Oleh: Heru Martinus

Hallo semua,

Saat ini saya mau share sedikit mengenai pengalaman saya studi di Jerman, baik mulai dari persiapan, maupun waktu menjalankannya. Mungkin, bisa menjadi bahan masukan sebagai dalam pertimbangan buat temen2 semua yang mungkin punya rencana studi di luar negeri.

Pertama-tama saya mau sedikit kenalin ttg diri saya. Saya, Heru, lulusan dari Universitas Atma Jaya, jurusan Teknik Elektro, angkatan 99.

Saya berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi lanjutan master. Awalnya saya juga hanya tahu, ingin studi lanjutan yg cukup murah, dan lumayan berkualitas. Dan akhirnya memutuskan ke Jerman, dan gak tahu mau cari ke kota mana.Saya cuma tahu kalau saya mau lanjutin kuliah di jurusan Elektro atau Informatik.

Dan dengan modal sedikit tekad dan sedikit ambisi (ini agak hiperbolis sih…. :-D), dan sedikit modal bahasa jerman pas2an (les bahasa Jerman super dasar 😉 ) , dan sedikit modal untuk ke warnet, cari2 info, akhirnya saya berhasil menemukan website http://www.das-ranking.de/che8/CHE yang mendaftar kualitas uni2 terbaik di Jerman, yg tentunya gak 100% bisa dipercaya (karena pada dasarnya kualitas universitas-universitas di Jerman hampir sama rata, karena dimodali oleh pemerintah), tapi paling tidak, ini bisa jadi referensi buat saya yang waktu itu masih buta total tentang kondisi di Jerman. Dan akhirnya jatuhlah keputusan untuk kuliah di Universitas Karlsruhe. Biarpun pilihan ‘dah dijatuhkan, tapi sayangnya studi di Atmajaya masih berjalan :-p, jadinya masih terus berusaha lulusin kuliah di Indonesia, dan juga kursus bahasa. Dan, tentu saja menabung.

Saya mendaftar dengan sertifikat bahasa Jerman ZMP (Zentrale Mittelstufenprüfung), dan ijazah dari Atmajaya dengan nilai pas2an. Untuk pendaftaran, saya dibantu temen. Singkat cerita, akhirnya saya diterima. 🙂 Gott sei Dank (=syukur kepada Tuhan).

Dan tiba masa2 deg2an apply visa. Yang akhirnya setelah 6 minggu, akhirnya dapet juga tuh Visa yang dibutuhkan.

Sesampai di Jerman meskipun bermodal ZMP (tingkat menengah, yang seharusnya dah cukup tinggi), ternyata begitu sampai, saya kalang kabut dengan bahasanya…. heheheh… maklum, agak dodol dalam hal bahasa… Belum lagi adanya perbedaan kultur yg cukup besar yang membuat berbagai perasaan muncul bercampur aduk. Takut, ketidakpastian, ingin berusaha, semangat, sedih, dsb…. Tapi, untungnya masih ada Tuhan yang selalu memberikan pertolongan dan pimpinanNya dalam masa2 adaptasi ini.

Disingkat lagi ceritanya, akhirnya mulailah saya bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, dari sisi kultur, maupun bahasa. Proses ini tentunya gak singkat, perlu beberapa bulan, kadang2 ada juga orang2 yang perlu 6-12 bulan. Ada juga yg hanya beberapa minggu, tentunya berbeda2. Buat saya pribadi, syukur kepada Allah yang menyediakan temen2 persekutuan yg bener2 jadi sumber kekuatan buat saya, secara moral, maupun secara psikologis.

Dan karena keterbatasan dana support dari ortu, mulailah saya nekad dengan bahasa jerman pas2an, saya apply kerjaan di universitas, yg pada saat itu masih sedikit orang indonesia yang saya kenal yang pernah apply kerjaan seperti itu (yg disebut HIWI (Hilfskraft der Wissenschaftler)). Syukur sekali lagi kepada Allah yg selalu memelihara. Saya dengan bahasa Jerman pas2an, dikasih kerja di universitas itu. Dengan gaji pas2an, jadilah saya mulai membiayai studi saya sedikit demi sedikit (sebenernya biaya hidup sih :-D).

Ada sedikit yang mau saya share mengenai belajar di Jerman ini. Di Indonesia, kecenderungan saya adalah belajar, yang penting bisa lulus, bahkan cenderung gak belajar. Sayangnya di Jerman ini, rumus itu gak berlaku. Dengan masalah bahasa, ditambah bahan yang biasanya cukup seabrek-abrek (banyak banget), mau gak mau saya untuk pertama kalinya menyediakan waktu 2 minggu bahkan satu bulan sebelumnya untuk mengikuti sebuah ujian…

Dan sampai akhirnya sekarang studi saya sudah hampir selesai, dengan di antaranya sempat sibuk kerja di dapur, sampe akhirnya sekarang kerja2 sambilan di kantoran, saya dah bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri, sepenuhnya.

Singkat kata, yang mau saya tekankan. Memang studi di Jerman gak mudah, tapi memungkinkan. Studi di Jerman memang berat, tapi bisa dilalui. Yang paling penting menurut saya adalah, jelas bagi kita kenapa mau ke Jerman, dan apa yang mau dikejar. Jangan cuma supaya sok keren2an. Tapi harus jelas kalau kita mau studi. Tapi apa yg mau dicapai. Dan syarat2 lain tentunya menyusul kalau dah punya dasar tersebut. Seperti siap hidup susah, siap berjuang, siap hidup sebagai orang rendahan, siap kerja keras.

Kalau itu dah punya, don’t worry, tinggal ambil langkah pertama. Untuk step2nya, tentunya berbeda2 setiap orang dgn yg lainnya, tergantung status studi terakhir, dan program studi yang mau diambil. Tapi kalau masalahnya adalah dana, menurut saya gak perlu kuatir. Asal punya dana tiket ke Jerman (dulu sekitar 4-5 jt) dan sedikit kebaikan dari tetangga sekitar untuk jaminan keuangan, dan plus dana 1-2 bulan di Jerman (sekitar 6-10 juta tergantung gaya hidup). Cari info tiket termurah dan bukan disaat musim libur panjang, dimana tiket bisa puluhan juta rupiah harganya. Dan yang gak kalah penting adalah, koneksi, kenalan yang bisa bantu kita untuk masalah paling utama. Biaya terbesar adalah cari dan menyewa tempat tinggal…. 🙂

Namun kenyataannya, pergumulan aku soal dana lebih pada saat hidup di Jerman, bukan sebelum berangkat.

Setelah itu, dengan sedikit tekad, kemauan, dan “keberuntungan” (dgn kata lain, pemeliharaan dari Allah), kita pasti bisa bertahan hidup kok di Jerman ini.

Mengenai biaya studi, jangan terlalu kuatir, karena relatif murah jika dibandingkan dengan kuliah di Jakarta. 1 semester biasanya sekitar 500€, coba bandingkan di Jakarta, yang biasanya sekitar 4-5 jt per semester, tapi tanpa kejelasan apa yang dipelajari.

Yah, untuk sementara, itu aja dulu pengalaman yang bisa saya bagikan. Maaf kalau kurang bisa lebih detil lagi. Tapi buat yang pengen tahu lebih detilnya, silahkan hubungi secara pribadi per email melalui redaksi. Pastinya kalau bisa saya bantu, akan diusahakan dengan senang hati.

Salam,

Heru Martinus
München-Jerman

Facebook Comments