak kecil, orang kaya juga orang miskin, orang terdidik juga orang yang sederhana, orang berjabatan juga orang biasa. Hal ini terbukti dengan orang-orang yang berkeluh kesah akibat usahanya bangkrut, ikatan pernikahannya berantakan, studinya di perguruan tinggi kacau-balau, jabatannya di lembaga tertentu dicopot, putus cinta dengan pacarnya, dan lain-lain. Ada pelbagai macam sikap terhadap kegagalan-kegagalan itu, misalnya orang termenung, kebingungan, dan tak tahu lagi akan berbuat apa dalam kehidupan ini, orang marah-marah terus di lingkungan keluarganya, orang menyalahkan pihak-pihak lain dan juga menyalahkan Tuhan, bahkan ada juga orang yang mencari jalan pintas dengan cara bunuh diri.

Memang kegagalan membuat hati orang yang mengalaminya merasa sedih, kecewa, dan putus asa. Mereka merasakan betapa hidup ini gelap, buntu, dan tertutup. Mereka meraba-raba dan berusaha di tengah celah-celah yang serbasempit, mencari kemungkinan untuk mendapatkan jalan keluar. Ketika mereka gagal mendapatkannya, cemaslah hati mereka untuk menghadapi masa depan, baik diri mereka sendiri, terlebih keluarga mereka. Ucapan “besok bisa makan atau tidak, dari mana uang untuk membayar sewa rumah, uang sekolah anak, biaya pengobatan dan rumah sakit, juga untuk membeli tambahan pakaian agar jangan `ji-nggo ji-pe’ (satu dipakai satu dijemur)”. Kesemuanya merupakan ucapan yang sering terdengar dari keluarga yang tengah gagal dalam mencari nafkah. Tentu kenyataan itu juga membuat hati orang lain iba dan pilu.

Kegagalan tak harus bersangkut-paut dengan perkara besar, kadang kala disebabkan oleh perkara sepele, tetapi dirasakan oleh orang yang bersangkutan sebagai perkara besar, misalnya seorang siswa sekolah dasar akibat dimarahi oleh ibunya nekat gantung diri; gara-gara gagal meminjam uang seribu perak menganiaya orang sampai tewas; gagal mendapat pekerjaan karena lamarannya ditolak banting setir menjadi perampok; dan sebagainya. Pendek kata, kegagalan dalam suatu usaha membuat orang menjadi gelap mata dan menyimpang dari jalan hidup yang benar. Itulah peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat kita hingga hari ini. Oleh karena itu, alangkah indahnya jika kita selaku sesama warga masyarakat yang berhasil dalam kehidupan ini, seyogianya menolong mereka yang mengalami kegagalan itu. Lalu para orang yang gagal dalam usaha dan kehidupan ini punya pengharapan untuk bangkit dari kegagalan mereka.

Bagian Alkitab dengan dua ayat di atas berkisah tentang seorang perempuan yang kedapatan berzina dan dihadapkan kepada Tuhan Yesus dengan ditonton oleh orang banyak. Menurut hukum orang Yahudi, perempuan itu harus dihukum mati (Imamat 20 : 10; Ulangan 22 : 24). Demikian juga para ahli Taurat dan orang Farisi mengharapkan agar Tuhan Yesus menyatakan sikap-Nya dengan menghukum mati perempuan tersebut. Namun, apa yang kemudian terjadi? Tuhan Yesus berkata :”Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaknya ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yohanes 8 : 7). Kemudian hening sejenak, lalu bubarlah kerumunan orang banyak meninggalkan-Nya, berdua saja dengan perempuan yang tidak berdaya itu. Berikutnya terjadi percakapan antara Tuhan Yesus dengan perempuan itu, yang menyatakan, bahwa orang banyak tidak menghukumnya. Tuhan Yesus juga tidak menghukum perempuan itu dengan pesan agar ia tidak berbuat dosa lagi mulai dari saat itu.

Dengan tindakan tersebut, Tuhan Yesus telah menolong perempuan itu dari kegagalan hidup akibat melakukan dosa-dosa asusilanya. Ia gagal karena tidak menjaga kekudusan dirinya, sebaliknya ia melanggar norma hukum Tuhan. Namun, pengampunan Tuhan Yesus telah mengangkat perempuan tersebut dari lembah kenistaan dan memercayainya untuk menempuh kehidupan yang baru dengan cara tidak berbuat dosa lagi. Sungguh pengampunan itu merupakan air sejuk yang disiramkan ke dalam kegersangan jiwanya.

Dalam praktik kehidupan di tengah masyarakat, kita sering menjumpai betapa sikap orang justru menindas dan mengimpit orang yang mengalami banyak kegagalan hidup. Orang miskin yang terjerat riba lintah darat ditagih habis-habisan. Gadis yang terjerumus dalam lingkaran perdagangan perempuan dicaci maki oleh keluarganya. Mahasiswa yang gagal studi di perguruan tinggi dicemoohkan oleh dosennya di kampus. Siswa sekolah dasar yang orang tuanya tak mampu membayar uang sekolah dihina oleh teman-temannya. Alih-alih menolong mereka sebagai orang-orang yang mengalami kegagalan, justru mereka makin ditenggelamkan dalam suasana keputusasaan. Mereka sudah jatuh tertimpa tangga pula. Oleh karena itu, dapatkah kita bersikap seperti Tuhan Yesus dengan mengangkat perempuan yang mengalami kegagalan dalam menjaga kekudusan hidupnya? Mudah-mudahan kita merasa terpanggil untuk menolong mereka yang mengalami kegagalan, baik kegagalan ekonomi, sosial, kesusilaan, maupun pengamalan keyakinan. Apa pun jenis kegagalan mereka sepatutnya kita menjadi para penolongnya.

Marilah kita mengupayakan untuk menolong mereka yang gagal dengan cara. Pertama, kita periksa apa yang menjadi penyebab kegagalan seseorang dalam usahanya. Tolonglah ia untuk mengetahui penyebab kegagalan dan tunjukkan cara mengatasinya.

Kedua, bangkitkan motivasi yang kuat dalam diri orang yang gagal itu untuk memiliki pengharapan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

Ketiga, marilah kita memiliki sudut pandang yang positif bahwa setiap orang sebenarnya dikaruniai Tuhan dengan potensi-potensi untuk berhasil dalam setiap usahanya. Tolonglah mereka memberdayakan potensi-potensi pada diri orang yang gagal itu.

Jika kita melaksanakan pesan-pesan ini, terasalah adanya solidaritas di tengah masyarakat terhadap mereka yang mengalami kegagalan dalam usaha dan kehidupan ini. Amin.***

Penulis, pendeta Gereja Kristen Indonesia, Jln. Pasirkaliki Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 4 Agustus 2007

Facebook Comments