Seekor jangkrik bertengger di atas selember daun pisang kering. Di atas kepala jangkrik tertera sebuah tulisan:Bisnis Jangkrik – Bisnis di Masa Krisis. Gambar dan tulisan tersebut terpampang di halaman depan sebuah tabloid terbitan kota tempat saya tinggal. Gambar seekor jangkrik yang diperbesar dengan tulisan pendek tipe khas iklan masa krisis tentu saja menarik perhatian saya. Maka, tanpa berpikir panjang, bahkan juga tanpa terlalu terusik dengan uang di kantong yang jumlahnya tinggal sedikit, saya menyambar satu eksemplar tabloid tadi.

Di dalam angkot yang menuju daerah tempat saya tinggal, saya mulai membuka halaman tabloid tadi. Luar biasa, gairah dan semangat hidup saya tiba-tiba bangkit kembali. Informasi dalam tabloid tadi sangat meyakinkan saya bahwa ternyata saya bisa bangkit dari hantaman krisis. Saya tidak harus menjadi seorang pengusaha kelas kakap untuk meraih uang dalam tempo yang relatif singkat. Cukup dengan beberapa ekor jangkrik sebagai modal awal, dan dengan mengikuti semacam pelatihan yang diadakan oleh Asosiasi Para Pengusaha Jangkrik (Aspengkrik), saya akan segera keluar dari krisis ini. Apalagi, menurut informasi yang disajikan dalam tabloid tadi, saya juga bisa meraih kesempatan menjadi eksportir jangkrik ke mancanegara.

Saya agak menyesali diri, karena hantaman krisis telah membuat saya sempat kehilangan kepercayaan akan kemampuan diri, merasa kehilangan harapan akan masa depan yang agak cerah. Syukurlah, tabloid tadi bukan saja memberikan informasi tentang bisnis jangkrik, tetapi juga semacam resep agar saya bisa tetap tegar dalam mengahadapi gejolak hidup, terutama sebagai akibat langsung dan tak langsung dari krisis. Jadi saya menemukan semacam “resep” untuk, meminjam istilah Brata, “Mempersepsi Realita Secara Baru”[1]. Kalau sebelum ini saya sangat anti dengan jangkrik yang kadang-kadang mengganggu tidur saya karena bunyinya yang melengking di tengah malam, kini hal itu berubah. Kini saya menganggap bunyi lengkingan jangkrik sebagai lengkingan penggetar semangat dan gairah saya untuk bangkit dari keterpurukan.

Malam harinya, ketika jangkrik berbunyi melengking, saya mengambil senter, lantas menuju lokasi di mana jangkrik melengking. Berbekalkan pengalaman sebelumnya untuk “menundukkan” jangkrik, didukung oleh semangat yang menggebu untuk segera menjadi pebisnis jangkrik, dalam waktu yang relatif singkat saya berhasil menangkap jangkrik. Biasanya selain senter, saya membekali diri dengan martil kecil atau benda keras lainnya untuk meremukkan kepala jangkrik. Kali ini, saya tidak membawa martil, tetapi sebuah kantong plastik. Ketika jangkrik tertangkap, saya memasukkannya ke dalam kantong plastik.

Saya sangat puas. Baru tadi sore saya terekspose dengan informasi tentang bisnis jangkrik, dan malamnya saya sudah memiliki modal: seekor jangkrik. Sebenarnya berapalah harga seekor jangkrik … Paling seratus perak. Tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama saya bukan hanya akan memiliki seekor, melainkan ratusan, bahkan ribuan, bahkan ratusan ribu, ekor jangkrik. Tabloid memberikan berbagai informasi tentang cara mengembangbiakkan jangkrik, alamat Aspengkrik, dan yang lebih penting: PAKET PEMULA JANGKRIK. Artinya, saya tidak harus pusing tujuh keliling mencari bibit jangkrik, melainkan saya cukup memesan PAKET PEMULA yang juga mencakup beberapa pasang jangkrik unggulan (JANGGUL) dan buku petunjuk pengembangbiakan dan bisnis jangkrik yang telah disusun oleh TIM PAKAR JANGKRIK. Ah … ternyata semudah itu … keluar dari krisis …

Keesokan harinya, selagi membaca koran di kantor, aku mendapat telepon dari sahabat lamaku: Pak Kus. Beliau dulu bekerja di kantorku, tetapi selalu mengeluh dengan gaji pas-pasan sebagai pegawai negeri. Maka dia secara suka rela mengundurkan diri dan mulai menggeluti berbagai usaha. Sejak mengundurkan diri dua tahun yang lalu, Pak Kus telah menekuni beragam macam usaha penyaluran: mulai dari penyaluran bahan pangan, penyaluran minuman kesehatan, penyaluran bibit cacing, buah mengkudu, susu kuda liar, dan terakhir, nah ini dia: penyalur bibit unggul jangkrik. Pak Kus juga ternyata Ketua Ranting Aspengkrik di sebuah kecamatan.

