FREIBURG, Jerman – Rolf Disch memanen energi surya di kotanya, Freiburg, dimulai dari rumahnya sendiri.

disch

Rumahnya berbentuk pesawat luar angkasa Apollo yang terbalik, dan berfungsi sebagai lahan uji bagi ide-ide arsitek surya berusia 63 tahun ini. Rumahnya secara perlahan berputar mengikuti arah matahari untuk mencas panel surya berukuran papan reklame yang dipasang di atap, sementara toilet tanpa air memancarkan aroma minyak wangi.

Istrik Disch, Hanna Lehmann, berkata ia tidak berkeberatan dengan ide suaminya namum mengakui bahwa ia merindukan sebuah kulkas; sayangnya ini akan mengkonsumsi energy listrik dalam jumlah banyak.

“Aku merindukan es krim Campari”, katanya.

Disch dan kota Freiburg adalah perintis penghematan energi. Jumlah ekoturis yang datang untuk mengagumi rumahnya – yang disebut Heliotope (kata Yunani untuk “surya” dan “berputar”) – semakin bertambah. Sepanjang jalan di kota Frieburg, panel-panel surya terpasang di mana-mana, dari stadion sepak bola hingga ke rumah-ruamh yang memproduksi energi melebihi yang mereka konsumsi.

“Di masa lalu energi terlalu murah bagi sebagian orang untuk memikirkannya secara serius, tetapi dengan naiknya harga-harga energi dan keluarnya laporan IPCC, masyarakat melihat bahwa solusi akan kelangkaan energi harus mulai dicari dari sekarang.”. IPCC (U.N.’s Intergovernmental Panel on Climate Change) adalah Panel Antarnegara PBB untuk Perubahan Iklim. IPCC telah mendokumentasikan bukti-bukti ilmiah tentang pemanasan global. (Baca: Aktivitas Manusia Sangat Mungkin Menjadi Penyebab Pemanasan Global)

Dengan fokus pada energi surya, Freiburg mendemonstrasikan kemajuan yang dapat dicapai dengan mempromosikan, mengembangkan dan menggunakan energi terbarukan. Akan tetapi kota yang berpenduduk lebih dari 200,000 orang yang terletak di pojok barat daya Jerman ini juga merupakan contoh ril dari seberapa jauh teknologi pada sektor energi surya harus berpacu – di Frieburg energi surya baru menyumbang 1% dari kebutuhan energi listrik.

Penduduk Freiburg dengan bangga bercerita bahwa sejarah tenaga surya Freiburg berawal dari suatu protes pada tahun 1975 untuk menolak kehadiran stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

“Mereka (penduduk Freiburg) tidak mau kehadiran tenaga nuklir di daerahnya,” kata Thomas Dresel dari Badan Perlindungan Lingkungan.

Protes tersebut juga memancing minat para ahli untuk mengembangkan solusi-solusi alternatif, kata Dresel. Daerah itu sekarang memiliki lebihd ari 900 instalasi surya dan menjadi tempat “mangkalnya” institusi-institutsi penelitian ternama dan perusahaan-perusahaan yang berusaha menjadikan energi terbarukan lebih praktis.

Pada tahun 1981, di Freiburg berdiri Institut Fraunhofer untuk Sistem-Sistem Energi Surya dan menyusul kemudian sejumlah fasilitas pendukung. Kini Fraunhofer mempekerjakan 500 orang dan merupakan institute reiset energi surya terbesar di Eropa.

Jerman sebagai keseluruhan telah mengikuti jejak Freiburg untuk mencoba menghemat energi, yang didorong oleh Partai Hijau yang ‘ramah’ lingkungan yang menjadi bagian dari koalisi pemerintah sebelumnya di bawah Kanselir Gerhard Schroeder. Tahun 2000 Jerman memutuskan untuk menghentikan pengoperasian pembangkit-pembangkit tenaga nuklir pada tahun 2020, dan telah mengopsi undang-undang yang mempromosikan pengembangan dan penggunaan sumber-sumber energi terbarukan.

Pada tahun 2006 energi terbarukan telah mencapai lebih dari 5% dari pasokan energi promer Jerman, demikian menurut Kementrian Lingkungan. Sasaran pemerintah adalah meningkatkan persentase tenaga listrik dari energi terbarukan menjadi 12.5% pada tahun 2010 dan 20% pada tahun 2020.

Energi angin masih merupakan sumber utama listrik dari energi terbarukan di Jerman, namun energi surya juga telah meningkat menjadi sekitar 750 MW pada tahun 2006, suatu peningkatan berarti dari 83 MW pada tahun 2002, menurut Asosiasi Industri Surya Jerman.

Industri surya kini telah menjadi bisnis bernilai 6 miliar dolar pertahun yang membangun lebih dari 50% panel surya terpasang di berbagai dunia. Sekitar 43,000 orang bekerja di industri ini, kata Asosiasi Industri Surya Jerman.

Pemerintah Federal Jerman telah menyuntikkan dana sekitar 1.75 miliar dolar untuk riset fotovolteik sejak 1990an.

