SEJAK bertemu kembali medio Oktober 2004 dengan etnomusikolog Rizaldi Siagian, Hikayat Manaö tak bisa tidur nyenyak. Pasalnya, seniman Nias ini mendapat amanat dari Siagian menciptakan musik batu untuk konser multimedia Megalitikum dan Kuantum, Kompas Musik Indonesia yang dijadwalkan akhir Juni 2005 di Jakarta merayakan hari lahir ke-40 Harian Kompas.

PADA konser itu Siagian bertindak sebagai music director. Niatnya, memajankan musik yang hidup dari zaman batu ke masa modern, tapi merupakan kekayaan daerah di seantero Nusantara, untuk kemudian ditanggapi dengan teknologi bunyi dan elan kekinian. Era Megalitikum dalam konteks ini diwakili Nias, wilayah dengan artefak megalitik mengagumkan yang sebagian tersua di belahan selatannya.

Musik batu. Batu musik. “Itu yang terus bergema dalam kepala saya,” kata Hikayat yang menggubah 40-an lagu Nias, menempa instrumen perkusi dari bambu, batang kelapa, kayu, dan kulit, serta mahir memetik gitar. “Tapi, apa itu musik batu?”

Bersama istrinya, Murnihati Wa’u, dan empat anak mereka, Hikayat tinggal di Bawömataluo. Inilah desa di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, yang masih merawat dengan baik tari perang Falluaya yang kolosal, nyanyian kanonik Ho-ho yang koral dan puitik, instrumen jigu dan ndruri dana yang masing-masing menghasilkan empat nada, sampai seni pahat famajokhi adu.

SERATUSAN rumah dengan arsitektur Nias Selatan masih terpelihara di desa itu. Pekarangan bersama mereka berupa bidang Euclidean dengan ribuan batu tertata rapi. Rumah Hikayat berada di sudut jalan, hanya beberapa meter dari pusat desa. Diketukinya batu-batu di pekarangan itu dengan pemukul kayu. Bunyinya sama. Ke mana harus mencari batu yang bunyinya macam-macam untuk bisa menganyam melodi?

Hutan tak jauh dari desa. Ia menuju utara, memasuki belantara, menanjaki tanah berbukit yang licin di musim hujan. Lahir 12 Juni 1958 di Bawömataluo. Tinggal di sana sampai lulus SMP, menjalani masa interupsi di Gunungsitoli hingga selesai SMA, Balige, Pematangsiantar, Medan, dan Jakarta sampai 1985.

Kembali dan bermukim di Bawömataluo hingga kini, Hikayat tak mengenal kawasan itu dengan baik. Setengah jam kemudian ia terperangah sebab menemukan pagar batu yang cukup panjang. Ini rupanya pembatas desa yang dihikayatkan turun-temurun, “Namun, kami belum melihatnya, apalagi peneliti arkeologi yang pernah datang.”

Spontan ia berseru ke arah pagar dalam bahasa Nias yang artinya, “Oh, leluhurku, aku baru mendapat amanat untuk menemukan musik batu. Pernah kudengar kalian leluhurku memilikinya. Tunjukkanlah batu bermusik kalau cerita yang kudengar itu benar.”

Batu-batu itu membisu. Hikayat lelah, duduk di atas sebongkah batu tak jauh dari pagar itu. Tanpa sengaja ia mengetuk pemukul dari batang kelapa pada tempat ia duduk. Bunyinya lain dengan tetangganya. Dicabutnya dari tanah, batu itu berbentuk huruf C. Nadanya, setelah ditala dengan garpu bertona D yang selalu ia kantongi, sol.

Bila Archimedes berteriak “Eureka, eureka” menemukan gejala berkurangnya berat benda yang dicelupkan ke dalam fluida, Hikayat memeluk batu itu, menangis, berterima kasih kepada leluhurnya, “Feta batu, fa feta-feta batu.” Dalam bahasa Nias feta ’denting’, fa feta-feta ’berdenting-denting’.