Saya sedikit cemburu, dan merasa “kecil” dalam pembicaraan dengan Pak Kus di telepon. Dia selalu membandingkan penghasilannya sekarang dengan penghasilannya dua tahun yang lalu ketika masih di kantor saya. Tetapi biarlah, demi masa depan yang lebih baik, saya menahan diri, saya menarik napas dalam-dalam untuk mengekang emosi saya yang meledak-ledak karena Pak Kus bernada meledek saya. Biarlah …

Akhirnya saya mengikuti saran Pak Kus: menjadi anggota Aspengkrik tetapi menolak menjadi penyalur jangkrik seperti Pak Kus. Pak Kus sudah mewanti-wanti bahwa menjadi petani jangkrik lebih susah, lebih enak jadi penyalur jangkrik, karena, mengutip kata-kata Pak Kus di telepon: “Jadi penyalur lipat ganda untungnya, Pak. Kalau jadi peternak susah …”. Tetapi saya bersikeras untuk menjadi peternak jangkrik, toh informasi sudah ada. Maka saya membeli PAKET PEMULA dari Pak Kus, dan mengikuti pelatihan jangkrik yang diselenggarakan oleh Aspengkrik.

Beberapa bulan kemudian … setelah mengerahkan segenap tenaga, waktu, ketegaran, dan kesabaran … jumlah jangkrik saya berlipat ganda. Aku bangga dengan “hasil jerih payah” saya: jangkrik-jangkrik yang sehat, berminyak kulitnya, melengking indah suaranya. Ada tetangga yang mulai cemburu, tetapi tidak sedikit yang mengikuti langkah saya: menjadi peternak jangkrik. Maka jadilah desa saya desa jangkrik.

Menjelang panen raya jangkrik, telepon di kantorku berdering. Ah, ternyata Pak Kus.
Pak … maaf Pak, untuk sementara kami tidak menerima dan menyalurkan jangkrik. Pasar lokal sudah jenuh.” papar Pak Kus pada saya.
Tapi dulu katanya ada rencana ekspor jangkrik …” kataku penasaran.
Kata siapa Pak …” Pak Kus bertanya.
Di tabloid diinformasikan seperti itu …,” kataku setengah berteriak.
Aduh … tentang itu saya tidak tahu Pak … Kan dulu saya bilang, sebaiknya Bapak jadi penyalur jangkrik saja …

Remuk rasanya tulang-tulang ini … “Aku dikerjai …” gumamku. Oleh tabloidkah ? Oleh para pakar jangkrik-kah ? Oleh buku-buku resep mengenai “cara keluar dari krisis”-kah ? Saya masih penasaran dengan pesan seorang Pakar Jangkrik dalam tulisannya dalam tabloid dan juga dalam pelatihan yang diselenggarakan Aspengkrik: [Anda ingin keluar dari krisis ? … Kiranya bisnis jangkrik bisa menolong Anda] Kalimat pendek pakar jangkrik inilah yang memukau saya sehingga saya terjun ke dalam dunia jangkrik ….

Lalu saya mulai “berhitung”: berapa orang korban seperti saya ? Berapa banyak waktu yang disia-siakan oleh para korban ? Berapa orang tiba-tiba muncul menjadi “pakar” di atas “kepolosan” penyerapan informasi oleh para korban yang tak berdaya, yang mudah terpukau, yang mudah “tertular informasi kabur” seperti saya ?

Bagaimana saya harus “mempersepsi secara baru” kejadian yang menimpa diri saya ? Dengan membuat makanan dari bahan jangkrik ? Dengan membentuk kelompok musik jangkrik ? Orang yang berulang kali menjadi “korban” seperti “saya” dalam tulisan ini rasa-rasanya tidak begitu mudah “mengambil jarak” dengan kenyataan pahit yang dialaminya, apalagi punya “persepsi baru” tentangnya.

Dan, sebagaimana pengamatan P. Raymond Laia dalam tulisannya di forum ini, persepsi orang terhadap segalam macam hal di Indonesia memang telah berubah, tetapi bukan ke arah yang kita cita-citakan. Jadi, kita belum beranjak dari persoalan: “Mengapa orang memiliki persepsinya sendiri tentang sesuatu hal ?”; dan dari pengamatan P. Raymond, kita bisa melihat persoalan baru: “Mengapa bangsa Indonesia seperti sudah pasrah sehingga menerima sebagai hal yang normal berbagai praktek yang secara moral tidak dapat dibenarkan ?”. Mengapa kita seolah ingin menghindar dari persoalan dengan “mempersepsi realitas secara baru” ?

E. Halawa*

*Tulisan ini muncul dalam Nias Community Forum, 22 Agustus 2002.
[1] Brata: “Mempersepsi Realita Secara Baru” dalam Nias Community Forum.

Facebook Comments