“Jerman memimpin dalam teknologi surya, sebagian besar stasiun pembangkit surya diinstalasi di sini dan yang lebih penting lagi, diproduksi di sini,” kata Carsten Koernig, kepala Asosiasi Industri Surya Jerman. “Dan ini merupakan faktor penting, karena negara-negara lain akan mengikuti, lantas kami ingin mensuplai pasar dengan laju pertumbuhan yang tinggi ini dengan teknologi surya ‘buatan Jerman’”.

Di Freiburg pemerintah mulai mendorong penghematan energi pada tahun 1986 sebagai “reaksi langsung” atas bencana nuklir Chernobyl pada tahun yang sama. Pemerintah kota Freiburg dan para ilmuwan telah bekerja sama secara baik sejak itu, kata Karin Schneider, jurubicara Fraunhofer Institute.

Setiap tahun lebih dari 6 bulan matahari bersinar cerah di sini, “tetapi sebenarnya tidak masalah, apakah kita di sini atau di bagian eropa yag lain”, kata Dresel.

Meskipun sebagian besar penduduk Freiburg masih tinggal pada rumah-rumah tradional dengan atap genting, rumah-rumah yang dibangun di distrik Vauban yang direnovasi harus mengikuti standar “energi-rendah”. Ini termasuk kaca jendela setebal tiga kali lipat sebelumnya dan dinding-dinding dengan bahan alami yang dikompres – ini semua menghasilkan energi yang dibutuhkan. Ini akan meningkatkan biaya pembuatan rumah sekitar 15%, kata Disch.

Rumah-rumah tipe “pasif” ini dibangun di daerah dengan pembatasan yang ketat pada lalulintas mobil. Sejumah yang sinis menyindir pemandangan dari panel-panel surya yang dipasang pada suatu garasi modeil. Namun umumnya penduduk Freiburg telah menerima budaya energi terbarukan.

Perusahaan arsitektur Disch berada dalam “Kapal Surya”, perpaduan bangunan hunian dan komersial dengan aprtemen-apartemen “energi plus” hasil rancangannya. Apartemen-apartemen tersebut yang terletak di bagian atas “Kapal Surya” menghasilkan energi empat kali kebutuhan.

Bangunan pusat pembuat panel surya Solar-Fabrik memperlihatkan sebuah façade fotovolteik dan sebuah generator yang menggunakan bahan bakar “minyak sayur” yang memenuhi seluruh kebutuhan energi dari bangunan tersebut.

Perusahaan daya Badenova mengatakan sekita 10% pelanggannya kini memilih membayar lebih mahal untuk mendapatkan energi terbarukan.

Inisiatif lain memadukan teknologi surya dan aktivitas olah raga. Sehabis bermain, Tim sepak bola Freiburg mandi dengan air yang dihangatkan oleh panel-panel pemanas air yang dipasang pada atap-atap stadion. Tim memberikan tiket musiman kepada para investor dalam projek tersebut.

Panel-panel lain di stadion tersebut menghasilkan uang dengan memasuk energi listrik ke grid dan dibiayai oleh kemitraan tim lokal SC Freiburg dan Badenova, yang menawarkan saham publik dalam projek tersebut.
Dari seluruh ikkhtiar kota Freiburg untuk menggunakan energi surya, Dresel mengakui bahwa matahari baru menyumbang 0.74% dari pasokan energi listrik di kotanya.

“Untuk saat ini masih sangat kecil, tetapi aspek kualitatif sangat kuat,” kata Dresel. Ini akan menciptakan momentum untuk masa depan.

Energi terbarukan di Freiburg menyumbang sekitar 4% dari keseluruhan produksi energi. Kota Freiburg telah memasang target 10% energi terbarukan pada tahun 2010. Freiburg telah mematok beberapa kebutuhan “energi rendah” untuk para pembeli rumah.

Yang sangat menolong adalah Akta Sumber-Sumber Energy Jerman pada tahun 2001 yang mematok harga yang “merangsang” untuk energi terbarukan yang dipasok ke grid, harga ini dinaikkan lagi pada tahun 2004. (Artinya, kalau Anda memproduksi energi terbarukan lebih dari kebutuhan Anda, sisanya Anda bisa pasok ke grid dan energi yang Anda pasok dibayar dengan harga yang tinggi. Ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pemasangan sistem-sistem energi terbarukan).

Namun Disch mengeluh, di kota yang merintis energi terbarukan, ia masih harus ekstra kreatif untuk mendapatkan dana untuk membiayai projek-projeknya. “Memang makin berkurang kesulitannya,” katanya, “tetapi masih berat.”

Sumber: Yahoo News, 19 Juli 2007

Keterangan gambar: Arsitek Jerman Rolf Disch berdiri di atas atap Sonnenschiff, atau Kapal Surya (Solar Ship), gedung pusat masyarakat Freiburg, Jerman selatan, 18 Mei 2007. Sonnenschiff, yang diracnang oleh Disch, dibangun pada tahun 2004 dan memperoleh daya seluruhnya dari energi terbarukan. (AP Photo/Winfried Rothermel)

Facebook Comments