Sejak itu ia terus mencari batu di sana. Sampai kami bersama Rizaldi Siagian, Dwiki Dharmawan, dan pemetik bas Asril dari Gunungsitoli mengunjunginya November lalu, Hikayat sudah menemukan lima batu bernada. Ketiga pemusik ini asyik berkolaborasi memukul batu-batu itu sampai menemukan komposisi. Hikayat dan beberapa penyanyi Ho-ho menanggapinya dengan syair Nias.

Kelima batu tidak menghasilkan tangga nada diatonis. Ada beberapa yang frekuensinya kurang sekian hertz. “Saya harus melengkapinya sampai tujuh,” kata Hikayat yang kemudian ditanggapi Siagian dengan, “Kau tak boleh terpaku dengan do-re-mi-fa-sol-la-si, kau bisa menciptakan skalamu sendiri.”

Kalau begitu, kata seniman yang mementaskan Falluaya di Tokyo (1992) bersama rombongan pimpinan Rizaldi Siagian dan Den Haag (1994), “Saya coba kumpulkan batu yang berdenting bagus. Dari suara yang kacau akan timbul pola, tangga nada baru.”

MEMENANGI Pesta Budaya IV Nias (1988) dengan lagu ciptaannya, Kofe-kofe, dan Pesta Budaya V Nias (1990) dengan lagu Mame Asu, Hikayat tak belajar musik secara akademis. Gitar dikenalnya di Balige pada masa belianya.

Masuk di Institut Kesenian Jakarta sebatas pendaftaran, itu pun di Jurusan Seni Rupa. Namun, semasa di Jakarta, ia sempat merekam dan menyanyikan sembilan lagu ciptaannya berbahasa Nias.

Pengetahuan musik baru ia dapat saat mengikuti lokakarya Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta (1987) di Gunungsitoli. “Sejak itu saya membaca banyak buku keluaran PML,” kata Hikayat yang mengajar kesenian di sekolah menengah di Bawömataluo (1989-1990) dan sampai sekarang memimpin paduan suara di gerejanya, BKPN.

Hari-hari ini Hikayat tak punya pekerjaan tetap, tapi apa pun supaya dapur mengepul ia kerjakan. Di Pematangsiantar dulu ia penjaga toko sepatu. Di Jakarta 20 tahun lalu ia menyablon di sebuah percetakan. Di Bawömataluo sekarang, Hikayat bertani, beternak, menata dan menjahit gama-gama, pakaian tradisional Nias. Sesekali ia memahat.

Kalau pekerjaan itu bisa mengatasi dapur untuk satu bulan, katanya, “Baru saya bisa melanglang selama satu minggu ke wilayah yang enggak masuk-masuk akal, entah bikin lagu, membuat alat musik, melukis. Jadi, waktu bagi saya adalah modal untuk berkesenian.”

Hasil melanglang itu antara lain jadi duta budaya Nias ke mancanegara, lagu-lagu untuk rekaman bagi penyanyi-penyanyi Nias, kidung rohani berbahasa Nias, instrumen musik inovasinya sendiri, dan wakil Kabupaten Nias dalam musyawarah seniman se-Sumatera Utara di Pematangsiantar (1983) dan Medan (1984).

“Setiap menciptakan lagu, selalu ada imajinasi yang mendorong saya untuk mengaitkannya dengan dinamika tari-tari Nias,” kata Hikayat yang baru menggubah komposisi paduan suara, Kabupaten Nias Selatan.

Kini masa melanglang itu akan dia isi untuk menata musik batunya dan memikirkan komposisi yang tepat untuk hasil tataan nanti. Itulah yang akan dia bawakan akhir Juni 2005 pada konser 40 tahun Kompas dalam semangat kolaborasi dengan Rizaldi Siagian, Dwiki Dharmawan, dan beberapa musikus lain.

“Kalau Hikayat berhasil nanti, karyanya akan dinamakan musik leluhur sebab ia meminta dari leluhur kami,” kata Dasa Manaö, adik kandungnya, yang sarjana etnomusikologi.

Musik batu, ya musik leluhur. (SALOMO SIMANUNGKALIT)

Sumber: Kompas, 23 Desember 2004

Facebook Comments