Oleh Pdt. Em. HADA ANDRIATA

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Galatian 6 : 7)

DI sebuah kampung, tinggal seorang Bapak berusia lima puluh tahunan, dia sendirian saja. Orang sekampungnya tak jelas benar siapa dan berasal dari mana dia. Orang ini sangat terkenal di kampungnya, bukan karena ia kaya, berpengaruh, atau dermawan, melainkan karena ia berperilaku paranoid. Ia memiliki sikap mencurigai orang lain secara berlebihan. Karena itulah, ia dikenal dengan sebutan Bapak Curiga. Sebenarnya ia belum lama tinggal di kampung itu, baru kira-kira tiga tahun. Namun, amat sering terjadi pertengkaran dalam kurun waktu tersebut dengan orang-orang yang dijumpainya. Banyak kasus telah terjadi. Pada suatu hari, tetangga dekatnya lewat di pekarangan rumahnya, Bapak ini langsung menegurnya, “Mau apa kamu lewat sini, ada yang akan kamu ambil ya?”. Wah, siapa pun pasti marah dituduh demikian. Pada kesempatan lain, ia melihat dari jauh sekelompok orang sedang berbicara satu sama lain, ia pun mendatangi mereka dan bertanya, “Hai, kalian sedang membicarakan diriku ya?”. Rupanya Bapak yang satu ini merasa menjadi bahan pembicaraan mereka, padahal mereka berbicara tentang harga-harga sembako yang naik drastis. Berikutnya, Bapak ini berhari-hari tak keluar rumah karena sakit dan orang sekampungnya merasa perlu menengoknya. Mereka membawa makanan dan buah-buahan. Bapak Curiga bukannya berterima kasih, tetapi malah berkata, “Kalian datang menengok aku pasti ada maunya. Jangan harap aku membalas budi kalian”. Wah, kelewat benar kecurigaan orang ini, padahal orang sekampungnya dengan tulus menengok dia. Sejak saat itu, tak ada orang yang mau berkomunikasi dengan Bapak Curiga ini.

Sekali waktu, Bapak Curiga keluar dari rumah. Saat melewati jalan sempit, yang di sebelahnya ada tebing dengan kolam yang cukup dalam di bawahnya, ia terpeleset dan jatuh ke dalam kolam itu. Para orang kampung yang sedang lewat mengetahui ia meronta-ronta di dalam air, namun tak seorang pun bersedia menolongnya. Mereka berpendapat sama, bahwa menolong Bapak Curiga percuma saja, toh ia akan menuduh ini dan itu. Bersyukur pada saat itu ada seorang polisi yang juga lewat dan menolongnya keluar dari kolam, namun Bapak Curiga dalam keadaan pingsan.

Begitulah maksud ayat yang tertulis di atas, apa yang ditabur orang, itu juga yang dituainya, menunjuk kepada keadaan semacam itu. Peringatan ini disampaikan berkaitan dengan sikap orang di hadapan Allah dan dalam hubungannya dengan sesama. Pada dasarnya manusia memerlukan sesamanya. Hari ini orang lain memerlukan kita, esok atau lusa ganti kita yang memerlukan orang lain. Silih berganti saling menolong, itulah sikap hidup yang semestinya kita jalin dalam pergaulan di tengah masyarakat. Karenanya, usahakan agar kita senantiasa membuka hubungan baik dengan semua orang. Seorang musuh terlalu banyak dan seribu orang teman terlalu sedikit, begitu pepatah kuno mengajarkannya kepada kita.

Memang Allah Sang Pencipta menciptakan manusia dalam suasana tidak sendirian. Juga tidak membedakan berdasarkan gender (kelamin), keluarga, etnis, bahasa, status sosial, tingkat pendidikan, dll. Mereka semua adalah orang-orang lain di samping kita. Kita tinggal di tengah keluarga dengan pribadi-pribadi yang ada hubungan darah dengan kita; orang tua dan anak, kakak dan adik, juga sanak famili. Kita tinggal di tengah masyarakat dengan tetangga di kanan kiri dan depan belakang rumah kita. Kita bekerja dengan teman-teman sejawat di kantor, pasar, terminal, pabrik, atau tempat kerja kita yang lain. Kita bersekolah dalam hubungan yang baik dengan para guru, teman-teman sekelas, dan sesama sekolah. Lakukanlah kerja sama yang baik dengan siapa pun dan di mana pun kita berada. Pendek kata, kehidupan kita makin bervariasi justru karena ada orang-orang lain di sekitar kita. Lantas kita pun saling menabur benih asah, asih, asuh satu sama lain dan menuai suasaan damai sejahtera dalam kehidupan ini. Bukankah perkara-perkara itu yang kita dambakan? Mudah-mudahan kita tidak membiarkan kesempatan indah ini lewat, selagi kita masih hidup di dalam dunia.

Sayang sekali selama ini bukan benih-benih yang baik yang ditabur orang di tengah masyarakat, melainkan justru benih-benih yang jelek. Akibatnya, kita sendiri juga yang menuai perkara-perkara yang tidak baik, misalnya persengketaan, kekerasan, saling tuding kesalahan, baku hantam, sikap berpihak-pihak, dll. Terlalu banyak masalah yang muncul di tengah masyarakat sehingga banyak waktu, tenaga, pikiran, dan dana yang terbuang sia-sia. Padahal kesemuanya itu kita butuhkan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat agar lebih aman dan nyaman. Untuk mengatasinya, kita harus menghentikan semua praktik kehidupan bermasyarakat yang buruk dan mengubahnya dengan praktik yang baik. Taburlah benih hubungan baik dengan siapa pun agar kita menuai persaudaraan antarwarga; taburlah benih kasih sayang antaranak bangsa, agar kita menuai kesatuan dan persatuan bangsa; taburlah benih simpati di tengah pergaulan antargolongan, agar kita menuai perdamaian dengan orang-orang dari golongan lain.

Bagaimana secara konkret kita hendak mewujudkan perkara-perkara ini? Ayat firman Tuhan di atas mengandung dua amanat.

Pertama, jika kita mengaku memiliki Allah, berhati-hatilah, agar kita tidak mempermainkan Dia. Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Jangan permainkan Dia dengan meremehkan hukum dan perintah-Nya. Jangan permainkan Allah dengan menganggap Dia tidak tahu apa-apa tentang perbuatan kita. Taburlah benih ketaatan kepada Tuhan dan firman-Nya agar kita menuai kasih dan kemurahan-Nya

Kedua, jika kita meremehkan Allah dan tidak menghormati-Nya, waspadalah sebab Dia mampu menghancurkan, tidak hanya diri pribadi kita, tetapi juga keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia ini. Karena itu, taburlah benih penghormatan kepada-Nya, agar kita menuai pemeliharaan dan anugerah-Nya sepanjang hidup kita.

Menuai yang kita tabur, mendorong kita untuk mencermati jalan hidup kita masing-masing sehingga kita kedapatan memiliki sikap hidup yang benar. Amin. ***

Penulis, Pendeta Emeritus Gereja Kristen Pasundan Jemaat Awiligar Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 28 Juli 2007

Facebook Comments